Sering Kali “Ghosting”, Politikus Tak Lagi Penting

“Nuansa perjuangan para pemuda untuk rakyat masih besar. Keikhlasan juga menempel pada setiap tindakan. Akan tetapi, ketika melihat politikus ingkar janji dan sering melakukan “ghosting”, ketakpercayaan itu akhirnya muncul.”


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Sinyal-sinyal ketakpercayaan muncul dari kalangan pemuda. Kali ini, ketakpercayaan itu tertuju pada para politikus. Hasil survei Indikator Politik Indonesia melaporkan 64,7 persen pemuda menilai partai politik atau politikus di negeri ini tidak terlalu baik atau tidak baik sama sekali dalam mewakili masyarakat.

Dengan memakai random sampling, Indikator Politik Indonesia mengambil 1.200 responden berusia sekitar 17-21 tahun. Survei ini memiliki margin of error 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Begitulah kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, saat merilis survei ini. (cnnindonesia.com, 22/3/21)

Menengok Politikus Masa Kini

Para pemuda berani memilih demikian bukan tak beralasan. Jika menengok perpolitikan hari ini, tampak yang langgeng hanyalah kepentingan. Ada politikus yang mudah sekali pindah haluan, mulai dari warna kuning, hijau, biru, merah, hingga putih dicoba semua. Tergantung partai apa yang sedang memimpin saat itu.

Tak ketinggalan kasus korupsi yang senantiasa menghiasi layar televisi atau media lainnya. Politikus-politikus berpangkat didapati melakukan kecurangan. Mulai dari korupsi, kolusi, hingga nepotisme.

Pada akhirnya, “berhasil” mengangkat +62 menjadi negara nomor 102 di dunia dengan Indeks Persepsi Korupsi 37. Sebelumnya, pada 2019, IPK Indonesia adalah 40 dengan peringkat 85. IPK skala 0 berarti terkorup, sedangkan skala 100 berarti paling bersih. (kompas.com, 28/1/21)

Baca juga:  Naik "Ranking" Lagi. Mungkinkah Indonesia Bebas Korupsi?

Sudah menjadi rahasia umum, menjadi politikus masa kini butuh uang selangit. Ratusan juta bahkan miliaran rupiah dihabiskan demi meraih dukungan dan menjadi pemenang. Ketika duduk di kursi dewan atau menjadi pimpinan, segala macam kesempatan dimanfaatkan untuk mengembalikan modal. Ada yang membuka membuat undang-undang (UU) hingga kebijakan pesanan. Memang ada politikus yang jujur, tapi jumlahnya dapat dihitung jari.

Upaya saling menjatuhkan pun tak jarang terjadi. Jegal menjegal lawan dianggap hal wajar. Seperti opera tikung menikung partai politik yang saat ini ada. Kegaduhan politik di mana-mana. Kabarnya hingga sampai mancanegara. Maka, wajar saja para pemuda tak banyak menaruh harap pada para politikus. Bisa jadi karena pemuda saat ini juga sudah enggan berpolitik karena mereka tersibukkan dengan tugas dan gelar akademik.

Demi Kepentingan atau Rakyat?

Tak terasa 87 tahun negeri ini merdeka. Namun, sinyal-sinyal kemajuan belum juga terlihat. Situasi memang semakin modern, tapi perpolitikan negeri ini sepertinya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pemilu seperti rutinitas bagi para politikus. Saat ritual sakral demokrasi itu berlangsung, ribuan janji terucap melalui bibir-bibir mereka. Namun, ketika menduduki kursi kekuasaan, mereka tak lagi mewakili suara rakyat. Mereka sibuk memenuhi kantong dengan pundi-pundi. Sampai-sampai ada juga yang jualan undang-undang pesanan. Pesanan siapa? Bukan pesanan rakyat jelata pastinya. Siapa lagi kalau bukan para pemandu sorak saat pemilu. Hari ini mana ada makan siang gratis.

Baca juga:  Kemiskinan dan Demokrasi

Melihat rakyat hanya sebagai “ampiran”, tentu akan membuat jenuh pemuda. Apalagi di usia mereka memiliki gairah kebenaran. Nuansa perjuangan untuk rakyat masih besar. Keikhlasan juga menempel pada setiap tindakan. Akan tetapi, ketika melihat politikus ingkar janji dan sering melakukan ghosting, ketakpercayaan itu akhirnya muncul.

Politikus Sejati Lahir dari Sistem Ilahi

Lingkungan yang baik akan melahirkan politikus baik. Lingkungan buruk akan melahirkan politikus rakus. Pernyataan itu sepertinya benar. Dalam sistem kapitalis saat ini, semua dinilai dengan uang dan materi. Tak heran jika para politikus akhirnya menggunakan rupiah sebagai alat kemenangan. Meskipun mereka adalah politikus jujur, tetap butuh harta untuk membiayai jalan menuju kekuasaan.

Sejak kecil, tanpa disadari beberapa dari kita telah dididik untuk mementingkan hasil tanpa melihat proses. Sekolah harus juara, lomba wajib jadi yang terbaik. Orang tua akhirnya mendidik dengan landasan materi. Ketika lulus sekolah harus dapat kerja.

Begitu pun suasana di sekolah, perlombaan prestasi menjadi ajang tahunan. Para pendidik sibuk menilai murid dengan nilai. Minim sekali menanamkan pendidikan keagamaan. Pola pemikiran sekuler ditransfer dengan mulus di pendidikan formal.

Dukungan negara pun tak luput membentuk kepribadian politikus. Negara yang menerapkan aturan buatan manusia seperti demokrasi, membuat politikus memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi keinginannya. Suara terbanyak yang dianut dalam rapat demokratis hanya memenangkan kuantitas. Tak melihat apakah kuantitas itu benar atau salah.

Baca juga:  Demi Tangani Corona, Rp59 Triliun Dana Desa Disunat. Bagaimana Gaji Pejabat?

Oleh karena itu, untuk melahirkan politikus andal, kita butuh lingkungan yang mendukung. Apalagi kalau bukan Islam? Mulai dari tiga pilar penjaga, yakni keluarga, masyarakat, dan negara. Ketiga pilar ini harus saling menguatkan.

Keluarga menjadi madrasatul ula yang mendidik anak tumbuh dengan berkepribadian Islam. Masyarakat sebagai kontrol sosial juga dapat mengawasi tindakan yang dilakukan politikus, apakah melanggar hukum syariat atau tidak. Juga peran negara dengan menerapkan Islam di seluruh aspek. Semua ini akan menutup kemungkinan si politikus berlaku curang.

Selain itu, Islam telah memberikan definisi yang jelas tentang politik. Mengurusi urusan rakyat adalah makna politik dalam Islam. Jadi, para politikus sejati akan menyadari keberadaan mereka sebagai pelayan rakyat. Mereka adalah pembawa aspirasi rakyat, bukan pembawa kepentingan pribadi.

Dari sini, politikus yang suka ghosting pada rakyat jelas tidak akan mendapat tempat. Mereka pun akan melakukan aktivitas politiknya dengan dilandaskan pada keimanan. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *