[Tapak Tilas] Ujian Iman di Lembah Hunain

Tak ada yang bertahan di medan perang kecuali Rasul saw, ‘Abbas, dan sekelompok kecil dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta ahlulbait beliau. Saat itu, beliau dan ‘Abbas menyeru manusia yang telah lari tunggang langgang dari medan perang dengan ucapan, “Di mana kalian berada, hai manusia?!”


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Lembah Hunain kini hanya tinggal kenangan. Dari waktu ke waktu, lanskapnya terus berubah sejalan proyek pembangunan yang dilakukan pemerintahan Saudi Arabia. Termasuk pembangunan jalan tol yang menghubungkan kota Makkah dan wilayah Thaif.

Sebelumnya, di sana ada kompleks makam syuhada Hunain yang cukup besar. Namun konon, yang tersisa saat ini hanyalah kompleks makam empat syuhada. Itu pun lokasinya persis di pinggiran jalan raya.

Sumber gambar: video riseTAFDI, 2019

Di masa Rasulullah saw., area ini dikenal sebagai lembah sempit yang diapit dua buah bukit. Di sana terdapat mata air yang disebut mata air Hunain  (ماء حنين). Terletak sekitar 32 km dari kota Makkah dan sudah lebih dekat ke daerah Thaif.

Sumber gambar: googlemaps

Dalam sejarah Islam, lembah ini sempat menjadi tempat pertarungan yang begitu dahsyat antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Dan bagi kaum muslim, peperangan ini memberi pelajaran penting yang tak bisa dan tak boleh dilupakan. Yakni Perang Hunain.

Sumber foto: Suaramuhammadiyah, 2015

Pelajaran Pertama di Lembah Hunain

10 Ramadan tahun ke-8 Hijriah (630 M), Kota Makkah akhirnya ditaklukkan tanpa peperangan. Manuver Rasulullah saw. di tahun sebelumnya, yakni membawa rombongan haji yang berakhir dengan perjanjian damai di Hudaibiyah, betul-betul berhasil dengan gemilang.

Gambar ilustrasi peristiwa Futuh Makkah. Sumber gambar: umma.id

Namun bukan berarti tanpa tantangan. Keberhasilan strategi politik Rasulullah saw. tersebut rupanya menimbulkan kedengkian dari suku Arab sekitar Makkah. Terutama dari Bani Hawazin, Nashr, Jusyam, dan Bani Tsaqif di Thaif yang sejak lama memusuhi dakwah Islam.

Bani-bani ini rupanya merasa khawatir setelah Rasulullah saw. menaklukkan kota Makkah, mereka pun akan diserang. Itulah yang mendorong Malik bin Auf, salah satu pemimpin bani Nashr, segera menghimpun kekuatan dari kabilah-kabilah yang ada di bani-bani tersebut.

Tak hanya kaum laki-laki yang diajak ke medan perang. Malik bin Auf bahkan meminta agar para istri dan anak-anak bahkan harta benda mereka dibawa ke kancah perang. Tujuannya, agar seluruh pasukan tak ada alasan untuk lari dari peperangan karena ada yang harus dibela mati-matian.

Rencana itu pun terdengar Rasulullah saw.. Lalu beliau memobilisasi pasukan hingga terkumpul sekitar 12.000 orang. 10.000 berasal dari rombongan yang beliau bawa dari Madinah, dan 2.000 orang dari penduduk Makkah yang baru saja masuk Islam pasca futuhat.

Maka di hari ke-15 pasca-futuh Makkah itu, berangkatlah beliau dan pasukannya menuju lembah Hunain yang dipilih sebagai medan perang. Sayang jumlah pasukan yang besar membuat sebagian dari mereka disusupi kesombongan. Mereka berkata, bahwa di perang ini mereka tak mungkin dikalahkan.

Baca juga:  Kabsyah binti Rafi' ra (Kematian Putranya Mengguncang 'Arsy di Langit)

Rupanya, pasukan musyrik sudah lebih dulu sampai di lembah Hunain. Mereka membangun pertahanan di gua-gua yang ada di area perbukitan. Mereka menunggu kedatangan pasukan muslim dan merencanakan serangan mendadak sebagai strategi memenangi peperangan.

Adapun kaum muslim, mereka sempat beristirahat semalam di mulut lembah Hunain. Baru di saat fajar, pasukan dari Bani Salim di bawah komando Khalid bin Walid memasuki area peperangan.

Saat itulah pasukan musyrik menghujani mereka dengan panah. Hingga pasukan Khalid berlarian ke luar lembah dan mengacaukan pertahanan pasukan Muslim yang lainnya.

Sumber gambar: slideshare.net

Ketakutan pun begitu menguasai pasukan muslim, hingga mereka lari meninggalkan Rasul saw., padahal beliau berada di ujung belakang pasukan tanpa ada perlindungan atau pengawalan dari mereka.

Tak ada yang bertahan di medan perang kecuali Rasul saw, ‘Abbas, dan sekelompok kecil dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta ahlulbait beliau. Saat itu, beliau dan ‘Abbas menyeru manusia yang telah lari tunggang langgang dari medan perang dengan ucapan, “Di mana kalian berada, hai manusia?!”

Namun, saat itu tak seorang pun yang menyambut panggilan Rasulullah saw., terlebih pasukan musyrik terus menikam dan menghujani mereka dengan panah.

Saat itu mulailah terdengar komentar-komentar sinis kaum munafik di kalangan mereka yang baru masuk Islam. Rupa-rupanya mereka masih menyimpan dendam dan kedengkian kepada umat Islam.

Di tengah situasi kritis itu, Rasulullah saw. dan beberapa Sahabat memilih tetap bertahan. Seraya terus berteriak bersama ‘Abbas mengingatkan umat Islam dengan jati diri mereka sesungguhnya.

“Wahai kaum Anshar yang menolong Nabi-Nya! Wahai kaum yang membaiat Nabi di bawah pohon surga! Ke mana kamu akan pergi? Nabi berada di sini!

Demi mendengar teriakan itulah, kaum muslimin mulai tersadar. Mereka pun mulai berbalik ke medan perang dan menyambut seruan itu dengan teriakan “Labbaik! Labbaik!” Mereka pun kembali bertempur habis-habisan membela kemuliaan Islam dan melindungi Nabi mereka.

Maka, tak lama kemudian, situasi pun menjadi berbalik 180 derajat. Pasukan muslim berhasil mencerai-berai pasukan musyrik, hingga banyak dari mereka yang terbunuh dan sebagiannya lagi lari tunggang-langgang, meninggalkan keluarga dan harta benda yang mereka bawa.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Hudaibiyah, Tempat Miqat yang Sarat Sejarah Perjuangan Rasulullah

Saat itu, pasukan muslim sempat mengejar mereka hingga ke daerah bernama Authas dan Nakhlah. Sempat pula mengepung mereka di benteng Thaif selama beberapa hari lamanya.

Namun dikisahkan, benteng Thaif sangat sulit ditaklukkan meskipun Rasulullah telah meminta suku Daus untuk menembusnya dengan menggunakan senjata pelontar (manjanik) serta senjata dababah (pendobrak pintu benteng).

Bahkan beliau sempat menggunakan taktik menggunduli pohon untuk memutus logistik pasukan musuh.

Akan tetapi, pengepungan akhirnya dihentikan karena hilal bulan Dzulqa’dah telah tampak. Rasul saw. memutuskan kembali dari Tha’if menuju Makkah dan singgah di Ji’ranah, tempat penyimpanan ganimah dan tawanan mereka.

Di perjalanan itulah, Malik bin Auf dan pasukannya mendatangi beliau. Mereka menyatakan menyerah dan meminta keluarga dan hartanya dikembalikan.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an yang turun di lembah Hunain:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS At-Taubah [9]: 25-27)

Pelajaran Kedua di Lembah Hunain

Pertempuran di lembah Hunain telah memakan korban yang sangat banyak di kedua belah pihak. Bahkan disebutkan dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyah karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, di pihak muslim ada dua kabilah yang musnah hingga Nabi saw. salat gaib untuk mereka.

Area makam syuhada Hunain sebelum proyek pembangunan. Sumber foto: detik.com, 2019.

Perang itu juga meninggalkan begitu banyak rampasan perang, baik berupa fai’ maupun ganimah, hingga semua itu menjadi ujian tersendiri bagi pasukan muslim.

Disebutkan dalam kitab yang sama, ganimah yang didapat kaum muslimin jumlahnya 22.000 ekor unta, 40.000 ekor kambing, dan 4.000 auqiah perak. Sementara, gadis-gadis dan wanita-wanita Hawazin yang tertawan sebanyak 6.000 orang, dan sebelum mengepung Thaif, mereka diboyong ke lembah Ji’ranah sebagai tawanan.

Saat itu, pasukan kaum muslim menuntut pembagian secara adil. Namun, Rasulullah hanya membiarkan fai’ tetap pada mereka, sementara ganimah beliau minta untuk dikembalikan dan dibagi sesuai ketentuan; seperlima untuk beliau dan sisanya untuk pasukan muslim.

Hanya saja, bagian yang seperlima itu beliau bagikan kembali untuk ditambahkan pada bagian pasukan yang baru masuk Islam. Terutama bagi yang permusuhannya sangat keras seperti Abu Sufyan (dan anaknya, Mu’awiyah), Harits bin Hisyam, Malik bin ‘Auf an-Nashariy, dan lain-lain.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Hudaibiyah, Tempat Miqat yang Sarat Sejarah Perjuangan Rasulullah

Para mualaf itu ada yang diberi 50-100 unta sebagai tambahan, hingga muncullah kecemburuan di kalangan para Sahabat lainnya, khususnya pada kaum Anshar termasuk Sa’ad bin Ubadah ra. Mereka berkata satu sama lain, “Demi Allah, Rasulullah telah berpihak kepada kaumnya.”

Itulah yang membuat Rasulullah saw. meminta Saad mengumpulkan kaumnya. Lalu beliau mengingatkan mereka terkait keutamaan mereka setelah menerima Islam dan menerima kepemimpinan beliau.

Rasul saw. pun menanyai mereka apakah mereka masih memiliki kecenderungan pada dunia, padahal beliau telah melunakkan mereka hingga masuk Islam dan telah mewakilkan keislaman mereka?

Beliau juga bertanya dengan pertanyaan yang membuat kaum Anshar tak bisa lagi menahan tangisnya,

“Apakah kalian tidak rida, wahai masyarakat Anshar, terhadap orang-orang yang pergi dengan kambing-kambing dan unta-unta lalu mereka kembali bersama Rasulullah ke tempat tinggal kalian? Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya tidak ada hijrah, pasti aku menjadi salah seorang di antara kaum Anshar. Seandainya orang-orang berjalan ke suatu bukit dan orang-orang Anshar ke bukit yang lain, pasti aku berjalan di bukit kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum Anshar juga anak-anak dan cucu-cucu mereka.”

Menangislah kaum Anshar sejadi-jadinya, hingga janggut-janggut mereka basah dan berkata, “Kami rida dengan Rasul sebagai bagian (kami).”

Lalu diceritakan, setelah itu Rasul saw. dan pasukannya keluar dari Ji’ranah menuju Makkah dalam keadaan ihram untuk beribadah umrah.

Setelah selesai melakukan umrah, beliau mengangkat ‘Atab bin Usaid menjadi Wali di Makkah, sementara Mu’adz bin Jabal dijadikan sebagai pembina masyarakat di Makkah dan memahamkan mereka tentang Islam. Sedangkan beliau saw. bersama kaum Anshar dan Muhajirin kembali ke Madinah Al-Munawwarah.

Khatimah

Sungguh, apa yang terjadi di lembah Hunain memberi kita banyak pelajaran, tentang ujian keimanan dan hal-hal yang harus ada pada diri umat Islam. Berupa sikap tawaduk, tawakal, kesiapan untuk berkorban, kepercayaan dan loyalitas pada kepemimpinan, serta pentingnya menguatkan visi keakhiratan.

Ujian dan bekal iman ini akan terus menyertai kehidupan umat Islam. Termasuk hari ini di saat umat Islam sedang berjuang mengembalikan kemuliaannya yang hilang akibat hilangnya perisai umat, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Terutama di tengah segala makar musuh yang tak henti menghadang jalan perjuangan. [MNews/Juan-Gz]

Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.

Tinggalkan Balasan