[Editorial] Frasa “Agama” Jadi Polemik, Bukti Indonesia Sekuler Akut

MuslimahNews.com, EDITORIAL — “Tapi ternyata frasa agama penting untuk beberapa unsur masyarakat. Ya sudah, nggak apa-apa. Kita masukin lagi. Jadi nggak ada masalah, case closed ya mengenai ini.”

“Dan kalau misalnya dari aspirasi dari masyarakat, bahwa kata agama itu yang penting dalam frasa itu, ya kita silakan masuk di dalam peta jalan. Jadi nggak masalah. Jadi nggak perlu panik, nggak perlu menciptakan polemik, kita terbuka dan nggak ada masalah.”

DUA pernyataan itu dikutip langsung dari laman detik.com terbitan Rabu (10/3/2021), disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, menanggapi polemik di tengah masyarakat terkait hilangnya frasa “agama” dalam rumusan Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035.

Nadiem mengaku kaget mendapati polemik soal ini “makin liar” di masyarakat. Ia menjamin pemerintah tak pernah berencana menghilangkan mata pelajaran agama. Menurutnya, agama bukan cuma penting, tapi esensial dalam pendidikan bangsa kita.

Ia juga menegaskan, peta jalan pendidikan dirancang dengan ekosistem pendidikan yang menghasilkan anak-anak Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Sehingga menurutnya, masyarakat tak usah khawatir berlebihan.

Pepatah mengatakan, “Tak ada asap kalau tak ada api.” Respons masyarakat yang keras terkait masalah ini tentu tak muncul dengan sendirinya. Terlebih respons itu datang dari kalangan tokoh masyarakat, para intelektual, praktisi, ormas, maupun parpol berbasis massa Islam di Indonesia.

Faktanya, mereka kompak mempertanyakan, mengapa frasa sepenting itu bisa hilang dalam draf atau rancangan peta jalan pendidikan? Padahal, peta jalan itu akan menjadi acuan kerja dalam pembangunan pendidikan di Indonesia untuk puluhan tahun ke depan.

Terlebih, masyarakat sudah sangat trauma. Pelajaran agama selama ini dimarginalkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Mereka pun mendapati fakta, potret generasi output pendidikan hari ini kian buram dan jauh dari karakter pemimpin peradaban.

Mereka yang concern terhadap masalah generasi, tentu sangat prihatin melihat sistem pendidikan hari ini hanya mampu melahirkan mesin-mesin pekerja alias robot-robot pengabdi di dunia industri. Cerdas iya, tapi minus visi di luar kepentingan sendiri. Perkara adab? Jangan ditanya lagi!

Itulah mengapa, tak sedikit orang tua memilih menarik anaknya untuk “dididik sendiri”, atau bersama komunitas, mereka menggagas lembaga-lembaga pendidikan yang dipandang bisa lebih menyelamatkan. Meski akhirnya begitu besar usaha yang harus dikeluarkan.

Namun masalahnya, bagaimana nasib mereka yang tak punya akses terhadap pendidikan alternatif seperti ini? Mereka yang mayoritas tetap saja harus berpuas diri dengan sistem pendidikan yang sudah di-setting asal jalan. Agama kian dimarginalkan, sementara kondisi masyarakat kian jauh dari kewarasan.

PERNYATAAN enteng Mendikbud tadi sebetulnya cukup mengonfirmasi, posisi agama memang kian tak dianggap penting dalam sistem pendidikan Indonesia.

Jika dipandang penting, tentu tak harus muncul polemik soal perlu tidaknya frasa agama dalam rancangan peta jalan pendidikan. Apalagi dibilang, “Jika itu aspirasi, ya silakan.”

Maka berarti tak perlu lagi bertanya-tanya, “Kok, bisa?”

Sejak Indonesia diproklamasikan merdeka, para founding father memang sudah yakin memilih sekularisme sebagai fondasi bernegara. Itulah kenapa tujuh kata sakral di piagam Jakarta ditolak mentah-mentah dengan berbagai cara. Syariat Islam? “No way!” katanya.

Tak heran jika ruh sekularisme selalu mewarnai kebijakan di berbagai bidang kehidupan, termasuk sistem pendidikan. Agama diakui, tapi cukup di ranah individu. Tak boleh turut campur mengatur urusan bernegara. Sebab, membawa agama di kehidupan publik justru akan berbahaya.

Sehingga, bisa jadi kalimat “mewujudkan manusia Indonesia beriman dan bertakwa” selalu muncul dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Tapi yang dimaksud tentu bukan “menciptakan manusia yang siap taat pada Allah dan Rasul-Nya”, apalagi “siap menjalankan syariat Islam seutuhnya dalam kehidupan bernegara”.

Sistem pendidikan justru digunakan untuk menciptakan generasi yang loyal pada sekularisme dan siap mempertahankan sekularisme sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara.

Maka, itulah yang tampak dalam rancangan kurikulum dan metode pembelajaran yang dikembangkan dari masa ke masa. Agama kian tereliminasi dari jatah jam pelajaran, kontennya kian dimoderasi hingga kehilangan ruh dan kekuatan.

DOMINASI paradigma sekularisme dalam sistem pendidikan di Indonesia memang tak bisa dipisahkan dari situasi politik global yang menyertai sejarah “kemerdekaan” Indonesia.

Sejak lama, Indonesia terposisi sebagai objek penjajahan bagi negara-negara adidaya. Kondisi ini tak pernah sedikit pun berubah. Yang berubah hanyalah siapa yang menjajah.

Terlebih, politik pendidikan merupakan instrumen strategis untuk membentuk mentalitas sebuah bangsa. Para penjajah—yakni negara-negara adidaya pengusung kapitalisme—berikut para penguasa loyalisnya sangat berkepentingan memastikan ranah ini jauh dari semua hal yang bisa membalik keadaan.

Sejalan dengan penancapan kapitalisme global itulah, mereka mengubah arah pendidikan di negara-negara dunia ketiga, terkhusus negeri yang berlatar Islam.

Mereka coba meyakinkan bahwa pendidikan hanyalah instrumen meraih kesejahteraan, yang melulu berbicara soal produksi, konsumsi, distribusi, dan pertumbuhan ekonomi.

Lalu bagaimana dengan agama? Cukup jadi pemanis saja, agar negeri ini tak dibilang mengkhianati asas negara Pancasila, khususnya sila Ketuhanan yang Maha Esa.

Tak heran pula jika dunia pendidikan begitu sarat narasi soal peningkatan sains, teknologi, dan industrialisasi. Juga soal program vokasional, konsep link and match lembaga pendidikan dan industri, riset-riset berbasis industri, serta hal-hal lain yang mengebiri fungsi pendidikan menjadi sekadar alat mencapai tujuan-tujuan materi. Jauh dari fungsi menciptakan generasi pemimpin yang agamis dan mandiri.

Lantas, siapa yang diuntungkan dari politik semacam ini? Tentu pihak-pihak yang menguasai sumber-sumber ekonomi dan hendak menguasai pasar produksi.

Tak lain dan tak bukan adalah para kapitalis dan negara-negara pengusung ideologi kapitalisme yang berkolaborasi dengan para penguasa di negara-negara jajahan mereka.

KONDISI ini tentu penting disadari umat Islam. Hegemoni kapitalisme global tak akan pernah bisa dihentikan manakala mereka masih mempertahankan sekularisme sebagai landasan kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.

Dengan asas rusak seperti ini, pendidikan akan terjauhkan dari tujuannya yang hakiki, yakni menciptakan manusia yang menyadari kemanusiaannya sebagai hamba Allah Swt., sekaligus menyadari visi besarnya sebagai pemakmur bumi (khalifah fil ardhi).

Tujuan mulia seperti ini memang hanya mungkin diwujudkan melalui sistem pendidikan Islam yang ditunjang keberadaan sistem politik, ekonomi, pergaulan, serta sistem-sistem lainnya yang juga harus berparadigma Islam. Dengan kata lain, ada supporting systems dari negara yang menerapkan aturan Islam seutuhnya.

Tak heran, di masa kepemimpinan Islam tegak, yakni saat negara Islam (Khilafah) hadir menaungi kehidupan umat Islam, lahir generasi umat yang berkepribadian Islam, cerdas, dan berkarakter pemimpin.

Hingga saat itu, umat Islam mampu menjadi pionir peradaban cemerlang, menjadi sebaik-baiknya umat di seantero jagat.

Tak tanggung-tanggung, peradaban agung itu mampu tegak hingga 14 abad. Berbagai kemajuan materiel yang disertai taraf hidup yang tinggi mampu diraih tanpa memunculkan kerusakan sebagaimana terjadi saat ini. Fitrah manusia benar-benar terjaga, bumi benar-benar terkelola dengan baik, dan rahmat benar-benar meliputi seluruh alam.

HARI INI, upaya mengembalikan peradaban Islam terus mendapat tentangan. Musuh-musuh Islam terus mengerahkan segala daya agar umat terjauhkan dari rahasia kebangkitan mereka, yakni dijadikannya Islam sebagai landasan pengaturan dalam seluruh aspek kehidupan.

Apa yang sedang terjadi di negeri ini adalah salah satu bukti, dan situasi seperti ini memang sunatullah terjadi. Allah Swt. berfirman,

يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّآ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32)

Sungguh, di ayat ini Allah menjanjikan, bagaimanapun upaya musuh, Dia tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya. Hanya saja, Allah Swt. rupanya sedang memberi kita kesempatan untuk meraih kemuliaan sebagaimana kemuliaan para Sahabat Nabi radhiyallaahu ‘anhum.

Yakni, menjadi para pejuang pembela agama Allah, hingga peradaban Khilafah Rasyidah kedua yang dijanjikan benar-benar akan mewujud kembali. Pada saat itu, peta jalan pendidikan akan benar-benar menjadi peta ke arah kebaikan, bukan peta ke arah kesesatan. [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan