Kesadaran Hukum Rakyat Khilafah pada Masa Khalifah Umar bin Khaththab ra.

MuslimahNews.com, TARIKH KHILAFAH — Jika hari-hari biasa sinar matahari begitu panas menyengat di Makkah dan Madinah, tidak hari itu. Embusan angin menyapu lembut ke setiap penjuru kota.

Menikmati kondisi tersebut, Umar bin Khaththab ra. bersama sahabat lainnya sedang duduk-duduk setelah mengerjakan urusan yang menjadi kewajibannya sebagai khalifah.

Umar ra. memang terkenal loyal dengan rakyat. Ia selalu melihat keadaan rakyatnya sebelum dia berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya yang membantunya dalam menjalankan pemerintahan.

“Salam, wahai Khalifah Umar. Semoga engkau selalu dalam keadaan baik.”

Umar ra. langsung menjawab salam dan balik mendoakannya. “Semoga engkau juga demikian, wahai anak muda,” kata Umar ra. kepada dua pemuda yang sedang memegangi seorang laki-laki dengan tangan terikat.

Setelah menjawab salam, pandangan mata Umar ra. tidak lagi tertuju ke dua orang pemuda itu, tetapi beralih kepada seseorang dengan tangan terikat yang datang bersama dua pemuda itu.

Meski mengetahui bahwa itu adalah ketakadilan, Umar tak tergesa-gesa berkesimpulan. Ia tidak mendahului bertanya sebelum mendengarkan penjelasan langsung dari kedua pemuda itu, mengapa ia membawa seseorang kepadanya dengan tangan terikat.

“Wahai Amirul Mukminin, pemuda ini telah membunuh ayah kami,” jelas kedua pemuda itu.

Pemuda yang terikat tangannya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dengarkanlah penjelasanku terlebih dahulu.”

Mendengar permintaan dari pemuda yang terikat tangannya itu, salah seorang di antara kedua pemuda itu berkata dengan nada tinggi, “Tidak, hal itu tidaklah penting. Kamu beruntung kami tidak melakukan balas dendam padahal ayah kami telah engkau bunuh. Kami justru membawamu kepada Khalifah Umar.”

Kondisi mulai tegang dan Umar ra. pun segera menenangkan mereka yang saling beradu pendapat. Umar kemudian meminta mereka untuk tidak emosi dalam memberi penjelasan.

“Lebih baik kalian berdua diam terlebih dahulu. Aku ingin mendengar cerita tentang kejadian sebenarnya,” kata Umar mulai membuka penyelesaian perkara.

Pemuda yang terikat tangannya segera bercerita. Sebelum tiba di sini, ia sedang menaiki seekor unta untuk pergi ke satu tempat. Karena terlalu letih, pemuda yang terikat itu tertidur. Namun, ketika terbangun, ia mendapati untanya telah hilang. “Lalu saya segera mencarinya,” katanya.

Tak jauh dari lokasi dia tertidur, pemuda itu melihat untanya sedang asyik memakan tanaman di sebuah kebun. “Lalu saya berusaha menghalaunya, tetapi unta itu tidak juga berpindah dari tempat dia berhenti.”

Tak lama kemudian, datanglah seseorang dan terus melempar batu ke arah untanya. Lemparan itu tepat ke arah kepala untanya. “Maka unta saya seketika itu juga mati,” kata pemuda itu.

Pemuda itu mengakui, setelah melihat untanya mati akibat lemparan batu tersebut, ia marah dan kesal. “Lalu saya mengambil batu dan melempar batu tersebut ke arah orang yang melempari untaku itu.” Tak disangka, batu itu mengenai kepalanya hingga lelaki itu jatuh tersungkur dan meninggal.

“Sebenarnya saya tidak berniat untuk membunuhnya,” kata pemuda itu kepada Umar ra..

Mendengar penjelasan sang pemuda, Umar ra. memutuskan bahwa ganjaran atas perbuatannya itu adalah kisas, yaitu hukuman mati. Pemuda itu ikhlas menerimanya.

“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakan kisas atasku. Aku rida pada ketentuan Allah, tetapi izinkan aku menunaikan semua amanah yang tertanggung dulu.”

Amanah yang tertanggung itu, katanya, bahwa dia masih memiliki seorang adik yang juga sudah ditinggalkan ayahnya. Sebelum meninggal, ayahnya itu telah mewariskan harta. “Dan saya menyimpannya di tempat yang tidak diketahui oleh adik saya,” katanya

Untuk itu ia meminta Khalifah Umar ra. berkenan memberi waktu selama tiga hari untuk pulang ke kampung agar ia bisa menyerahkan warisan dari orang tuanya kepada adiknya.

Mendengar permintaan itu, Umar ra. tidak buru-buru mengabulkannya sebelum ada yang memberikan jaminan. “Siapakah yang akan menjadi penjaminmu?” tanya Umar ra..

Pemuda itu tertunduk bingung siapa yang akan menjadi penjaminnya karena ia adalah orang asing. “Jadikan aku penjaminnya, Amirul Mukminin!” Sebuah suara berat dan berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Suara itu, seperti dikisahkan dalam buku 19 Kisah Sahabat Nabi, adalah suara Salman al-Farisi ra..

“Salman?!” hardik Umar ra..

Umar memberikan peringatan seakan meminta Salman ra. menarik kesediaannya sebagai penjamin dan Khalifah Umar ra. berkata, “Demi Allah, engkau belum mengenalnya! Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!” perintah Umar ra..

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap perintah Khalifah Umar, Salman berkata, “Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu, ya Umar. Aku percaya kepadanya sebagaimana engkau memercayainya,” kata Salman ra. yang membuat orang-orang tertegun mendengar kata-kata bermakna itu.

Dengan berat hati, Umar ra. melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman ra.. Sementara, dua pemuda yang ayahnya terbunuh itu harap-harap cemas.

Pada hari ketiga, Umar, para sahabat, serta dua lelaki itu menunggu pemuda tersebut. Hingga tengah hari, pemuda itu belum juga datang. Kedua lelaki tersebut mulai gelisah.

“Hari sudah siang, tetapi pemuda itu belum datang. Jika tidak  datang, Salman akan menjadi penggantinya menerima hukuman mati,” kata salah seorang lelaki itu.

Waktu sudah siang dan pemuda itu tidak kunjung datang. Salman dengan tenang dan tawakal melangkah ke tempat kisas sebagai penerima jaminannya.

Ketika Salman sudah berada di tempat akhir hukuman, tiba-tiba sesosok bayang-bayang berlari terengah dalam temaram, terseok, terjerembap, lalu bangkit dan nyaris merangkak.

Pemuda itu dengan tubuh berpeluh dan napas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar ra..

“Maafkan aku hampir terlambat!” ujar pemuda itu. Pemuda itu langsung menggantikan posisi Salman. Pemuda itu berterima kasih kepada Salman telah bersedia menjadi penjaminnya meski ia belum dikenalnya sama sekali.

Umar ra. protes atas keterlambatan pemuda itu. Namun, sang pemuda berkata, “Urusan kaumku memakan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun dan terpaksa kutinggalkan, lalu aku berlari (ke tempat pemutusan hukuman kisas).”

Sebelum melakukan hukuman, Khalifah Umar ra. berkata. “Demi Allah, bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?” kata Umar ra. sambil menenangkan dan memberinya minum.

Setelah menerima pemberian dari Umar ra., pemuda itu berkata sambil tersenyum, “Supaya jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan muslimin tak ada lagi kesatria tepat janji.”

Umar ra. mendekati Salman ra. yang tidak jauh dari pemuda yang akan dieksekusi mati itu. “Mengapa kau mau menjadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama sekali?”

Dengan tegas tetapi lembut menjawab pertanyaan Khalifah Umar ra., Salman ra. menjawab, “Agar jangan sampai dikatakan di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara.”

Kedua lelaki yang ayahnya telah terbunuh lalu merasa terharu dengan sikap sang pemuda dan keberanian Salman. Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kami mohon agar tuntutan kami dibatalkan. Kami telah memaafkan pemuda penepat janji ini.”

Mendengar perkataan tersebut, Khalifah Umar ra. bertanya, “Mengapa kalian berbuat seperti itu?”

“Agar jangan ada yang merasa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi saling memaafkan dan kasih sayang,” kata mereka.

Masyaallah, demikian tinggi kesadaran hukum di kalangan rakyat Khilafah. Hal ini merupakan hasil penerapan sistem yang adil oleh pemimpin yang adil. Kesadaran hukum itu mewujudkan kasih sayang pada sesama. [MNews/Rgl]

Dikutip dengan perubahan dari Republika.co.id.

Tinggalkan Balasan