[Sirah Nabawiyah] Masuk Islamnya Bani Sa’ad bin Bakr


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Kekuatan pengaruh Negara Madinah dirasakan secara nyata oleh masyarakat di jazirah Arab. Bahkan pengaruhnya meluas hingga ke wilayah perbatasan yang menjadi kekuasaan Romawi.

Hal ini berdampak kepada berbondong-bondongnya delegasi bangsa Arab dari segala penjuru datang menemui Rasulullah Saw. Mereka datang untuk menyatakan keimanan dan loyalitasnya kepada Negara Islam.

Bani Saad bin Bakr Mengutus Dhimam bin Tsa’labah

Bani Sa’ad bin Bakr juga mengutus seseorang di antara mereka yaitu Dhimam bin Tsa’labah untuk menemui Rasulullah Saw di Madinah. Dhimam adalah seorang lelaki yang perkasa dengan rambut panjang terurai. Dia diutus oleh Bani Sa’ad untuk menanyakan beberapa hal tentang Risalah Islamiyah yang didakwahkan Rasulullah Saw.

Ketika sampai di Masjid Nabawi, Nabi Saw sedang duduk bersama para sahabatnya. Setelah Dhimam bin Tsa’labah berdiri di depan Rasulullah Saw, dia berkata, “Mana anak Abdul Muththalib di antara kalian?” Rasulullah Saw. menjawab, “Akulah anak Abdullah bin Abdul Muththalib.” Dhimam bin Tsa’labah berkata lagi, “Benarkah Anda yang bernama Muhammad?” Rasulullah Saw menjawab, “Ya betul.”

Delegasi Terbaik Menemui Rasulullah Saw.

Dhimam bin Tsa’labah berkata, “Wahai anak Abdul Muththalib, aku akan bertanya kepadamu. Meski aku kasar dalam bertanya kepadamu, namun engkau tidak perlu curiga kepadaku.” Rasulullah Saw. berkata, “Aku sedikit pun tidak curiga kepadamu, untuk itu silakan bertanya apa saja kepadaku.”

Nabi Saw. pun mengizinkannya bertanya apa pun yang terlintas di benaknya, dan berjanji tidak akan marah.

Baca juga:  Pemboikotan terhadap Dakwah Rasulullah Saw.

Dhimam bin Tsa’labah berkata, “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, Tuhanmu, Tuhan orang-orang yang sebelum kamu, dan Tuhan orang-orang yang akan diciptakan setelah kamu, apakah Allah telah mengutusmu sebagai Rasul kepada kami?” Rasulullah Saw., tetapi beliau menjawabnya dengan sabar, “Ya betul.”

Dhimam bertanya lagi, “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, Tuhanmu, Tuhan orang-orang yang sebelum kamu, dan Tuhan orang-orang yang akan diciptakan setelah kamu, apakah Allah telah mengutus kamu itu, memerintahkan kami hanya menyembah-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, dan supaya kami meninggalkan sesembahan nenek moyang kami ?” “Benar,” kata Nabi Saw. dengan sabarnya.

Dhimam bertanya lagi, “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, Tuhanmu, Tuhan orang-orang yang sebelum kamu, dan Tuhan orang-orang yang akan diciptakan setelah kamu, apakah Allah telah memerintahkan kamu untuk mengajak kami mengerjakan shalat lima waktu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Iya betul.”

Dhimam bin Tsa’labah masih mengulang-ulang lagi pertanyaan seperti itu, dengan menyebutkan berbagai macam perintah syariat seperti zakat, puasa, haji, dan lain-lainnya, yang selama ini telah didengarnya.

Ia juga menanyakan tentang beberapa larangan dalam Islam yang telah didengarnya, dengan cara dan redaksi yang sama. Nabi Saw. selalu menjawabnya dengan penuh kesabaran.

Baca juga:  Manhaj Sirah Nabawiyyah dan Tarikh Islam (Bagian 2/2)

Dhimam bin Tsa’labah Memeluk Islam

Dhimam bin Tsa’labah akhirnya berkata, “Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau, Muhammad adalah Utusan Allah. Aku akan melakukan perintah-perintah fardu tersebut dan meninggalkan apa yang telah engkau larang, dan aku tidak akan menambahkannya dan mengurangkannya.

Setelah itu ia mengucapkan terima kasih dan pamit kepada Nabi Saw., dan berpaling pergi untuk kembali kepada kaumnya.

Rasulullah Saw bersabda, “Jika orang yang mempunyai rambut berkepang dua tersebut-Dhimam bin Tsa’labah-jujur, maka ia akan masuk surga”.

Setelah Iman Langsung Menyeru kepada Islam

Ketika Dhimam telah sampai di tempat kaumnya, dan mereka berkumpul di sekitarnya, maka ucapan pertamanya adalah, “Persetan dengan Latta dan Uzza!”

Mendengar ucapannya itu mereka langsung kaget, dan berkata kepada Dhimam, “Wahai Dhimam, jangan sekali-kali engkau mencacinya (Latta dan Uzza), nanti engkau akan terkena penyakit kusta, lumpuh dan gila.”

Celakalah kalian,” Kata Dhimam membalas ucapan kaumnya itu, “Sesungguhnya kedua berhala itu tidak akan pernah bisa memberikan manfaat dan mudarat apa pun pada kalian. Sungguh Allah telah mengutus seorang Rasul dan menurunkan kepadanya kitab yang membebaskan kalian dari kesesatan. Sungguh aku telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah satu-satunya Tuhan, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku telah bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan sekaligus Rasul-Nya. Aku baru saja datang dari beliau dengan membawa apa yang beliau perintahkan kepada kalian dan apa saja yang beliau larang dari kalian.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Dari Propaganda Jahat Hingga Pemboikotan

Sungguh bersegeranya Dhimam bin Tsa’labah mendakwahkan Islam kepada kaumnya adalah karena dorongan keimanan. Akalnya puas dan hatinya tenang setelah mendapatkan jawaban langsung dari Rasulullah Saw.. Hal ini pula yang membuatnya berani mencela berhala -berhala yang menjadi sembahan orang-orang musyrik di hadapan mereka.

Begitu piawainya Dhimam mengajak dan mengajarkan Islam kepada orang-orang Bani Sa’ad bin Bakr, sehingga sebelum petang pada hari itu berakhir, mereka semua telah memeluk Islam. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw/Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji/Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan