Perspektif Baru Pengelolaan SDA Energi dalam Islam


Penulis: Abu Nadzhifah (Peneliti Sistem Energi dan Iklim)


MuslimahNews.com, ANALISIS — Sumber daya alam (SDA) energi adalah SDA krusial dalam menunjang peradaban manusia. Kekurangan atau ketiadaan energi akan menghambat perkembangan peradaban manusia, bahkan mungkin meruntuhkannya, khususnya pada abad ke-21 yang sangat haus akan energi.

Revolusi Industri telah menjadikan SDA energi sebagai komoditas utama, dan sering kali menjadi sumber konflik hingga peperangan antarnegara. Seandainya so-called “Revolusi Industri 4.0” sungguh-sungguh akan terjadi, konsumsi energi akan bertambah lebih tinggi lagi.

Eksploitasi SDA energi dalam ideologi kapitalisme telah menimbulkan berbagai masalah di planet ini. Satu hal yang relatif sering disorot, khususnya di Indonesia, adalah terkait subsidi energi, baik itu subsidi listrik maupun bahan bakar minyak (BBM).

Agenda kapitalisme yang terus menerus diserukan (baca: dipaksakan) pada negara-negara Dunia Ketiga adalah pencabutan subsidi energi. Pencabutan subsidi ini tidak lain merupakan agenda liberalisasi sektor-sektor vital, sehingga negara tidak lagi memonopoli energi, melainkan swasta juga bisa masuk ke dalamnya.

Dampak langsung dari pencabutan subsidi energi adalah naiknya harga produk energi, sehingga memberatkan masyarakat selaku pengguna akhir. Sementara, dampak tidak langsung yang agak jarang dibahas adalah terancamnya ketahanan energi.

Namun, sering kali pembahasan tentang dinamika SDA energi hanya terbatas di sana saja. Walau sedikit dapat dimaklumi karena masalah subsidi energi adalah yang paling berdampak langsung pada masyarakat, masalah kemudian muncul dalam mengonsepkan dan memberikan alternatif solusi menurut sudut pandang Islam.

Mengingat, alternatif solusi yang ditawarkan tersebut tidak menyelesaikan masalah dan mungkin justru dapat memperburuk masalah secara keseluruhan.

Berdasarkan alasan tersebut, perlu perspektif baru dalam memandang pengelolaan SDA energi secara syar’i. bukan merombak pemahaman filosofis yang sudah ada, tetapi memandang persoalan secara lebih integral-holistik.

Beberapa isu yang harus disikapi secara integral-holistik dalam pengelolaan SDA energi ala kapitalisme adalah sebagai berikut:

  1. Keterjangkauan harga;
  2. Ketahanan energi;
  3. Resource depletion; dan
  4. Climate change.

Keempat isu ini terkait satu sama lain, tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan. Liberalisasi sektor energi menyebabkan harga produk energi tidak lagi terjangkau sekaligus mengancam ketahanan energi.

Eksploitasi besar-besaran SDA energi menyebabkan resource depletion, menghabiskan SDA energi yang ada saat ini, dan menyisakan sedikit sekali untuk generasi masa depan.

Prinsip pertumbuhan ekonomi ala kapitalisme juga meniscayakan mereka mengeksploitasi SDA energi yang dianggap paling murah saat ini, sekaligus yang pertama kali dibangun pasca-Revolusi Industri, yakni energi fosil.

Padahal, pembakaran energi fosil telah terbukti menyebabkan perubahan iklim (climate change). Liberalisasi energi dan prinsip pertumbuhan dalam sistem ekonomi kapitalisme memperparah laju climate change, karena besarnya eksploitasi dan pembakaran energi fosil demi memenuhi ambisi rakus para pemilik modal.

Interelasi kompleks antara keempat isu tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan SDA energi tidak bisa dilihat dari salah satu sisi saja. Entah itu dari sisi harga/subsidi saja, ketahanan energi saja, climate change saja, ataupun resource depletion saja.

Untuk membentuk tatanan pengelolaan SDA energi secara syar’i yang ideal, setidaknya empat isu di atas harus dimasukkan ke dalam perspektif.

Karena itu, pengelolaan SDA energi dalam Islam, yang kelak akan diaplikasikan oleh Khilafah Islamiah, harus dilakukan secara komprehensif.

Sumber Daya Energi

SDA energi merupakan kepemilikan umum. Umatlah pemilik sesungguhnya dari SDA energi, sementara negara hanya sebagai pengelola saja.

Karena merupakan kepemilikan umum, maka diharamkan bagi swasta untuk menguasainya, karena itu berarti menghalangi umat mendapatkan haknya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, api, dan padang gembalaan.” (HR Abu Dawud dan Ibn Majah)

Pada prinsipnya, negara hanya menarik biaya dari masyarakat sebesar biaya produksi, transportasi, dan litbang dari produk energi yang dihasilkan. Namun, negara boleh-boleh saja mengambil keuntungan dari harga produk energinya, dengan catatan tidak memberatkan dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat dalam bentuk lain.

Kedaulatan dan ketahanan energi merupakan kewajiban dalam Islam. Ketiadaan kedaulatan energi, yang di antaranya disebabkan penguasaan asing terhadap SDA energi, akan sangat mengancam kedaulatan negara.

Bayangkan jika Khilafah harus tergantung pada asing untuk mendapatkan sumber energi demi menunjang peradabannya, maka Khilafah akan sangat mudah dikendalikan oleh asing.

Demikian pula, jika ketahanan energi kurang akibat SDA energi tidak memadai untuk keperluan negara, Khilafah juga bisa ditekan asing. Hal ini jelas-jelas terlarang dalam Islam.

Allah Swt. berfirman,

…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS An Nisa’: 141)

Resource depletion merupakan imbas dari borosnya konsumsi energi peradaban Barat. Prinsip pertumbuhan ekonomi dalam kapitalisme telah sukses mengeruk sejumlah besar SDA energi dengan dampak minimal terhadap pemerataan kekayaan.

Kapitalisme berhasil mempermegah bangunan fisik, tapi dengan kompensasi keberlanjutan SDA energi yang terancam dan kerusakan lingkungan yang mengerikan. Pemborosan energi ini merupakan tindakan tidak bertanggung jawab terhadap generasi masa ini maupun masa depan.

Climate change merupakan konsekuensi dari pembakaran energi fosil. Emisi gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer sebagai hasil pembakaran energi fosil menyebabkan positive feedback efek rumah kaca di lapisan atmosfer. Hasilnya adalah terpicunya pemanasan global, dan dalam konteks lebih luas, perubahan iklim.

Jika tidak dihentikan, perubahan iklim dapat memicu bencana iklim paling lambat pada akhir abad ke-21. Bencana iklim akan sangat mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lain di planet Bumi.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain.” (HR Ahmad dan Ibn Majah)

Allah Swt. berfirman,

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut sebagai disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang lurus).(QS Ar Rum: 41)

Mempertimbangkan keempat isu tersebut, maka kebijakan pengelolaan SDA energi dalam Islam setidaknya harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Dapat terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
  2. Dapat menjaga kedaulatan dan ketahanan energi.
  3. Berkelanjutan.
  4. Tidak merusak lingkungan.

Terkait syarat keterjangkauan, pada hakikatnya harga produk energi apa pun bisa jadi terjangkau dengan adanya subsidi. Namun, eksistensi subsidi sendiri merupakan indikasi kurang optimalnya pengelolaan SDA energi.

Selayaknya, harga produk energi harus bisa terjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa perlu subsidi. Maka, mata rantai industri pengelolaan SDA harus dihilangkan dari aspek-aspek kapitalisme yang menjadikan harga produk energi menjadi mahal.

Pertama, hapuskan ekonomi riba. Mahalnya harga produk energi salah satunya disebabkan riba pinjaman yang terdapat dalam pinjaman modal. Kedua, konversi mata uang ke Dinar-Dirham untuk mencegah inflasi. Ketiga, kuasai teknologi mata rantai industri energi dari hulu hingga hilir. Keempat, kuasai seluruh SDA energi oleh negara, hapuskan kepemilikan swasta. Semua ini wajib dilakukan oleh Khilafah Islamiah kelak.

Upaya menjaga kedaulatan energi diraih dengan cara mengamankan seluruh SDA energi beserta mata rantai industrinya dari cengkeraman swasta. Dengan mengelola sendiri SDA energi dan mata rantai industrinya, asing sama sekali tidak memiliki posisi tawar untuk menekan Khilafah. Pemilihan SDA energi yang memiliki kelimpahan tinggi dan penggunaan sedikit akan menjamin ketahanan energi negara, mencegah asing menekan Khilafah dengan isu krisis energi.

Resource depletion dikurangi dengan mengembalikan perspektif keinginan dan kebutuhan pada perspektif Islam. Pemborosan terjadi karena kapitalisme tidak membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Desentralisasi ekonomi dapat mengurangi kepadatan penduduk di kota metropolitan yang berkontribusi dalam pemborosan energi. Demikian pula dengan penggunaan SDA energi yang jumlahnya melimpah tapi konsumsinya sedikit sebagai tulang punggung energi.

Mengatasi climate change dilakukan dengan menghentikan pembakaran energi fosil dan menggantinya dengan energi bersih. Dengan kata lain, pembakaran batu bara, gas alam, dan minyak bumi secara praktis harus dikurangi hingga akhirnya dihentikan sama sekali.

Proses ini harus cepat dilakukan, karena berdasarkan estimasi para climate scientist, bumi hanya memiliki waktu beberapa dekade lagi untuk menghentikan laju perubahan iklim.

Bukan tugas mudah untuk mengonversi energi tersebut. Karenanya, konversi energi bersih harus dilakukan menuju moda energi yang paling cepat penerapannya, dengan kebutuhan SDA paling minimal demi konservasi sumber daya.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka pengelolaan SDA energi dengan perspektif integral-holistik mengharuskan diterapkannya hal-hal sebagai berikut:

  1. Negara mengelola penuh seluruh bahan mentah dan mata rantai industri SDA energi, mulai dari hulu hingga hilir.
  2. Negara menghilangkan aspek-aspek kapitalisme yang menjadikan harga produk energi final menjadi mahal, seperti riba, fiat money, pinjaman luar negeri, dan sebagainya.
  3. Negara menghentikan pembakaran energi fosil secara bertahap dan cepat, mengonversi energi fosil menuju energi bersih, baik untuk listrik maupun BBM. Untuk listrik, energi fosil digantikan dengan energi nuklir, hidro, panas bumi, serta surya ketika memungkinkan, dengan nuklir sebagai bauran terbesar. Untuk BBM, energi bersih khususnya nuklir digunakan untuk memproduksi BBM sintetis bebas/netral karbon.
  4. Negara mengalihkan penggunaan energi fosil untuk keperluan industri nonenergi. Misalnya digunakan untuk feedstock industri plastik, karbon, grafit, dan lainnya.

Dengan demikian, pengelolaan SDA energi dalam Islam dapat dilakukan secara optimal tanpa harus mengabaikan salah satu syarat.

Jadi, tidak lagi dikatakan bahwa solusi Islam terhadap mahalnya harga BBM adalah dengan semata-mata mengambil alih seluruh tambang minyak tanpa memikirkan dampaknya terhadap perubahan iklim.

Begitu juga, tidak lagi dikatakan bahwa subsidi merupakan keharusan untuk menjaga harga listrik agar tetap terjangkau, apalagi jika listriknya berasal dari energi fosil.

Mengingat kompleksnya masalah pengelolaan SDA energi yang disebabkan ideologi kapitalisme, sudah waktunya untuk membongkar masalah dengan menyoroti seluruh isu secara integral-holistik.

Demikian pula, membahas solusi Islam dan kebijakan Khilafah tentang pengelolaan SDA energi tidak bisa lagi dengan tidak memerhatikan berbagai aspek energi secara keseluruhan.

Dengan begitu, konsep Islam dapat dengan sungguh-sungguh menjadi konsep paling komprehensif, adil, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam bish shawwab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan