Isu Pulihnya Ekonomi Amerika, Ancaman bagi Ekonomi Indonesia?

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Beberapa waktu lalu, katadata (9/3/2021) mengutip laporan Bloomberg, media rujukan dunia untuk berita dan analisis para pelaku ekonomi, yang melaporkan soal pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Indikatornya tercermin dari data tenaga kerja, percepatan vaksinasi Covid-19, dan disetujuinya kebijakan stimulus fiskal jumbo AS sebesar US$1,9 triliun.

Stimulus fiskal tersebut diramal akan mendorong penyerapan sekitar enam juta lapangan kerja. Pemulihan ekonomi juga terlihat dari data Non-Farm Payroll AS di sektor swasta nonpertanian yang mencapai 379 ribu pada Februari 2021. Data ini meningkat dibandingkan Januari yang tercatat 166 ribu. Selain itu, tingkat pengangguran AS turun dari 6,3% menjadi 6,2%.

Keyakinan bahwa perekonomian AS akan membaik, mendorong investor untuk kembali ke negeri dengan ekonomi terbesar dunia itu. Modal asing pun bergerak ke Negeri Paman Sam, meninggalkan negara berkembang termasuk Indonesia sehingga akhirnya menekan rupiah.

Nilai tukar rupiah pada pasar spot diketahui melemah 0,46% sepanjang pekan lalu, ditutup di posisi Rp14.300 per dolar AS. Rupiah anjlok akibat keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.

Narasi yang Berlebihan

Pengamat ekonomi syariah, Nida Sa’adah berpendapat, derasnya narasi pemberitaan mengenai ekonomi AS pulih lebih cepat, sepertinya terlalu berlebihan. Sebab menurutnya, resesi ekonomi dunia hari ini berbeda kasus dengan resesi ekonomi yang selama ini terjadi secara periodik.

Baca juga:  Virus Corona Mengganas, Ekonomi Indonesia Terimbas

Menurutnya, bisa jadi selama ini AS dan berbagai negara maju lainnya masih bisa mengatasi mandeknya ekonomi dengan stimulus fiskal. Namun, untuk situasi ekonomi dunia hari ini, belum tentu demikian.

“Stimulus fiskal dalam situasi resesi ekonomi sebelum-sebelumnya memang berpengaruh besar pada roda ekonomi sekuler, karena bisa memacu laju ekonomi di sektor riil yang sebetulnya memang menjadi tumpuan roda perekonomian. Sementara, ekonomi sekuler yang menjadikan sektor nonriil atau pasar finansial sebagai pasar terbesarnya untuk menambah laju kekayaan, senantiasa mengalami kolaps secara siklik,” tegasnya.

Tidak heran, menurut pandangan Nida, pasar finansial ini sejatinya adalah basis ekonomi riba, yang sebetulnya menjadi parasit ekonomi. Hanya saja, selama ini keguncangan sektor nonriil masih tertolong dengan menggerakkan sektor riil, antara lain dengan stimulus fiskal. Jika formula yang sama dilakukan hari ini, ia menegaskan tentu hasilnya tidak akan sama.

“Justru yang mengalami persoalan akut hari ini sampai ke ranah sektor riil,” terangnya.

Masyarakat Masih “Wait and See”

Dampak menyebarnya wabah telah membuat banyak orang bertindak sangat hati-hati. Mereka cenderung mengurangi kegiatannya di luar, dan tentu saja berdampak pada tingkat permintaan barang dan jasa di masyarakat. Selama wabah belum berhasil diatasi, perilaku masyarakat ini bisa jadi tidak akan berubah.

Baca juga:  Jungkir Balik Anggaran Penanggulangan Covid, Akankah Kondisi Lebih Baik?

Oleh karenanya, menurut Nida, derasnya opini media AS bahwa di sana juga terjadi percepatan program vaksinasi—tentu dengan tujuan opini masyarakat akan lebih optimis berkegiatan—bisa jadi juga tidak banyak berpengaruh.

“Masyarakat dunia dalam posisi hari ini bisa jadi wait and see, melihat progress, betulkah opini yang dijanjikan dalam program vaksinasi akan berhasil mengatasi keadaan? Sehingga, selama belum ada indikator nyata, sepertinya belum bisa disimpulkan bahwa everything is fine, go back to normal,” urainya.

Melirik Nilai Tukar Mandiri, Emas dan Perak

Nida meyakinkan, satu hal yang pasti, dalam masyarakat sekuler yang tidak peduli halal dan haram, naiknya tingkat suku bunga selalu menjadi daya tarik yang dikejar para investor untuk dapat keuntungan berlipat-lipat.

“Kenaikan tingkat suku bunga yang berpengaruh pada mata uang, pada obligasi, dan lain-lain membuat investor akan lebih memilih mata uang Amerika dan berbagai surat berharga lainnya. Seraya melepas investasinya di negeri-negeri berkembang, termasuk Indonesia,” imbuhnya.

Hal ini tentu berdampak tidak mengenakkan bagi rupiah sebagai mata uang yang masih menjadikan dolar Amerika sebagai acuannya. Situasi ini, jelasnya, akan berbeda jika negeri ini mau menggunakan mata uang yang mandiri yang diajarkan Islam, yakni mata uang emas dan perak.

Baca juga:  [News] Proyek Ibu Kota Baru Berlanjut, untuk Pemulihan Ekonomi Rakyat?

“Dengan nilai tukar yang mandiri, yakni emas dan perak, tidak mudah guncang akibat kebijakan ekonomi yang dilakukan negara luar,” pungkasnya. [MNews/SNA-Gz]

Tinggalkan Balasan