[Tapak Tilas] Tabuk, Bukan Medan Jihad Biasa


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Iman seperti apa yang mampu mendorong para sahabat radhiyallaahu ‘anhum saling berebut untuk pergi ke Tabuk? Padahal, seruan itu bukan seruan biasa, melainkan seruan jihad fi sabilillah di medan perang yang kondisinya juga luar biasa.

Ya, Tabuk adalah sebuah tempat yang jaraknya sangat jauh dari Madinah. Yakni sekira 683 km di sebelah barat laut ke arah Damaskus (Suriah). Bahkan ada yang menyebut jaraknya lebih dari 760 km dari Madinah.

Bayangkan, begitu jauh jarak yang harus ditempuh pasukan Muslim. Sementara, Tabuk adalah medan yang belum dikenal sebelumnya. Mayoritas pasukan pun tak berkendara. Kalaupun ada, 10 di antara mereka harus bergiliran menaiki satu unta. Pantas saja jika mereka dinamai Jaisy al-Usrah (pasukan dengan kesulitan).

Tabuk, Saksi Perlawanan terhadap Negara Adidaya

Tak hanya itu saja, lawan tandingnya pun berlipat lebih kuat. Sebanyak 30 ribu pasukan negara Islam yang masih belia harus melawan 200 ribu pasukan Romawi yang adidaya. Apalagi, di saat itu, cuaca pun sedang panas-panasnya.

Wajarlah jika Heraklius begitu jemawa. Pikirnya, dendam dan rasa malu saat kalah di Perang Mu’tah tiga tahun sebelumnya (6 H) pasti akan terbayar. Di perang ini, pasukan muslim tak mungkin bisa selamat. Jangankan manusia, unta pun bisa mati kekeringan.

Saat itu, kekuasaan Romawi atau Byzantium Timur memang sedang ada di puncak-puncaknya. Sebelum menghadapi pasukan Muslim, Heraklius dan pasukannya baru saja berhasil mengalahkan kekuasaan Persia (Sasani) yang saat itu sama-sama adidaya.

Sumber gambar: Wikipedia

Maka, beberapa bulan setelahnya di tahun ke-9 H itu, Heraklius pun kembali memobilisasi tentara. Ancaman baru di Arab sana, tak bisa dibiarkan begitu saja. Terlebih pengaruhnya kian lama kian membesar dan mengancam kekuasaannya.

Foto kepingan solidus cetakan Konstantinopel bergambar Heraklius. Sumber: Wikipedia

Heraklius pun memimpin langsung pasukan untuk mengalahkan tentara Islam. Dia dan pasukannya bergerak ke wilayah utara Jazirah Arab. Lalu menaklukkan Irak, Mesir, Damaskus, lalu membangun pertahanan di Palestina.

Sumber gambar: kaskus.co.id

Tabuk, Saksi Tingginya Keimanan Kaum Muslim

Kabar pergerakan ini pun sampai pada Rasulullah saw.. Maka, beliau segera mengondisikan segala sesuatunya. Beliau seru kaum muslimin untuk kembali berkontribusi dalam jihad fi sabilillah setelah setahun sebelumnya mereka berperang di Hunain melawan kabilah-kabilah Arab yang jumlahnya tak kalah besar.

Sumber foto: media.touristtube

Beliau utus beberapa Sahabat kepada pemimpin-pemimpin kabilah muslim dan kaum hartawan untuk memobilisasi kekuatan. Bahkan tak seperti biasa, beliau umumkan tujuan perang dan situasi berat yang akan menghadang di hadapan pasukan.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Perang Tabuk, Membuka Front Peperangan dengan Romawi

Bagi kebanyakan muslim, seruan ini menjadi sebuah harapan dan kerinduan. Mereka, baik yang terdahulu masuk Islam maupun yang baru berislam, dengan ketulusan dan hati yang diliputi cahaya, berbondong-bondong menyambut seruan jihad dengan penuh keimanan. Sebagian besar mereka menyiapkan bekal sendiri demi menjemput kematian.

Adapun mereka yang kelebihan harta, berlomba-lomba menginfakkan hartanya sedemikian rupa. Hingga kita dapati cerita, Sayidina Abu Bakar menginfakkan seluruh harta yang dimilikinya. Sementara Umar, menginfakkan setengah hartanya.

Tak kalah fenomenal, Sayidina Utsman menyumbang 950 ekor unta dan 50 ekor kuda beserta isi tunggangan logistiknya. Ditambah uang tunai sebesar 1.000 dinar (1 dinar = 4,25 gr emas murni).

Sumber gambar ilustrasi: The-faith.com

Di luar mereka, orang-orang fakir dari kaum muslimin ada yang datang kepada Rasul saw.. Mereka begitu berharap bisa turut berjihad di perang Tabuk. Namun sayangnya, tak ada lagi kendaraan dan logistik yang bisa diberikan pada mereka. Mereka pun kembali dengan meneteskan air mata, dan kelompok ini kemudian dikenal sebagai al-Bukaa‘un (orang-orang yang menangis).

Peristiwa Tabuk, Membongkar Borok Kaum Munafik

Namun, di balik kisah-kisah mengharukan ini, terungkap pula banyak borok kemunafikan yang ada di tengah masyarakat Islam. Sulitnya medan yang akan ditempuh menjadi batu uji keimanan mereka yang sesungguhnya.

Adalah Abdullah Bin Ubay bin Salul, gembong Munafik Madinah, dia memanfaatkan momen ini untuk kembali memecah kekuatan umat Islam. Ia dan kelompoknya sengaja meminta izin untuk tidak turut berjihad dengan berbagai alasan. Bahkan ia provokasi orang-orang agar bersikap sebagaimana dirinya bersikap.

Apa yang dilakukannya, diabadikan dalam wahyu yang turun kepada Rasulullah saw.. Allah Swt. berfirman, “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah saw., dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, Api neraka jahanam itu lebih panas, jika mereka mengetahui.” (QS At-Taubah [9]: 81)

Di ayat lain disebutkan, “Di antara mereka ada orang yang berkata, Berikanlah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.(QS At-Taubah 49)

Bahkan, saat akan berangkat ke Tabuk, mereka meminta Rasulullah SAW datang meresmikan Masjid Dhirar yang baru selesai dibangun sejak setelah perang Uhud. Sebagaimana diketahui, masjid ini dibangun oleh kelompok munafik di daerah dekat Masjid Quba sebagai tempat makar untuk meracuni pemikiran kaum muslim tentang ajaran Islam.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Perang Tabuk, Membuka Front Peperangan dengan Romawi

Saat perjalanan pulang dari Tabuk itulah Rasulullah saw. mendapatkan wahyu yang membongkar perihal Masjid Dhirar dan makar kaum munafik. Yakni dengan turunnya surah At-Taubah ayat 107-110.

Lalu atas dasar wahyu Allah inilah, Rasulullah saw. menegakkan hukum yang tegas pada mereka. Beliau perintahkan para sahabat untuk membakar Masjid Dhirar berikut rumah salah seorang gembong munafikin yang biasa digunakan sebagai markas hingga mereka kocar-kacir karenanya.

Tabuk dan Penangguhan Tobat Tiga Sahabat

Memang di antara kaum Muslimin ada beberapa orang yang juga tidak ikut berperang. Namun itu bukan karena mereka ragu dan bimbang, melainkan dikarenakan mereka lalai atau menunda-nunda dalam menunaikan kewajiban.

Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Ar Rabi’, Hilal bin Umaiyah, dan Abu Khaitsamah. Hanya saja Abu Khaitsamah kemudian berhasil menyusul Rasulullah saw. di perjalanan menuju Tabuk.

Adapun Ka’ab misalnya, sesungguhnya ia sudah bersiap untuk berangkat. Bahkan kudanya pun sudah tertambat. Hanya saja hingga beberapa hari berlalu perbekalan yang diperlukannya belum ia dapatkan di pasar. Hingga jadilah ia salah satu yang tertinggal.

Betapa sedih dan menyesalnya ia karena telah berlambat-lambat dari kewajiban. Hingga ia yang selama ini tak pernah tertinggal dari berbagai peperangan kecuali perang Badar harus kehilangan kesempatan meraih kemuliaan dengan menjadi bagian Jaisyul Usrah.

Terlebih saat pasukan itu pulang, Rasulullah saw. menetapkan sanksi sosial yang begitu berat. Para sahabat, bahkan istrinya diperintah untuk mengucilkan dirinya. Hingga ia pun benar-benar merasakan kesempitan hidup yang tiada tara.

Lima puluh hari tentu bukan waktu yang sebentar baginya menanggung semua hukuman. Bukan hanya dia yang merasakan kesedihan, namun dua temannya yang tertinggal, bahkan Rasulullah saw. dan para Sahabat lainnya pun demikian. Namun waktu tak bisa diulang. Dan ia hanya bisa memurnikan pertobatan hingga Allah Swt. menjawab semua doa dan keresahannya.

Momen bahagia itu tiba saat Rasulullah saw. menerima wahyu perihal Ka’ab dan kawan-kawan. Di QS At-Taubah ayat 117-119, Allah langsung menerima pertobatan mereka dan disambut gembira kaum muslimin seluruhnya. Bumi yang dirasa sangat sempit berubah menjadi lega tiba-tiba.

Akhir Perang Tanpa Perang

Saat pasukan Heraklius tiba di Tabuk, mereka mendengar pasukan Muslim ternyata telah mendekati mereka. Perkiraan mereka benar-benar meleset. Pasukan muslim ternyata tak lemah seperti dugaan mereka. Jarak tempuh yang jauh, medan yang berat, dan perbekalan yang tak sedikit ternyata tak jadi penghalang bagi pasukan Muslim untuk menjawab tantangan musuh.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Perang Tabuk, Membuka Front Peperangan dengan Romawi

Inilah yang mengingatkan mereka akan kejadian perang Mu’tah. Namun, alih-alih menambah semangat, mereka justru dipenuhi kecemasan. Terlebih mereka akhirnya tahu pasukan kaum Muslim kali ini dipimpin langsung oleh Rasulullah saw..

Heraklius pun memutuskan untuk segera menarik mundur pasukannya ke kota Syam demi berlindung di dalam benteng-benteng mereka sendiri. Adapun pasukan Muslim terus merangsek menuju Tabuk. Sebagaimana disebut dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyah karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, beliau dan pasukannya berkemah di sana sekitar sebulan untuk meladeni siapa pun yang ingin berperang dengannya.

Selama di Tabuk, beliau melakukan berbagai aktivitas politik, berupa mengirimkan surat kepada penguasa-penguasa bawahan Romawi dan melakukan berbagai perjanjian dengan mereka. Hingga banyak di antara mereka rela memilih bergabung dengan negara Islam dan siap membayar jizyah sebagai syarat mendapatkan perlindungan dari negara Islam.

Semua manuver politik ini benar-benar kian mengukuhkan kedudukan Islam dan negaranya di seantero jazirah, bahkan hingga wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai kekaisaran Romawi.

Setelah kembalinya beliau ke Madinah, berbondong-bondonglah para penguasa kafir mendatangi Madinah. Sebagian menyatakan keislaman mereka, dan sebagian lagi menyatakan ketundukannya.

Adapun di dalam negeri, kekuatan kaum munafik kian lemah saja. Ketegasan beliau dalam menyikapi makar Masjid Dhirar, serta kian meningkatnya wibawa negara di hadapan negara adidaya membuat mereka berpikir panjang untuk kembali membuat makar. Mereka terpaksa menyembunyikan kebusukannya dalam jangka waktu yang panjang, sambil terus melihat-lihat kesempatan.

Khatimah

Meski tak ada kontak fisik di Tabuk, tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil oleh kaum muslim. Keimanan akan senantiasa menuntut pengorbanan. Pengorbanan ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang imannya benar.

Masyarakat Islam dan negaranya juga akan selalu mendapat tantangan, baik di dalam maupun di luar. Keimanan yang ada pada individu-individu masyarakat dan pemimpinnya serta ideologi yang tertancap sebagai landasan negara tampak menjadi kekuatan utama yang menentukan bisa tidaknya negara melewati berbagai rintangan. Bahkan, keduanya menjadi rahasia kebangkitan umat dan kemenangan dalam konstelasi internasional.

Sumber foto: Wikipedia

Sayang, kini Tabuk hanya dikenal sebagai tempat wisata. Namun, kisah di baliknya menyimpan pengajaran yang luar biasa bagi generasi umat yang sedang meniti kembali jalan kebangkitannya. [MNews/Gz]

Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.

Tinggalkan Balasan