[Sirah Nabawiyah] Bergabungnya Bani Tamim dengan Negara Islam


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Setelah Rasulullah ﷺ menaklukkan Makkah, sepulang dari Tabuk, orang-orang Tsaqif masuk Islam dan berjanji setia kepada beliau ﷺ.

Rasulullah ﷺ juga memberi tenggang waktu empat bulan kepada kabilah-kabilah bangsa Arab yang masih musyrik untuk menentukan nasib mereka sendiri, sebelum Negara Islam menentukan sikap tertentu terhadap mereka.

Keadaan itu diikuti dengan datangnya secara berbondong-bondong para delegasi bangsa Arab dari segala penjuru kepada Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanan dan loyalitasnya.

Delegasi Bani Abdu Qais, Tamim, Amir, Bani Hanifah, Thaiy, al Azd, Hamdan, Tajib, Bani Tsa’labah, Bani Saad Hudaim dari Qudha’ah, Fazarah, Asad, Bahra’, Bali, Marrah, Khaulan, Maharib, Shada’, Ghassan, Salaman, an-Nakh’, Kindah, Zabid, Ghamid, dan lainnya.

Sehingga terwujudlah firman Allah Swt.,

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.” (QS An Nashr: 1–3)

Datangnya Delegasi Bani Tamim

Utharid bin Hajib bin Zurarah bin Udus At-Tamimi datang kepada Rasulullah ﷺ bersama tokoh-tokoh Bani Tamim, di antaranya Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi, Az-Zibriqan bin Badr At-Tamimi salah seorang warga Bani Sa’ad, Amr bin Al-Ahtam, dan Al-Habhab bin Yazid.

Di delegasi besar Bani Tamim juga terdapat Nu’aim bin Yazid, Qais bin Al-Harits, dan Qais bin Ashim saudara Bani Sa’ad. Juga terdapat Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr al-Fazari.

Baca juga:  Mengangkat Para Wali untuk Daerah Kekuasaan Negara Islam

Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra’ bin Habis ikut menghadiri penaklukan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif bersama Rasulullah ﷺ. Ketika delegasi Bani Tamim menghadap Rasulullah ﷺ, keduanya ikut bersama mereka.

Sebab Turunnya Surah al-Hujurat ayat 4

Ketika delegasi Bani Tamim masuk ke masjid, mereka memanggil Rasulullah ﷺ dari belakang bilik beliau, “Hai Muhammad, keluarlah engkau kepada kami.” Rasulullah ﷺ merasa terganggu dengan teriakan mereka, kemudian beliau keluar menemui mereka.

Berkaitan dengan sikap mereka ini, Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu (Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS al-Hujurat: 4).

Mereka berkata, “Hai Muhammad, kami datang kepadamu untuk menyaingimu, oleh karena itu, izinkan penyair dan orator kami untuk berbicara.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku memberi kepada orator kalian, jadi silakan ia berbicara.”

Adu Orasi dan Syair

Utharid bin Hajib berdiri dan berkata,

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami keutamaan dan karunia, karena Dialah yang berhak untuk dipuji.

Dia telah menjadikan kami sebagai raja-raja, menganugerahkan harta yang banyak sekali kepada kami, kemudian kami berbuat baik dengan harta tersebut, menjadikan kami sebagai orang-orang Timur yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan paling lengkap persenjataannya.

Siapakah di antara manusia yang bisa seperti kami? Bukankah kami adalah pemimpin-pemimpin manusia dan pemilik segala kelebihan mereka?

Barang siapa dapat menyaingi kami, silakan ia mengemukakan kelebihan-kelebihannya seperti yang telah kami sebutkan. Jika kami mau, kami bisa berkata banyak, namun kami malu mengemukakan dengan panjang lebar apa saja yang diberikan kepada kami.

Hal tersebut kami ketahui. Inilah yang kami katakan dan hendaklah kalian berkata seperti yang telah kami katakan dan bahkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah kami sebutkan.”

Usai berkata seperti itu, Utharid bin Hajib duduk. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Tsabit bin Qais bin Asy-Syammasy saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, “Hai Tsabit, berdirilah dan jawablah apa yang dikatakan orang tadi dalam orasinya.”

Kemudian Tsabit bin Qais bin Asy-Syammasy menyampaikan orasinya,

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Interaksi Militer Negara Islam Madinah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi. Dia memberikan keputusan-Nya di antara langit, ilmu-Nya meliputi kursi-Nya  dan tidak ada sesuatu apa pun melainkan berasal dari karunia-Nya.

Dia menjadikan kami sebagai raja-raja dan memilih makhluk-Nya yang paling baik sebagai Rasul yang paling mulia nasabnya, paling benar tutur katanya, paling baik anak keturunannya, Allah menurunkan Kitab-Nya kepada beliau, dan memberi beliau kepercayaan atas makhluk-Nya. Jadi, beliau adalah pilihan Allah dari alam semesta.

Kemudian beliau mengajak manusia kepada beriman kepada beliau, kemudian orang-orang yang beriman kepada Rasulullah ﷺ adalah kaum Muhajirin dari kaum beliau dan sanak kerabat beliau yang merupakan manusia yang paling mulia keturunannya, manusia paling tampan wajahnya, dan manusia yang paling baik amal perbuatannya.

Kemudian manusia yang pertama kali memenuhi panggilan Allah ketika mereka didakwahi Rasulullah ﷺ adalah kami. Kami adalah penolong-penolong (Anshar) Allah dan pembela-pembela beliau. Kami memerangi manusia hingga mereka beriman kepada Allah.

Barang siapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, darah dan hatinya terlindungi oleh kami. Barang siapa kafir, kami memeranginya karena Allah selama-lamanya, karena pembunuhannya bagi kami adalah sesuatu yang sangat mudah.

Ini yang aku katakan dan aku minta ampunan kepada Allah untukku, kaum mukminin, dan kaum mukminah. Wassalamu alaikum.”

Orasi Utharid penuh dengan semangat jahiliah. Dia sangat membanggakan kekayaan dan keturunan. Sedangkan orasi Tsabit penuh dengan semangat keimanan. Dia mengembalikan setiap keutamaan kepada Allah. Baginya, tidak mungkin memiliki sesuatu apa pun kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah. Namun hal itu tidak membuat orang beriman malas beramal dan berjihad untuk menolong Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Memperkuat Pengaruh Negara Islam Madinah

Az-Zibriqan bin Badr berdiri untuk membacakan syair di hadapan Rasulullah ﷺ. Namun, beliau ﷺ meminta agar pembacaan syairnya ditunda hingga Hasan bin Tsabit datang. Kemudian az-Zibriqan membacakan syairnya hingga selesai dan Hasan menjawab syairnya.

Setelah selesai adu orasi dan syair, mereka masuk Islam. Rasulullah ﷺ memberi mereka hadiah-hadiah terbaik. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press.

Tinggalkan Balasan