Kompromi Antara Hadis “Abada Hadza al-Khair Syarrun” dengan Hadis “Tsumma Takunu Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah”


Oleh: Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah


MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Soal: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Saya berharap surat saya sampai kepada Anda dan Anda senantiasa sehat walafiat.

Saya ingin Anda jelaskan kepada saya hadis-hadis berikut, sebab hadis-hadis ini pada lahirnya mengandung kontradiksi dan digunakan oleh kelompok manusia untuk membantah sebagian terhadap sebagian yang lain tanpa memahami maksud keduanya.

Hadis kelompok pertama:

Dari an-Nu’man bin Basyir ia berkata, “Kami sedang duduk di masjid bersama Rasulullah saw., dan Basyir adalah seorang laki-laki yang mencukupkan percakapannya, lalu datang Abu Tsa’labah al-Khusyani dan ia berkata, ‘Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah engkau hafal hadis Rasulullah saw. tentang para pemimpin?’ Hudzaifah berkata, ‘Aku hafal khotbah Beliau.’

Abu Tsa’labah pun duduk. Lalu Hudzaifah berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda,

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً عَاضّاً فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ» ثُمَّ سَكَتَ…

‘Ada di tengah kalian masa kenabian dan akan terus ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian, dan akan terus ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia mengangkatnya jika Allah berkehendak mengangkatnya. Kemudian ada kekuasaan yang menggigit (mulkan ‘âdhdhan) dan akan terus ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian ada kekuasaan diktator (mulkan jabriyyatan) dan akan terus ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian” kemudian Beliau diam.'”

Dan hadis kelompok lainnya:

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, ia berkata,

«كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ الْخَيْرِ وَأَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ وَعَرَفْتُ أَنَّ الْخَيْرَ لَنْ يَسْبِقَنِي قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ يَا حُذَيْفَةُ تَعَلَّمْ كِتَابَ اللَّهِ وَاتَّبِعْ مَا فِيهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبَعْدَ هَذَا الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ هُدْنَةٌ عَلَى دَخَنٍ وَجَمَاعَةٌ عَلَى أَقْذَاءٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الْهُدْنَةُ عَلَى دَخَنٍ مَا هِيَ قَالَ لَا تَرْجِعُ قُلُوبُ أَقْوَامٍ عَلَى الَّذِي كَانَتْ عَلَيْهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ فِتْنَةٌ عَمْيَاءُ صَمَّاءُ عَلَيْهَا دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ النَّارِ وَأَنْتَ أَنْ تَمُوتَ يَا حُذَيْفَةُ وَأَنْتَ عَاضٌّ عَلَى جِذْلٍ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَتَّبِعَ أَحَداً مِنْهُمْ»

“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, dan aku tahu bahwa kebaikan tidak akan mendahuluiku, aku katakan: “ya Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau bersabda: “ya Hudzaifah, pelajarilah Kitabullah dan ikuti apa yang ada di dalamnya”. Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. Hudzaifah berkata:”aku katakan, ya Rasulullah, apakah setelah keburukan ini ada kebaikan?” Beliau bersabda: “hudnatun ‘alâ dakhanin -kedamaian di atas asap- dan kelompok di atas debu halus”. Hudzaifah berkata: “aku katakan, ya Rasulullah, kedamaian di atas asap itu apa?” Beliau bersabda; ‘hati kaum tidak kembali di atas apa yang sebelumnya”. Aku katakan, “ya Rasulullah apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau bersabda: “fitnah yang buta dan bisu yang di atasnya ada para penyeru pada pintu-pintu neraka, dan engkau mati ya Hudzaifah dan engkau sedang menggigit tonggak kayu, itu lebih baik untukmu daripada engkau mengikuti salah seorang dari mereka.”

Kelompok pertama menafsirkan bahwa kebaikan untuk umat itu pasti datang dengan izin Allah dan bahwa Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian pasti datang dan akan memerintah memutuskan perkara dengan syariat Allah dan itu adalah kebaikan itu sendiri.

Baca juga:  [Fikih] Syarat Adil dalam Pengakadan Khilafah

Sementara kelompok kedua, berargumen dengan hadisnya bahwa kebaikan umat telah berlalu zamannya dan kita tidak lain hanya dalam masa fitnah yang disampaikan oleh Rasul saw dan bahwa seorang Muslim harus ber-uzlah memisahkan diri dari manusia lari menyelamatkan agamanya …

Saya mengharapkan penjelasan dan Anda berkenan menerima penghormatan dan penghargaan.

Jawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

Hadis pertama dikeluarkan oleh Ahmad dan ath-Thayalisi. Sedangkan hadis kedua yang disebutkan di dalam pertanyaan, telah dikeluarkan oleh Ahmad. Tetapi al-Bukhari telah mengeluarkannya dengan lafal ini: … Abu Idris al-Khawlani telah menceritakan bahwa dia mendengar Hudzaifah bin al-Yaman berkata:

«كاَنَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا. فَقَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»

“Orang-orang dahulu bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan saya (Hudzaifah bin al-Yaman) bertanya tentang keburukan karena takut keburukan itu akan menghampiriku.  Maka aku bertanya: “wahai Rasulullah sesungguhnya dahulu kami dalam kejahiliahan dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, lalu apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab: “benar”.  Aku bertanya: “apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?”  Beliau menjawab: “benar namun di dalamnya terdapat asap”.  Aku bertanya: “apa asapnya?”  Beliau menjawab: “kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, engkau mengetahui (kebaikan mereka) dan mengingkari (keburukan mereka)”  Aku bertanya: “apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?”  Beliau menjawab: “benar, para penyeru yang menyeru ke pintu-pintu jahanam, siapa saja yang memenuhi seruan mereka, mereka akan menjerumuskan dan menenggelamkan ia ke dalamnya”.  Aku berkata: “tunjukkan sifat mereka kepada kami”.  Beliau bersabda: “mereka berkulit sama dengan kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita”.  Aku bertanya: “lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika hal itu menghampiriku?”  Beliau menjawab: “berpeganglah kepada jemaah al-muslimîn dan imam mereka!”  Aku bertanya: “jika mereka tidak memiliki jemaah dan imam?”  Beliau menjawab: “jauhilah semua kelompok-kelompok itu sekalipun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian menghampirimu sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.

Saudaraku yang dimuliakan, tampaknya perkara tersebut telah rancu bagi Anda, lalu Anda menganggap bahwa akhir hadis pertama: “tsumma takûnu Khilâfah ‘alâ minhaj an-nubuwwah -kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian-“ adalah sama dengan akhir hadis kedua: “qâla fitnatun ‘amyâ`u shammâ`u ‘alayhâ du’âtun ‘alâ abwâb an-nâr -Beliau bersabda: “fitnah yang buta dan bisu padanya ada para penyeru di atas pintu-pintu neraka-“.

Baca juga:  Ahlusunnah: Khilafah Wajib Dalilnya Qath’i

Oleh karena itu Anda bertanya-tanya, bagaimana kondisi umat: dalam hadis pertama, “Khilâfah ‘alâ minhaj an-nubuwwah -Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian-“, sedangkan hadis kedua: “qâla fitnatun ‘amyâ`u shammâ`u ‘alayhâ du’âtun ‘alâ abwâb an-nâr -Beliau bersabda: “fitnah yang buta dan bisu padanya ada para penyeru di atas pintu-pintu neraka-“?!

Sesungguhnya, perkaranya tidak demikian wahai saudaraku.

Akhir hadis pertama bukanlah akhir hadis kedua. Hudzaifah tidak bertanya lagi setelah akhir hadis kedua, yakni “du’âtun ‘alâ abwâb an-nâr -para penyeru di atas pintu-pintu neraka-“.

Tetapi, Hudzaifah concern dengan apa yang akan dia lakukan jika kondisi ini menghampirinya. Sungguh terasa berat baginya, keadaan kaum Muslim sampai ke keadaan ini “du’âtun ‘alâ abwâb an-nâr -para penyeru di atas pintu-pintu neraka-“.

Jadilah yang penting baginya adalah bertanya kepada Rasul saw, apa yang dia lakukan jika keadaan ini menghampirinya, dan Hudzaifah tidak bertanya apa yang akan ada setelahnya.

Adapun keadaan di hadis kedua, yaitu keadaan yang sama yang ada di hadis pertama “al-mulku al-jabriy -kekuasaan diktator-“.

Artinya keadaan yang terjadi setelah hilangnya Khilafah dan berikutnya disusul oleh kekuasaan diktator yang akan terjadi bagaimanapun keinginan manusia dan dipaksakan terhadap mereka tanpa keridaan kaum Muslim dan tanpa berhukum dengan Islam.

Artinya, keadaan yang dijalani oleh kaum Muslim sejak al-Khilafah dihapuskan pada tahun 1924 M sampai hari ini. Jelas di situ adanya para penyeru di atas pintu-pintu neraka.

Dan sebagaimana yang ada di dalam riwayat al-Bukhari:

دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا…

“Para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, siapa saja yang menjawab mereka kepada Jahannam mereka lemparkan di dalamnya …”

Dan siapa saja yang merenungkan tahun-tahun selama 100 tahun setelah penghapusan al-Khilafah pada tahun 1924 M, niscaya dia menemukan deskripsi itu telah terealisasi!

Adapun yang menunjukkan  bahwa keadaan ini di hadis pertama “al-mulku al-jabriy -kekuasaan diktator-“ adalah keadaan yang sama pada hadis kedua “du’âtun ‘alâ abwâb an-nâr -para penyeru di pintu-pintu neraka-“, itu adalah perenungan keadaan yang mendahului kekuasaan diktator itu pada hadis pertama, dan perenungan keadaan yang mendahului fitnah yang buta dan bisu pada hadis kedua.

Hadis pertama menyebutkan sebelum kekuasaan diktator itu, al-mulku al-‘adhûd -kekuasaan yang menggigit-“, yakni al-Khilafah yang berangkai di rumah al-Khalifah dan yang berlangsung sekira 1.300 tahun pada masa al-Umawiyah, al-‘Abbasiyah dan al-Utsmaniyah, dan yang kami katakan di buku-buku kami bahwa penerapan yang buruk telah terjadi selama masa itu, khususnya pada masalah baiat.

Baiat terjadi untuk seseorang dari rumah Khalifah sebelumnya dan kaum Muslim terbiasa dengan itu. Alih-alih baiat itu untuk orang yang diridai oleh kaum Muslim yang berasal dari kaum Muslim secara umum, justru menjadi baiat dibatasi di rumah Khalifah saja.

Artinya, periode itu merupakan Khilafah, tetapi di dalamnya “khalifah menggigit (kekuasaan) dengan geraham” agar Khilafah tidak keluar dari rumahnya.

Periode ini adalah periode yang disebutkan di hadis kedua “hudnatun ‘alâ dakhanin -kedamaian di atas asap-“ atau sebagaimana yang ada di riwayat al-Bukhari:

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-3 dan 4: Wajibnya Khilafah

خَيْرٌ فِيهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

“Kebaikan yang di dalamnya terdapat asap”.  Aku bertanya: “apa asapnya?”  Beliau menjawab: “kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, engkau mengetahui (kebaikan mereka) dan mengingkari (keburukan mereka)”  

Dan setelah periode ini, Rasul saw memberitahu kita di hadis pertama bahwa al-Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian akan ada setelah kekuasaan diktator itu.

Adapun di hadis kedua, Hudzaifah ra tidak bertanya setelah fitnah yang buta dan bisu dan para penyeru di atas pintu-pintu neraka. Hudzaifah tidak bertanya, apa yang ada setelah keburukan ini, tetapi terasa berat baginya perkara tersebut dan dia pun sibuk bertanya apa yang dia lakukan jika keadaan itu menghampirinya.

Ringkasnya bahwa pertemuan (kompromi) antara kedua hadis tersebut adalah sebagai berikut:

1- Hadis pertama, menyebutkan al-mulku al-jabriy (kekuasaan diktator), dan tidak merinci keburukannya. Dan Rasul saw memberitahu kita bahwa al-Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian akan kembali setelah kekuasaan diktator ini.

Adapun hadis kedua, Hudzaifah tidak bertanya apa yang akan ada setelah fitnah yang buta dan bisu (fitnatun amyâ`u shammâ`u) itu.

Yakni dia tidak bertanya apa yang ada setelah periode ini, yang merupakan periode yang sama dengan periode al-mulku al-jabriy (kekuasaan diktator) yang dinyatakan di hadis pertama.

Sebaliknya Hudzaifah bertanya apa yang harus dia lakukan jika keadaan ini menghampirinya.

Begitulah, akhir kedua hadis tersebut tidak satu tetapi berbeda: Pertama, berakhir dengan al-Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian setelah al-mulku al-jabriy (kekuasaan diktator).

Dan hadis kedua, berhenti pada periode du’âtun ‘alâ abwâb an-nâr (para penyeru di atas pintu-pintu neraka), yakni al-mulku al-jabiry (kekuasaan diktator), dan Hudzaifah tidak bertanya keadaan yang ada setelahnya.

2- Tinggal satu masalah yaitu apa yang ditanyakan di akhir pertanyaan tentang hadis kedua:

وَأَنْتَ أَنْ تَمُوتَ يَا حُذَيْفَةُ وَأَنْتَ عَاضٌّ عَلَى جِذْلٍ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَتَّبِعَ أَحَداً مِنْهُمْ

“Dan engkau mati ya Hudzaifah dan engkau sedang menggigit tonggak pohon, adalah lebih baik untukmu daripada engkau mengikuti salah seorang dari mereka”.

Dan di riwayat al-Bukhari:

قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»

“Aku bertanya: “lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika hal itu menghampiriku?”  Beliau menjawab: “berpeganglah kepada jemaah al-muslimîn dan imam mereka!”  Aku bertanya: “jika mereka tidak memiliki jemaah dan imam?”  Beliau menjawab: “jauhilah semua kelompok-kelompok itu sekalipun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian menghampirimu sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.

Dan ini tentu saja bagi orang yang kebenaran belum jelas baginya untuk dia serukan dan dia memandang mereka semua merupakan para penyeru di atas pintu-pintu neraka, maka dia harus menjauhi mereka semua … Adapun jika telah jelas kebenaran baginya dan dia melihat orang-orang yang menyeru kepada kebenaran maka hendaklah dia berjalan bersama mereka dan tidak terus menjauhkan diri (uzlah), tetapi dia hanya menjauhi semua penyeru ke neraka …

Atas dasar itu, maka bisa dipertemukan antara kedua hadis itu dengan memahami keduanya seperti yang disebutkan di atas. Wallâh a’lam wa ahkam.[MNews/Juan]

14 Rajab al-Khair 1442 H/26 Februari 2021 M

Sumber: tsaqofah.id/kompromi-antara-hadis-a-bada-hadza-al-khair-syarrun-dengan-hadis-tsumma-takunu-khilafah-ala-minhaj-an-nubuwwah-2/

Tinggalkan Balasan