[News] Pengamat: Anak Muda, Pahami Islam Politik dan Khilafah Agar Tidak Tersesat

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK — Survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis bulan Maret 2021 menyatakan, mayoritas anak muda menilai persoalan radikalisme mendesak untuk segera ditangani pemerintah.

Dilansir dari republika.co.id, diketahui hasil survei sangat mendesak sebesar 12.9% dan mendesak sebesar 36.5%. Sementara, 24,1% anak muda menilai pemerintah tidak adil terhadap umat Islam. Mereka menganggap radikalisme hanya ditujukan kepada umat Islam saja. Survei tersebut dilakukan terhadap 1.200 anak muda di tanah air.

Pengamat politik dan dunia kampus, drg. Hj. Luluk Farida menegaskan, survei ini bertendensi mendiskreditkan Islam dengan framing bahwa Islam dan umat Islam adalah sumber radikalisme.

Hal ini tampak dari pertanyaan yang diajukan: “Menurut Anda, seberapa mendesak persoalan radikalisme di kalangan umat Islam Indonesia untuk segera ditangani oleh pemerintah?”

Menurut Hj. Luluk, jika membaca survei ini secara keseluruhan, terdapat pertanyaan mengenai masalah yang paling penting untuk diselesaikan oleh Indonesia saat ini. Hasilnya, tidak ada satu pun anak muda yang menjawab radikalisme agama. Bahkan, tiga hal tertinggi dari permasalahan yang paling penting untuk segera diselesaikan adalah terkait penyelesaian pandemi Covid-19, krisis ekonomi, dan kemiskinan.

“Seolah mau mengalihkan persoalan utama negara yaitu kegagalan sistem sekuler demokrasi dalam menyelesaikan masalah Covid-19 dan mewujudkan kesejahteraan, survei ini menggiring pada framing radikalisme Islam, seolah Islam sebagai sumber masalah bangsa yang mendesak untuk diatasi,” urai Hj. Luluk.

Baca juga:  Dakwah Ramah untuk Halau Radikalisme?

Respons jawaban dari para anak muda (pemuda) dalam survei ini akhirnya memperlihatkan kebingungan mereka dalam membaca persoalan utama bangsa, yang berdampak pada kebingungan tuntutan solusinya.

Para pemuda terlihat tidak memahami hakikat politik yang benar, mana peran negara dalam mengurusi rakyat dan mana peran rakyat dalam memastikan pengurusan negara.

“Mereka tidak memiliki bayangan sistem politik negara yang menjamin kesejahteraan dan mampu menyelesaikan masalah yang meresahkan rakyat, seperti pandemi, kemiskinan, pendidikan, korupsi, dan sebagainya,” ujarnya miris.

Lebih jauh, Hj. Luluk menilai pemuda saat ini juga tidak memahami bagaimana sistem politik Islam pada masa Khilafah mampu menaungi 2/3 dunia dan mewujudkan kesejahteraan selama 1.300 tahun.

Pun tidak memahami bagaimana politik Islam yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab mampu menyelesaikan pandemi wabah Thaun, atau bagaimana Khalifah Umar bin Abdul Aziz mampu mewujudkan kesejahteraan hingga tidak ada orang yang mau menerima zakat karena kehidupannya sudah sejahtera (bukan termasuk fakir miskin yang berhak menerima zakat, ed.).

Yang demikian itu, menurut Hj. Luluk, karena pemuda “dibonsai” dengan pemahaman politik yang salah ala sistem sekuler demokrasi. Sejak di pendidikan dasar hingga tinggi, mereka hanya disajikan politik sekuler demokrasi yang di-framing sebagai sistem terbaik, meskipun telah jelas bobrok dan gagal dalam mewujudkan kesejahteraan.

Baca juga:  [News] Ulama Perempuan dalam Pengarusutamaan Gender

“Seolah tidak ada pilihan sistem lainnya,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan arus moderasi Islam yang membingkai bahwa politik Islam dan sistem Khilafah mengancam bangsa (framing radikalisme Islam). Akibatnya, anak muda tidak memiliki pemahaman politik Islam yang benar.

“Mereka tidak memiliki maklumat tentang sistem Khilafah Islamiah yang bisa menjadi sistem alternatif pembanding sistem sekuler demokrasi,” ujar Hj. Luluk pada MNews (25/3/3021).

Yang lebih ironis, jelasnya, para pemuda ini justru terseret arus framing radikalisme Islam, mengikuti arahan yang “dibajak” kepentingan elite tertentu. Mereka turut menuntut pemerintah untuk membasmi Islam politik dan Khilafah, padahal kesengsaraan umat adalah hasil penerapan sistem sekuler demokrasi.

“Mereka menuntut mempertahankan sistem negara sekuler demokrasi yang bobrok dan membuang sistem negara Islam—Khilafah—yang justru menjadi solusi persoalan bangsa,” ujarnya.

Dengan demikian, Hj. Luluk berpendapat penting sekali untuk memahamkan anak muda terkait makna politik Islam yang sahih dan memahamkan sistem negara Khilafah Islamiah dalam mengurusi rakyat dengan menerapkan Islam secara kafah.

“Dengan pemahaman yang sahih, anak muda bisa melakukan pembacaan persoalan utama bangsa ini dan bisa membandingkan apple to apple sistem negara terbaik untuk bangsa ini,” tegasnya. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan