As’ad bin Zurarah, Kaum Anshar Pertama yang Memeluk Islam

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Tahukah kita di balik berdirinya negara Islam pertama di Madinah, ada satu sosok yang memiliki peran sentral perjalanan Islam masuk Madinah? Dari dirinyalah Islam dikenal penduduk Yastrib (Madinah).

Atas dua baiatnya kepada Rasulullah Saw., ia membuka pintu cikal bakal berdirinya Daulah Islam Madinah. Berkat pertolongannya, Mush’ab berhasil menjalankan misi dakwah Rasul sebagai duta Islam di Madinah.

Dialah As’ad bi Zurarah, pemimpin Anshar dari suku Khazraj.

Awal Mula Masuk Islam

Makkah merupakan kota yang paling sering dikunjungi bangsa Arab dari wilayah lain. Tak heran Makkah mendapat julukan “Ummul Qura” (Induknya kota-kota).

Pada tahun  ke-13 Kenabian atau setahun sebelum hijrah, datanglah dua orang dari Madinah mengunjungi Makkah untuk berhaji. Mereka adalah As’ad bin Zurarah dan Dzakwan bin Abdu Qais.

Keduanya datang ke Mekah untuk mengunjungi kenalannya, yaitu Utbah bin Rabi’ah. Di tengah percakapannya, As’ad bin Zurarah curhat kepada Utbah tentang berbagai problemnya di Yatsrib termasuk konflik berkepanjangan antar dua kabilah: Aus dan Khazraj.

Utbah pun merespons curhatnya As’ad dengan berkata, “Kami pun sedang mendapatkan masalah baru yang telah menyita waktu kami sehingga tidak dapat berkomentar apa pun tentang masalah kalian.”

As’ad lalu bertanya, “Memangnya apa masalah kalian, bukankah kalian hidup dengan aman di tempat yang aman?”

Utbah menjawab, “Seorang pria telah muncul di tengah-tengah kami mengaku sebagai utusan Tuhan, ia menyebut kami tidak memakai akal, melecehkan para tuhan berhala kami, masyarakat kami menjadi terpecah belah dan pemuda kami menjadi rusak.”

As’ad heran lalu bertanya lagi, “Dari kabilah mana ia berasal?” Utbah menjelaskan, “Dia putra Abdullah bin Abdul Muthalib dan kebetulan dari keluarga terpandang.

Dia sekarang datang ke Masjidilharam, jika engkau kesana, jangan dengarkan ucapannya dan jangan bertutur satu kata pun dengannya, karena ia penyihir handal.”

“Aku harus ke sana karena aku sudah berihram dan akan melaksanakan tawaf di Ka’bah,” kata As’ad. Utbah pun menimpali, “Kalau begitu, letakkan sedikit kapas di telingamu agar ucapannya tidak terdengar olehmu.”

Kemudian As’ad bin Zurarah pun pergi dan masuk ke Masjidilharam dengan menyumpal kedua telinganya dengan kapas dan memulai tawaf.

Ia melihat Muhammad Saw. di samping Ka’bah dikelilingi sekelompok orang yang sedang mendengarkan ucapannya dengan seksama. Ia melirik ke kerumunan itu dan cepat-cepat berlalu.

Pada putaran yang kedua, As’ad bergumam, “Tidak ada orang yang lebih bodoh dari aku, bagaimanana mungkin sebuah cerita penting sedang diperbincangkan di Makkah, sementara aku tidak tahu apa-apa tentangnya.”

Lalu As’ad membuang kapas dari telinganya dan ikut duduk dalam kerumunan di sekitar Muhammad Saw. untuk mendengar ucapannya. Ia tidak menemukan apa pun yang disebut sihir oleh Utbah.

Apa yang didengarnya adalah cahaya petunjuk yang menerangi hatinya dan dapat diterima akalnya. As’ad pun mendekati Muhammad Saw. dan bertanya, “Kemana engkau akan mengajak kami?”

Nabi Muhammad Saw dengan tenang berkata, “Aku mengajak kalian kepada ajaran tauhid dan aku adalah utusan Allah Swt.” Nabi Muhammad Saw lalu membacakan QS al-An’am [06]: ayat 151 – 154.

As’ad bin Zurarah terpesona lantunan ayat-ayat Al-Quran. Hatinya terguncang hebat. Kemudian Ia pun mengucapkan syahadat, “Lailaaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

Cerita ini dapat ditemukan dalam kitab al–Thabaqat al-Kubra karya Muhammad bin Sa’ad al-Baghdadi atau populer dengan nama Ibnu Sa’ad.

Silsilah Keluarga

As’ada bin Zurarah merupakan putra dari Zurarah bin ‘Udas bin ‘Ubaid dan Su’ad al-Furai’ah binti Rafi’ bin Mu’awiyah. Ibunya adalah bibi Sa’ad bin Muadz.

Ayah As’ad adalah tokoh yang disegani dari Bani al-Najjar, yang kemudian pengaruhnya turun kepada As’ad, atau bahkan lebih besar pengaruh As’ad dibanding ayahnya.

As’ad menikah dengan perempuan bernama ‘Umairah binti Sahal bin Tsa’labah. Istrinya sama-sama dari kalangan Bani al-Najjar.

Dari pernikahan ini, As’ad memiliki tiga orang anak yaitu Habibah binti As’ad, Kabsyah, al-Furai’ah, semuanya masuk Islam bersama As’ad.

Menurut keterangan al-Thabaqat al-Kubra, sama seperti Rasulullah Saw., As’ad bin Zurarah tidak memiliki anak laki-laki yang hidup sampai dewasa.

Peran Besar As’ad

Kontribusi As’ad terhadap perjuangan Rasulullah mendakwahkan Islam sangat besar. Ia adalah orang Madinah pertama yang melakukan baiat aqabah pertama kepada Rasulullah, yaitu baiat keimanan terhadap nubuwat Rasulullah dan kebenaran risalah Islam yang dibawa beliau.

Baiat aqabah pertama ini terjadi pada musim haji tahun berikutnya. Dua belas orang laki-laki kaum Anshar. Salah satunya ialah As’ad bin Zurarah dan Dzakwan bin Qais yang pernah membersamainya saat berhaji ke Makkah.

As’ad, sosok yang paling cepat menerima kebenaran Islam. Tanpa ragu ia meyakini dan membenarkan risalah yang dibawa Nabi Saw. Dia juga menyertai duta dakwah Rasul di Madinah, yaitu Mush’ab bin Umair.

Saat Mush’ab diutus Nabi menjalankan misi dakwah di Madinah, As’ad-lah yang selalu membersamainya. Mengenalkannya pada penduduk Madinah serta menemaninya mendakwahi para pembesar suku Aus dan Khazraj di Madinah.

Saat As’ad dan Mush’ab masuk ke kebun milik Bani Abdul Asyhal, mereka duduk-duduk sembari dikelilingi orang-orang yang sudah masuk Islam.

Tatkala melihat hal itu, Sa’ad bin Muadz  berkata kepada Usaid, “Temuilah orang itu dan usirlah.” Usaid membawa tombak kecilnya, mempercepat langkahnya menuju Mush’ab yang saat itu menjadi tamu As’ad bin Zurarah.

Sesampai di rumah As’ad, Usaid melihat banyak orang yang sedang mendengarkan penjelasan Mush’ab. Melihat kedatangan Usaid, Mush’ab berkata, “Bagaimana kalau engkau duduk dan mendengarkan. Jika engkau puas dengan apa yang kami sampaikan, engkau bisa menerimanya. Jika kau tidak suka, kami akan hentikan apa yang tidak engkau sukai itu.”

Dari dialog itulah, cahaya Islam memasuki relung jiwa Usaid dan membuatnya menerima lalu masuk Islam. Dari situ pula, cerita masuk Islamnya Sa’ad bin Muadz bermula.

Jika dakwah Makkah menguat setelah masuknya Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Maka berdirinya negara Islam Madinah ada andil tiga tokoh Madinah, As’ad bin Zurarah, Usaid bin Hudhair, dan Sa’ad bin Muadz.

Sungguh besar peran As’ad untuk Islam. Perannya sangat menonjol tatkala Mush’ab menjadi duta Islam di Madinah, di antaranya:

  1. Ia menjadi orang pertama Madinah yang memeluk Islam.
  2. Sebagai fasilitator Mush’ab bin Umair selama berdakwah di Madinah
  3. Mengenalkan Mush’ab kepada para pembesar suku-suku di Madinah
  4. Mencukupi kebutuhan Mush’ab selama berada di Madinah

MasyaAllah…. Itulah sejatinya penolong agama Allah Swt. Saat impitan dan tekanan dakwah dialami Rasulullah Saw di Mekah, pertolongan itu datang dari Madinah lewat tangan As’ad dan sahabat Anshar lainnya.

Tidakkah terbesit dalam pikiran dan hati kita bercita-cita menjadi penolong-penolong agama Allah seperti mereka di masa sekarang? Meneladani jejak Anshar-nya Nabi Saw.

Jadilah penolong agama Allah seperti As’ad bin Zurarah, Usaid bin Hudhair, dan Sa’ad bin Muadz.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7). [MNews/Chs]

Refrensi: Khalid Muhammad Khalid. 2018. 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat. www.bincangsyariah.com

Tinggalkan Balasan