[Sirah Nabawiyah] Kekuasaan Negara Islam atas Seluruh Jazirah Arab


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Pascaperang Tabuk, penguasaan Negara Islam terhadap seluruh Jazirah Arab telah terlaksana. Negara Islam juga berhasil mengamankan daerah-daerah perbatasannya dari arah Romawi. Di seluruh Jazirah Arab tidak ada yang tersisa kecuali orang-orang musyrik yang tetap dalam kemusyrikannya.

Jadi sekalipun seluruh Jazirah Arab telah tunduk dan menyatakan ketaatan kepada hukum Negara Islam, masih banyak sisa-sisa kaum musyrik yang menyembah selain Allah.

Akidah Islam Menolak Kemusyrikan

Rasulullah Saw.  tidak akan membiarkan Tanah  Haram menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang saling bertentangan, yaitu kaum muslimin dan kaum musyrikin. Kaum muslimin menolak prinsip keberhalaan dan kemusyrikan serta berusaha menghancurkan berhala,  sementara orang musyrik masih setia menyembah berhala dan berbuat menyekutukan Allah. Karena itu, Beliau Saw harus memusnahkan kemusyrikan tersebut di seluruh penjuru jazirah.

Untuk itu, Rasulullah Saw. mengangkat Abu Bakar ash Shiddiq ra. sebagai pemimpin perjalanan haji kaum muslimin. Agar mereka melaksanakan ibadah haji sesuai dengan metode dan cara yang diajarkan Islam, berbeda dengan cara hajinya orang-orang musyrik yang penuh dengan kesyirikan.

Turunnya Surat Bara’ah

Setelah Abu Bakar ra. dan kaum muslimin berangkat, maka turunlah surat at Taubah (Bara’ah) kepada Rasulullah Saw. Surat at Taubah memerintahkan agar Rasulullah Saw. mengakhiri semua perjanjian yang sifatnya terbuka, yang dibuat antara Rasulullah dengan kaum musyrikin di antara kabilah-kabilah bangsa Arab, yang memberikan kebebasan beragama dan loyalitas.

Baca juga:  Pengangkatan Pejabat Negara Khilafah

Allah SWT berfirman, “ (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).

 Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. Dan satu maklumat (pemberitahuan) dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih,

 kecuali orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu dan mereka sedikit pun tidak mengurangi (isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seorang pun yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At Taubah : 1-5)

Baca juga:  Khilafah dan Pemikiran Ketatanegaraan Modern

Menugasi Ali bin Abi Thalib ra. Untuk Mengumumkan Ketertiban Umum

Rasulullah Saw. memanggil Ali bin Abi Thalib ra. dan memerintahkannya agar menyusul Abu Bakar ash Shiddiq ra. yang telah berangkat bersama kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.

Ali bin Abi Thalib ra. bertemu dengan Abu Bakar di tengah perjalanan. Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau sebagai pemimpin atau bawahan?” Ali bin Abi Thalib menjawab,”Tidak, namun aku sebagai bawahan.” Kemudian Abu Bakar dan Ali meneruskan perjalanan bersama rombongan kaum muslimin melakukan ibadah haji.

Pada hari penyembelihan hewan kurban, Ali bin Abi Thalib ra. berdiri, lalu mengumumkan kepada orang-orang yang sedang berkumpul di Mina, seperti yang diperintahkan Rasulullah Saw.

Berkatalah Ali bin Abi Thalib ra., “Wahai manusia, sesungguhnya orang kafir itu tidak akan masuk surga, orang musyrik tidak boleh melakukan ibadah haji setelah tahun ini, dan orang yang telanjang tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah. Siapa saja yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah Saw., maka perjanjian itu berlaku hingga waktu berlakunya habis. Sedang tenggang waktu untuk mempertimbangkan sikap selanjutnya bagi manusia adalah empat bulan sejak pengumuman ini disampaikan. Setelah itu, hendaklah setiap kaum pulang ke tempat mereka yang aman atau pulang ke negeri mereka. Sebab, setelah empat bulan itu, tidak ada perjanjian lagi bagi orang musyrik, kecuali orang yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah Saw hingga waktu tertentu, maka perjanjian tersebut berlaku hingga waktu berlakunya habis.

Baca juga:  Adakah Model Baku Negara Khilafah?

Dengan pengumuman tersebut maka masa penyembahan terhadap berhala-berhala telah berakhir dan era baru telah dimulai, sehingga orang-orang musyrik tidak ada pilihan kecuali mereka harus tunduk kepada tata aturan Negara Islam.

Pemberlakuan ketertiban umum dan penghapusan kesyirikan ini diwujudkan setelah Rasulullah Saw. membersihkan pengaruh dan kekuatan kafir Quraisy di Makkah. Kekuasaan Rasulullah Saw. meliputi seluruh jazirah Arab dan otoritas perintah menjadi milik Negara Islam. Selanjutnya syariat Allah Swt. yang harus diterapkan pada semuanya. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan