Salah Kaprah Toleransi

“Barat tak henti-hentinya melakukan berbagai propaganda untuk menyerang Islam, agar kaum muslim tanpa sadar mengikuti arus yang sedang mereka konstruksi. Salah satunya adalah wacana toleransi dan radikalisme sebagai alat untuk menstigmatisasi dan mereduksi nilai Islam.”


Penulis: Dr. Ahmad Sastra


MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Narasi toleransi yang dibangun Barat berdasarkan asas demokrasi dan HAM telah berhasil menjerat kaum muslim pada pemahaman yang salah kaprah.

Kaum muslim akan dikatakan sebagai orang toleran jika mau melakukan apa yang diwacanakan Barat. Sebaliknya, jika tak sejalan dengan mereka, lantas dikatakan sebaliknya: intoleran atau radikal.

Empat Gerakan

Pertama: Harakah at-Tasykîk, yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran ajaran Islam. Di antaranya melalui gugatan atas autentikasi Al-Qur’an, Islam sebagai Mohammadanisme, keraguan atas kerasulan Muhammad.

Dampak dari at-tasykîk adalah tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam.

Oleh Barat, jika ada seorang muslim berpegang teguh pada kemurnian ajaran Islam dalam memandang dan bersikap terhadap keyakinan (teologi) agama lain, mereka akan dicap sebagai fundamentalis, radikal, dan intoleran.

Sebaliknya, jika seorang Muslim mengikuti timbangan Barat dalam menyikapi perbedaan agama dengan cara mengakui kebenaran agama lain, mereka akan disebut sebagai Muslim moderat dan toleran.

Barat berupaya menstigmatisasi Islam sebagai ajaran radikal. Pasalnya, Islam tidak mengakui kebenaran agama lain, dan Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Karena keyakinan kebenaran Islam itu berasal dari al-Qur’an, Barat kemudian menuduh kitab suci umat Islam sebagai sumber radikalisme.

Karena itu mereka lalu mereduksi ajaran Islam dengan timbangan tafsir hermeneutika. Tafsir ini berasas demokrasi, hak asasi manusia, dan sekularisme.

Dengan asas ini, para agen Barat, seperti muslim liberal dan moderat, kemudian mendekonstruksi makna toleransi sebagai paham pluralisme teologis.

Oleh mereka, Islam rahmatan lil ’alamin ditafsirkan dengan makna: menerima kebenaran segala keragaman agama, budaya dan politik.

Hasil liberalisasi Islam adalah paham pluralisme pada agama-agama serta multikulturalisme pada budaya dan politik.

Akibatnya, ketika umat Islam menolak dengan tegas budaya LGBT yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan bisa mendatangkan azab Allah, mereka dituding radikal dan intoleran.

Ketika umat Islam dengan tegas menolak pemimpin kafir karena bertentangan dengan banyak ayat al-Quran, mereka dituduh kaum fundamentalis dan intoleran.

Perjuangan untuk menegakkan syariat Islam pun dikatakan sebagai bentuk radikalisme.

Kedua: Harakah at-Tasywîh, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara mencitraburukkan Islam. Mereka gencar mencitrakan Islam secara keji melalui media-media.

Islam dipresentasikan sebagai agama yang antagonistis terhadap ide-ide kebebasan, HAM, demokrasi, pluralisme, dan nilai-nilai Barat lainnya.

Dampak dari tasywîh ini adalah menggejalanya inferiority complex (rendah diri) pada diri umat Islam, islamofobia dan pemujaan  kepada Barat.

Barat sebetulnya bersikap inkonsistensi terhadap makna toleransi yang mereka  bangun. Jika konsisten dengan makna toleransi, semestinya umat Islam yang melaksanakan ajaran Islam juga harus dihormati.

Faktanya, muslimah yang menggunakan kerudung dan atau cadar sebagai hak setiap muslimah justru dikatakan sebagai bentuk intoleran juga. Celakanya, banyak instansi yang justru latah mengikuti alur pemikiran Barat dengan melarang karyawan perempuannya berkerudung dan berhijab.

Baca juga:  [News] Intoleransi dan Radikalisme Meningkat di Momen Politik, Mendesak Ditangani?

Lebih ironis, saat Barat mencederai makna toleransi justru tidak dianggap intoleran. Semisal lomba kartun Rasulullah saw. yang telah menyakiti hati umat Islam seluruh dunia karena perbuatan itu diharamkan Islam.

Hal demikian tidak dianggap sebagai perbuatan intoleran, bahkan dianggap sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Peristiwa pembakaran masjid tidak dianggap sebagai perbuatan intoleran.

Sebaliknya, jika umat nonmuslim “diganggu” sedikit saja maka tindakan demikian akan segera distigmatisasi sebagai bentuk intoleransi dan radikal.

Bahkan saat terjadi pembakaran panji tauhid, panji Rasulullah ar-Rayyah dan al-Liwa, pelakunya tidak dianggap sebagai kaum intoleran.

Padahal panji tauhid bertuliskan dua kalimat syahadat adalah harga mati bagi kaum Muslim. Buktinya, meski satu dibakar, sejuta panji tauhid justru berkibar.

Ketiga: Harakah at-Tadzwîb, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran.  Dampaknya, umat Islam terjebak dalam pemikiran pluralisme agama.

Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Sebab pluralism, menurut WC Smith, bermakna transcendent unity of religion (wihdat al-adyân); dan global teologi menurut John Hick.

Tanpa disadari, atas nama toleransi, umat Islam banyak yang terjebak pada racun akidah ini dengan mencampuradukkan kebatilan dan kebenaran. Islam memang menghargai pluralitas, namun tidak mengakui pluralisme.

Keragaman agama dalam pandangan Islam adalah keniscayaan. Ia merupakan fakta sosial (sosiologis). Namun, mengucapkan selamat hari raya agama lain, misalnya, adalah bentuk pluralisme (teologis) yang diharamkan Islam.

Pluralitas adalah fakta sosiologis yang tak bias ditolak. Sebaliknya, pluralisme adalah sinkretisme teologis yang wajib ditolak karena haram.

Karena itu keragaman agama bukan sebuah masalah bagi Islam. Namun, mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain dengan dalih toleransi adalah kemungkaran.

Ironisnya umat Islam banyak yang salah kaprah memahami hal ini. Sebagiannya justru merasa bangga jika telah melaksanakan toleransi ala Barat yang diharamkan Islam.

Penulis sering mendengar seorang Muslim yang menyampaikan pembukaan pidato dengan diawali kalimat salam semua agama hanya karena pesertanya dari berbagai agama. Padahal perbuatan ini dilarang dalam Islam. Menghargai bukan berarti harus mencampuradukkan haq dan batil.

Keempat: Harakah at-Taghrîb, yakni gerakan westernisasi segala aspek kehidupan kaum muslim. Paradigma Barat dijadikan sebagai kiblat kaum muslim dengan meninggalkan tsaqâfah Islam. Melalui berbagai bidang seperti fun, fashion, film, dan food, Barat terus mempropagandakan ideologinya.

Dampaknya, saat ini sebagian umat Islam begitu membanggakan budaya Barat dan merasa rendah diri dengan budaya Islam. Tentu ironis jika ada muslim yang justru memuja ideologi dan peradaban Barat. Mereka menggandrungi budaya berpakaian, makan, dan hiburan ala Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Sebaliknya, perilaku islami  yang merupakan bagian dari ajaran Islam seperti dalam hal berpakaian, makan, dan hiburan justru ditinggalkan karena dianggap ketinggalan zaman. Pemahaman umat mengalami salah kaprah akibat propaganda Barat dalam menstigmatisasi dan mereduksi ajaran Islam.

Islam dan Toleransi

Istilah toleransi dan radikalisme yang hendak disematkan pada Islam dan kaum muslim haruslah digali dari epistemologi Islam. Akan menjadi masalah jika kedua istilah itu justru ditimbang dengan epistemologi neomodernisme Barat.

Baca juga:  The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (2/2)

Sebab, secara diametral kedua epistemologi itu sangat berbeda, baik dari asas, metode dan penafsiran.

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin memiliki paradigma yang khas terkait berbagai konsep pemikiran dan nilai-nilai. Membicarakan Islam mesti merujuk pada sumber nilai agama ini yakni Al-Qur’an dan al-Hadis, bukan perilaku umatnya. Apalagi dengan menggunakan sumber nilai dari luar Islam.

Banyak sekali konsepsi-konsepsi paradigmatis yang menggunakan kata “Islam” justru berasal dari paradigma Barat yang anti-Islam. Sebagai contoh, istilah-istilah seperti Islam liberal, Islam inklusif, Islam moderat, dan Islam fundamentalis.

Istilah-istilah itu secara genealogis bukan berakar dari nomenklatur Islam. Istilah-istilah itu dibangun berdasarkan kajian-kajian epistemologi Barat untuk memecah persatuan kaum muslim.

Hegemoni demokrasi yang sudah telanjur banyak diadopsi kaum muslim di dunia telah menempatkan Islam sebagai objek. Islam ditempatkan sebagai objek penilaian yang kadang tidak proporsional.

Akibatnya, jika Islam dan perilaku kaum muslim tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi Barat, akan dilabeli fundamentalis dan radikal. Pemahaman Islam yang sejalan dengan nilai-nilai Barat seperti kebebasan dan HAM akan dianggap sebagai Islam moderat.

Sebagai contoh paling jelas ialah konsep jihad. Seorang muslim dikatakan berjihad jika ia berusaha mati-matian dengan mengerahkan segenap kemampuan fisik maupun materiel dalam memerangi dan melawan musuh agama (Islam) (Lihat: Fiqh as-Sunnah, Bairut: Mu’assasat ar-Risalah, 1422 H/2002, 3: 79).

Makna singkatnya, jihad berarti berperang melawan musuh Islam yang memerangi Islam dan kaum muslim (lihat: QS 9: 73 dan 66: 9).

Konsep jihad ini oleh Barat dianggap sebagai sebuah ancaman bagi hegemoni demokrasi. Karena itu, konsep jihad oleh Barat direduksi menjadi sekadar bersungguh-sungguh. Mereka menghapus makna jihad sebagai perang. Makna reduktif inilah yang kemudian diadopsi pengusung Islam moderat.

Sementara, gerakan dakwah yang masih berpegang teguh atas makna jihad yang sesungguhnya dianggap sebagai gerakan radikal dan fundamentalis, bahkan dianggap teroris.

Problem epistemologi inilah yang kini sedang dikembangkan di negeri ini. Kata toleransi oleh Barat dimaknai sebagai paham pluralisme yang oleh fatwa MUI 2005 telah dinyatakan haram, sebab pluralisme adalah paham yang mengakui kebenaran setiap agama. Islam pun telah melarang kaum muslim untuk mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.

Islam adalah agama toleran dalam arti menghargai keragaman suku, agama, dan bahasa. Daulah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah sebagai representasi penerapan hukum Islam justru dengan indah menghargai dan melindungi entitas teologis dan sosiologis yang berbeda selama menaati aturan Daulah Islam.

Allah Swt. telah menegaskan Islam sebagai agama toleran (Lihat: QS al-Kafirun[109]: 1-6). Islam adalah agama dakwah dan amar makruf nahi mungkar dengan cara memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat akan kebenaran Islam, tanpa ada unsur paksaan.

Dialog Agama: Mereduksi Ajaran Islam

Rencana keji Barat lainnya untuk mereduksi ajaran Islam atas nama narasi toleransi adalah dengan dialog agama dan dialog peradaban. Ada target jahat di balik program ini.

Baca juga:  Islamofobia di Kanada, Umat Butuh Khilafah Penjaga Jiwa

Peradaban adalah sekumpulan konsep tentang kehidupan; bisa berupa peradaban spiritual ilahiah (diniyyah) dan bisa pula berupa peradaban buatan manusia. Contoh peradaban diniyyah adalah peradaban Islam. Contoh peradaban buatan manusia adalah peradaban India atau peradaban Barat.

Keberadaan peradaban-peradaban tersebut merupakan suatu hal yang pasti dan menjadi fakta yang terbantahkan. Demikian pula perbedaan di antara peradaban-peradaban itu.

Barat menjadikan agenda dialog agama dan peradaban dengan tiga target utama:

Pertama: Penyamaan agama dan peradaban dalam dialog tanpa pengakuan adanya agama atau peradaban yang lebih unggul dan lebih baik daripada yang lain.

Kedua: Dibatasi hanya sebagai ajang untuk mengetahui pendapat pihak lain, bukan dimaksudkan untuk menyanggah atau membuktikan kesalahannya.

Ketiga: Menciptakan suatu peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua agama dan kedua peradaban.

Inilah makna dialog dalam pandangan mereka. Tujuannya,  menurut mereka, adalah agar terjadi “interaksi yang produktif antarbudaya yang khas, untuk membentuk suatu peradaban alternatif yang unggul, yang membuat suatu pihak dapat menerima pihak yang lain atas dasar landasan yang sama.” (Dr. Milad Hana dalam suatu debat kultural di Kairo pada Senin, 2/4/2001).

Islam jelas menolak dialog agama dan peradaban dalam perspektif Barat ini. Perhatian firman Allah Swt. berikut:

۞مَثَلُ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ كَٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡأَصَمِّ وَٱلۡبَصِيرِ وَٱلسَّمِيعِۚ هَلۡ يَسۡتَوِيَانِ مَثَلًاۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٤

“Perbandingan kedua golongan itu (orang kafir dan orang mukmin) seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” (QS Hud [11]: 24)

وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ ٨٩

“Mereka ingin agar kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama dengan mereka.” (QS an-Nisa’ [4]: 89)

قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠

Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Karena itu  bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang berakal, agar kalian  mendapat keberuntungan.” (QS al-Maidah [5]: 100)

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تَلۡبِسُونَ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُونَ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٧١

“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil serta menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahuinya?” (QS Ali Imran [3]: 71)

Karena itu, salah kaprah atas makna toleransi di kalangan kaum muslim harus segera diakhiri. Caranya dengan menyadarkan bahwa narasi toleransi merupakan proyek Barat untuk mendekonstruksi, melumpuhkan, bahkan melenyapkan ajaran Islam.

Islam telah memiliki konsepsi toleransi yang adil dan proporsional yang akan menjadikan kaum muslim dan nonmuslim justru bisa hidup rukun secara sempurna dan penuh keamanan serta kesejahteraan. Hal ini hanya bisa diwujudkan dalam Daulah Islamiah. Ini pula yang telah dicontohkan Rasulullah saw. di Madinah. [MNews/Juan]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.