Mengenal Sosok Syekh Ali Ash-Shabuni, Ulama Besar Penentang Rezim Assad

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Sosok ulama besar, ketua Asosiasi Cendekiawan Suriah, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, tutup usia pada usia 91 tahun, Jumat (19/3/2021), di Kota Yelwa, barat laut Turki.

Syekh Ash-Shabuni merupakan salah satu cendekiawan terkemuka, pengamat paling terkenal dalam sains, tafsir, hadis dan Al-Qur’an. Hingga wafatnya, dilansir dari Anadolu, Syekh masih menjabat sebagai presiden Asosiasi Cendekiawan Suriah. Beliau juga aktif menulis buku hingga mencapai 57 buku.

Beberapa bukunya yang paling terkenal di antaranya Shafwat at-Tafasir (terbit 40 tahun lalu), Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir, Muqtasar Tafsir al-Tabari, Al-Tibyan fi Ulum Al-Qur’an, Rawai’ al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam”, dan Qabas min Nur Al-Qur’an.

Selain menulis buku, Syekh Ash-Shabuni juga aktif berdakwah di layar kaca hingga lebih dari 600 episode tayangan televisi yang membahas tafsir Al-Qur’an, juga berdakwah keliling dunia Islam.

Penentang Rezim Zalim

Pada 2011-2012, sekitar sepuluh tahun silam, Syekh Ash-Shabuni (sebagai Ketua Persatuan Ulama Suriah) diwawancarai media televisi Aljazeera terkait pandangannya mengenai sikap rezim Basyar al-Assad.

Dari wawancara tersebut, terlihat sikap tegasnya yang memihak kepada perjuangan para mujahidin dan menentang bentuk kezaliman penguasa Basyar al-Assad.

Berikut petikan wawancara tersebut:

Tanya (T): Wahai Syekh, semenjak beberapa bulan sehingga sekarang, apa pandangan Syekh atas tindakan Presiden Basyar al-Assad atas rakyatnya yang menuntut? Adakah Anda melihat di sana ada kebaikan?

Baca juga:  Nazreen Nawaz: Anak-anak Ghouta Tidak Memerlukan lagi Resolusi Kosong

Jawaban Syekh Ali Ash-Shabuni (SAA): Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala pujian bagi Allah serta selawat dan salam atas Rasul (saw.) yang diutus sebagai pembawa rahmat ke seluruh sekalian alam.

Untuk pertama kalinya, kami datang untuk mengunjungi mereka yang berhijrah karena diusir dari kampung halaman mereka secara zalim dan permusuhan. Bukan karena apa pun, melainkan karena menuntut kebebasan dengan adil dan saksama.

Apakah tuntutan ini suatu kejahatan yang menyebabkan mereka disiksa? Apa yang kami inginkan (adalah) Tuan presiden membantu mereka yang dizalimi ini, tetapi kami tidak melihat kebaikan sedikit pun.

Semenjak dia (Basyar al-Assad, ed.) memikul tugas partai Baath ini, kami tidak melihat sejak beberapa bulan dan tahun. Kami tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun, bahkan semakin bertambah buruk dan bertambah dalam musibah.

Kami di sini datang untuk menyampaikan berita gembira kepada saudara kami di kalangan para Mujahidin dan Muhajirin, dengan semakin dekatnya kelapangan dari Allah, kelapangan pasti akan datang, kemenangan pasti akan datang juga kepada mereka yang ditindas.

Sebagaimana firman Rabbil Azza Wa Jalla, “Dan sesungguhnya adalah tanggung jawab Kami menolong orang-orang yang beriman.”

(T): Wahai Syekh, apa pesan Anda kepada seluruh rakyat Suriah yang keluar beramai-ramai ke jalan raya menuntut kebebasan?

(SAA): Aku katakan kepada mereka dengan jelas lagi terang, wahai semua saudara dan kekasihku, dan juga semua pemuda perubahan, tetaplah kalian semua di atas tujuan kalian. Namun, hendaklah kalian keluar secara aman karena aturan (undang-undang) menuntut demikian.

Baca juga:  Cerita Serangan Kimia Suriah: Paru-paru Serasa Mati, Mulut Berbusa

Maka, keluarlah dan buatlah perubahan, tetapi dengan tanpa senjata. Kemenangan pasti akan datang dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kenapa? Karena Allah akan senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang dizalimi.

Allah amat membenci kezaliman dan setiap mereka yang melakukan kezaliman, dan kalian semua sekarang sedang dizalimi. Ini adalah wasiat kepada kalian semua, hendaklah kalian semua keluar pada satu barisan yang dinamakan sebagai barisan menghentikan (kezaliman).

Keluarlah ke seluruh kawasan negeri, pada waktu yang sama, pada jam yang sama, untuk memberitahu kepada seluruh manusia yang kalian inginkan kemuliaannya, dan Allah menjanjikan kepada setiap orang yang zalim dengan balasan-Nya.

(T): Wahai Syekh, apa pandangan Anda kepada mereka yang ditindas oleh pihak aparat keamanan (Suriah)?

(SAA): Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa mereka (yang tertindas) adalah syahid fisabilillah, karena Rasul bersabda, “Semulia-mulia jihad adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim.” Pemerintah (Suriah) ini telah berlaku zalim.

(T): Syekh, apakah pendapat Anda terhadap tentara yang telah berlaku zalim pada mereka ini? Adakah ini suatu dosa?

(SAA): Tindakan mereka ini bukan saja berdosa, bahkan sebuah kejahatan besar, karena Allah menjadikan manusia itu mulia. Allah mengangkat dan memuliakan kedudukan anak Adam.

Baca juga:  Ghouta Dimusnahkan dan Kaum Wanitanya Mengangkat Senjata. Namun, Dimana Tentara Muslim?!

Maka, barang siapa yang mau meruntuhkan bangunan Allah berupa kemuliaan yang ada pada manusia, dia telah melakukan suatu dosa di antara dosa-dosa besar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman kepada kita, di dalam kitab-Nya yang mulia, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang berlaku zalim. Maka, kalau kamu berlaku demikian, api neraka akan membakar kamu.”

Apa makna rukn? Yaitu cenderung hati. Bagaimana bisa kita menaati pemerintah yang zalim, sedangkan Nabi saw. bersabda, “Tidak ada ketaatan pada makhluk pada perkara-perkara yang durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Maka, wajib bagi kita menghalangi walau (harus) memukul seseorang sekalipun, kemudian memberitahu bahwa permusuhan keras terhadap muslim tanpa haq, seandainya ada manusia yang meruntuhkan bata Ka’bah satu demi satu, itu lebih ringan kesalahannya daripada menumpahkan darah seseorang yang beriman.

Allah Swt. berfirman, “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam. Ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya, serta menyediakan baginya azab siksa yang besar.” Terdapat lima hukuman.

Orang beriman itu memiliki kehormatan dan kemuliaan. Tidak boleh memusuhi mereka sekalipun penguasa (pemimpin pemerintahan) memerintahkan supaya mereka dibunuh, tidak boleh kita taati, karena perintah itu telah melanggar hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [MNews/Gz]

Sumber media: Republika, Anadolu, dan cuplikan video Aljazeera.

Tinggalkan Balasan