[Tarikh Khilafah] Kesederhanaan Pemimpin Islam yang Dicontohkan Khalifah Umar bin Khaththab ra.

MuslimahNews.com, Tarikh Khilafah — Khalifah Umar bin Khaththab memberi contoh gaya hidup sederhana yang semestinya dicontoh para pemimpin saat ini. Padahal, beliau memiliki kekuasaan yang besar dan mampu mengalahkan Persia dan Romawi dalam peperangan.

Sebagai seorang khalifah, Umar bin Khaththab ra. sesungguhnya layak memperoleh jaminan keuangan dari kas negara. Akan tetapi, ia selalu menjaga diri dan keluarganya dari apa-apa yang bukan haknya.

Ia tidak meminta jatah keuangan dari baitulmal. Tidak pula sekali pun memakmurkan kehidupan pribadinya di atas kehidupan muslimin.

Khalifah Umar ra. tidak akan nyaman mencerna makanan sebelum merasa yakin seluruh rakyatnya telah menerima pembagian dana sosial, terutama di musim paceklik. Ia tidak bisa tidur dengan tenang bila ada rakyatnya yang kelaparan.

Suatu ketika, Umar ra. pernah menegur seorang gubernurnya di Yaman. Sebab, sang gubernur ini diketahui gemar mengenakan pakaian dan wewangian yang berlebihan.

Dengan nasihat yang meyakinkan, gubernur itu membalas surat Umar ra.. Intinya, dia meminta maaf dan berjanji akan mengoreksi perbuatannya.

Setahun kemudian, Gubernur Yaman itu kembali kepada Umar ra., tetapi kali ini dengan berpakaian compang-camping. Umar lantas menegurnya dengan berkata, “Aku tidak mengharap keadaanmu sampai seperti ini. Demikian juga sebaliknya, aku tidak menginginkan hidupmu berlebih-lebihan.”

“Yang aku harapkan kepada seluruh gubernur kita hidup secara layak dan wajar. Tidak menunjukkan kenistaan, tetapi tidak pula bermegah-megahan. Kalian boleh makan, minum, dan memakai wangi-wangian. Dalam tugas kalian nanti, kalian akan mengetahui apa yang aku benci,” demikian katanya lagi.

Demikian dinukil dari buku Menyusuri Jejak Manusia Pilihan, Umar Bin Khaththab karya Abbas Mahmud Aqqad.

Khalifah Umar ra. bahkan memakai pakaian yang bertambal. Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmizi, Imam Malik meriwayatkan dalam Al Muwaththa, bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku melihat Umar bin Khaththab pada masa khilafahnya memakai jubah yang bertambal di dua pundaknya.”

Ibnu Zanjuwaih (wafat 247 hijriah) meriwayatkan dalam bukunya Al Amwal, ia berkata, “Umar bin Khaththab ra. memiliki seekor unta. Budaknya memerah susu unta setiap hari untuknya. Suatu ketika, budak tersebut membawa susu unta ke hadapan Umar ra.. Umar ra. berfirasat lain dan dia bertanya kepada budaknya, “Susu unta dari mana ini?”

Budaknya menjawab, “Seekor unta milik negara (baitulmal) yang telah kehilangan anaknya, maka saya perah susunya agar tidak kering, dan ini harta Allah.”

Umar berkata, “Celakalah engkau! Engkau beri aku minuman dari neraka!”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Thariq bin Syihab bahwa saat Umar ra. datang ke salah satu daerah kekuasaannya, negeri Syam, dia disambut Gubernur Syam Abu Ubaidah ra, para tokoh, dan rakyat di pintu gerbang kota Damaskus.

la turun dari tunggangannya menuntun sendiri untanya serta mengepit kedua sepatu di ketiaknya untuk menyeberangi sungai kecil. Pemandangan ini disaksikan oleh khalayak ramai.

Maka Abu Ubaidah ra berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Engkau disambut oleh para tokoh dan pembesar Syam dan melakukan hal ini?”

Umar ra. marah seraya membentak, “Wahai Abu Ubaidah, sesungguhnya engkau dahulu adalah bangsa yang hina, rendah, dan miskin, kemudian Allah muliakan kalian dengan Islam. Jika kalian mencari ketinggian martabat dengan selain Islam, niscaya Allah akan rendahkan derajat kalian.” (Tarikh Dimasyq)

Tak Punya Istana

Dikisahkan dalam buku Kisah-Kisah Inspiratif para Sahabat Nabi yang ditulis Muhammad Nasrullah, sebuah kisah salah satu sahabat Nabi Muhammad, yaitu Umar Ibn Khaththab, ketika menjadi Khalifah setelah menggantikan Khalifah Abu Bakar.

Suatu hari utusan raja di Persia memerintahkan utusannya untuk melihat bagaimana istana yang dimiliki oleh Umar ra. sebagai pemimpin umat Islam yang kala itu sedang mengalami kemajuan yang luar biasa dengan banyaknya daerah kekuasaan yang dimilikinya.

Sesampainya di Madinah, utusan raja itu menuju ke tengah-tengah orang Islam yang sedang melakukan kajian di Masjid Nabawi. Tidak lama kemudian utusan raja itu bertanya kepada para sahabat Nabi, “Di manakah istana Khalifah umat Islam Umar bin Khaththab?”

Para sahabat pun sedikit tertawa atas pertanyaan yang dilontarkan utusan raja itu. Tidak lama kemudian salah seorang sahabat mengantarkan ia ke rumah sahabat Umar ra..

“Ini rumah Khalifah kami, Umar Bin Khaththab,” tunjuk seorang sahabat pada rumah yang dibangun dengan tanah biasa sebagaimana rumah pada umumnya.

Setelah ditunjukkan, utusan raja itu kemudian protes. “Tidak. Saya ingin melihat istana Umar bin Khaththab. Bukan rumah yang tidak pantas bagi seorang Khalifah ini.”

Sahabat yang mengantar itu pun kembali membalas, “Inilah istana Khalifah Umar. Ini tempat singgahnya,” katanya.

Utusan raja itu pun akhirnya membuka rumah sahabat Umar ra.. Namun, ketika membukanya ia tidak menemukan sahabat Umar ra. ada di dalamnya. Ia kemudian diantar ke sebuah kebun kurma yang tidak jauh dari rumah Umar ra..

Sesampainya di kebun kurma itu, terlihat sahabat Umar ra. sedang tidur istirahat di bawah pohon kurma dengan alas pohon buah tersebut. Melihat Umar yang sangat sederhana itu, utusan raja pun merasa sangat takjub.

Demikianlah teladan kesederhanaan seorang Khalifah. Sungguh bertolak belakang dengan penguasa masa kini. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan