Istilah “Mabuk Agama”, Upaya Menjauhkan Umat dari Islam


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, FOKUS — Pembahasan tentang Perpres legalisasi investasi miras memang sudah agak mereda setelah dicabutnya lampiran Perpres tersebut.

Namun, sesungguhnya belum selesai, karena yang dicabut hanya lampiran Bidang Usaha No. 31 dan No. 32, sedangkan Pasal 6 ayat 1 Perpres 10/2021 tetap berlaku.

Selain itu, masih tersisa sebuah istilah baru yang disandingkan dengan mabuk miras, yaitu “mabuk agama”. Bahkan, ada kalangan yang menilai “mabuk agama” lebih bahaya dari mabuk miras.

Waspada Istilah “Mabuk Agama”

Sesungguhnya, istilah baru ini harus diwaspadai kaum muslimin, jangan mudah terkecoh. Istilah “mabuk agama” ini mencuat setelah munculnya twit Ferdinand Hutahaean, mantan anggota DPR dari partai Demokrat yang tidak setuju jika kebijakan investasi miras disebut berpotensi merusak moral bangsa.

“Dari dulu di kampungku, orang selalu minum tuak, minuman tradisional beralkohol. Sebuah tradisi atau kebiasaan untuk menghangatkan badan dan melepas lelah, bercengkerama setelah seharian di sawah atau di ladang,” tulisnya di akun Twitternya.

“Faktanya, moral orang-orang dari kampungku tetap baik, tidak rusak,” tambahnya.

Dalam twit lain, Ferdinand Hutahaean menjelaskan ada beberapa negara yang memproduksi miras secara legal dan terkenal.

“Warganya tetap bermoral, tidak mabuk-mabukan. Negaranya maju, tidak hancur seperti negara yang hancur akibat perang soal agama. Sementara kita, tiap hari alkohol di mana-mana, prostitusi di mana-mana, tapi munafiknya luar biasa!” tulisnya.

Terakhir, ia mengatakan tidak ada negara yang hancur karena melegalkan industri miras, tapi sudah banyak negara yang hancur karena “mabuk agama”. (wartakota.tribunnews.com, 2/3/20210)

Terang saja, rangkaian pernyataan Ferdinand tersebut mendapat respons keras dari sejumlah tokoh dan warganet.

Salah satunya Said Didu, “Dan yang lebih merusak adalah orang yang memberi gelar “mabuk agama” bagi orang yang ingin menjalankan ajaran agamanya secara baik dan benar, termasuk mengharamkan miras,” tulisnya di akun Twitternya, Selasa (2/3/2021).

Sementara itu, tokoh Papua, Christ Wamea menyebut, “Komunis yang biasa suka menuduh orang “mabuk agama”.”

Ferdinand tampaknya sadar, pernyataan dirinya sedang diperbincangkan banyak orang. Ia pun kembali membuat pernyataan tentang istilah “mabuk agama“, bahkan, kali ini dia lebih berani dengan menyebut orang yang menentang pernyataannya tentang “mabuk agama” adalah orang munafik.

Baca juga:  Investasi Miras Dibuka, Negara Kehilangan Arahnya?

“Padahal kayaknya nih, neraka akan lebih banyak dihuni kaum munafik yang “mabuk agama” daripada orang yang mabuk miras,” tandasnya. Pernyataan yang makin ngawur!

Siapa yang Dituju?

Mirisnya, orang atau kelompok yang dimaksud “mabuk agama” adalah orang-orang atau kelompok yang menolak perpres investasi dengan alasan kuat berdasarkan dalil, baik Al-Qur’an (QS Al-Maidah: 90—91) dan hadis bahwa miras adalah minuman yang diharamkan Allah dan memiliki sifat memabukkan.

Ketika keran investasi dibuka, maka ghalabatu zhon (dugaan kuat) akan menimbulkan kerusakan moral generasi.

Lebih menyakitkan lagi apa yang dilansir harakatuna[dot]com,

Kalau ada yang bertanya: mana lebih berbahaya antara mabuk miras dengan “mabuk agama”, maka jawabannya adalah: keduanya memiliki kemudaratan yang sama. Miras merusak akal, dan “mabuk agama” juga membuat akal sehat seseorang terganggu. Ada dua tipikal orang “mabuk agama”. Pertama, merasa paling benar dan paling saleh. yang setiap ada kasus, mereka langsung tampil seolah panutan paling benar. Kedua, merasa paling Islam dan paling beriman. Mereka adalah kaum radikalis-ekstremis yang beraksi melalui terorisme.”

Dalam tulisannya disebutkan mereka adalah kelompok yang memperjuangkan Islam kafah. Dengan kata lain, kita akan bisa membaca tuduhan tersebut ditujukan kepada orang atau kelompok yang konsisten berupaya melaksanakan aturan-aturan al-Khaliq Al-Mudabbir.

Lebih parahnya lagi, ditujukan kepada orang-orang atau kelompok yang berupaya keras berjuang untuk bisa menerapkan syariat Islam di muka bumi. Wajar jika kemudian pernyataan “mabuk agama” ini mengundang banyak orang yang menentangnya.

Apa Sesungguhnya yang Terjadi?

Tidak semestinya menyamakan agama dengan miras. Istilah “mabuk agama” menunjukkan kebencian terhadap keterikatan masyarakat terhadap agama. Di balik terminologi ini, tampak bagaimana keinginan musuh-musuh Islam untuk membuat umat lepas dari ajaran agama dan berpikir pragmatis dalam memandang permasalahan.

Kebencian terhadap Islam terus ditumbuhsuburkan untuk menjauhkan umat Islam dari hukum-hukum Islam sendiri. Keharaman khamr sesungguhnya telah sangat jelas, dan tidak ada satu pun ulama berbeda pendapat tentang keharaman khamr.

Musuh-musuh Islam dan antek-anteknya berupaya keras untuk semakin menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang benar. Mereka melakukan distorsi atau penyesatan terhadap berbagai istilah, hingga istilah yang digunakan tersebut diharapkan dapat memuluskan keinginan mereka untuk mengadu domba, memecah belah umat Islam atau setidaknya memberikan stigma terhadap Islam dan pejuang Islam.

Baca juga:  Berpacu dalam Demokrasi, Akankah RUU Larangan Minol Lolos Seleksi?

Di sisi lain, tidak dapat dimungkiri, pemahaman umat Islam pun lemah, sehingga tidak sedikit menerima dan sebagiannya tidak ambil pusing atau tidak peduli situasi ini.

Keberadaan Islam memang dinilai sebagai ancaman besar bagi eksistensi kalangan yang memusuhi Islam. Oleh karena itu, ide kebencian terhadap Islam dimunculkan dengan jalan menciptakan opini negatif terhadap Islam dan kaum muslimin agar Islam semakin dijauhi pemeluknya.

Opini yang mereka munculkan sedikit banyak telah merasuki kaum muslimin, banyak di antara kaum muslimin menerima begitu saja tanpa mengkaji sedikit pun.

Padahal Allah Swt. telah memperingatkan dalam QS Al-Hujurat: 6,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Meluruskan Pandangan

Tuduhan “mabuk agama” yang ditujukan kepada orang atau kelompok yang berupaya menerapkan aturan Islam, bahkan kelompok yang berusaha berjuang untuk tegaknya syariat Islam di muka bumi dan mencapnya sebagai kelompok yang merasa paling benar atau paling beriman, sesungguhnya merupakan tuduhan tidak mendasar, mengada-ada. Terlebih lagi tuduhan ini dilontarkan kepada sesama muslim.

Karena sesungguhnya, miras memang merupakan sesuatu yang diharamkan Allah Swt. berdasarkan dalil yang qath’i, demikian keharusan menerapkan aturan Islam secara sempurna merupakan suatu hal yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Maidah: 90—91,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ»

Baca juga:  Lampiran Miras Dicabut, Akankah Peredaran Miras Surut?

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda,

Setiap hal yang memabukkan itu khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.” (HR Muslim)

“Maka demi Rabbmu, mereka pada hakikatnya tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu (wahai Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sukarela.” (QS an-Nisa: 65)

Bagaimana Kaum Muslimin Harus Bersikap?

Penyesatan istilah dan isu agama yang dilakukan secara masif bukanlah peristiwa kebetulan belaka. Dengan melihat langkah-langkah yang dilakukan yang teratur, terarah, dan menuju target tertentu, kita dapat menyimpulkan ini merupakan sebuah propaganda sistematis yang dilakukan musuh-musuh Islam, baik secara langsung atau melalui agen-agen mereka di negeri-negeri muslim.

Pemikiran sesat ini dilontarkan berbagai pihak ke tengah-tengah umat, bahkan sekaliber orang yang dikenal umat sebagai seorang ulama.

Pada situasi seperti ini, seharusnya yang dilakukan umat Islam adalah berhati-hati terhadap berbagai istilah yang disampaikan seseorang.

Sesungguhnya Allah Swt. sudah memerintahkan kepada kita untuk memeriksa berita yang disampaikan seseorang, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Hujurat: 6 tadi.

Ayat ini telah memperingatkan kita bahwa setiap pemikiran atau opini yang dilontarkan orang-orang fasik haruslah senantiasa kita periksa dan teliti supaya tidak tersesat dan menyesal di kemudian hari.

Apakah benar istilah tersebut ada dalam Islam? Apakah penggunaan istilah tersebut tepat atau benar sebagaimana yang dikehendaki Islam? Atau hanya mencocok-cocokkan saja agar bisa diterima umat, bahkan hendak menjauhkan kita dari pemahaman Islam yang benar?

Karenanya, sudah seharusnya upaya pencerdasan terus dilakukan ke tengah-tengah umat, tentu saja dengan pemikiran-pemikiran Islam yang lurus, sehingga umat Islam paham akan ajaran Islam yang lurus.

Umat Islam akan selalu waspada dan berhati-hati terhadap setiap upaya musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat dari Islam dan ajarannya yang mulia. Para ulama, mubalig, dan para dai selaku pelita umat juga wajib bersuara keras menjelaskan berbagai penyesatan istilah, penyesatan opini di tengah-tengah umat. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan