[News] Intoleransi dan Radikalisme, Dosa Besar Pendidikan?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, menyebutkan di dunia pendidikan masih dibayang-bayangi tiga dosa besar yaitu intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan.

“Ketiga hal tersebut sudah semestinya tidak lagi terjadi di semua jenjang pendidikan yang dialami peserta didik kita. Khususnya perempuan,” ungkap Nadiem pada Webinar “Perempuan Pemimpin dan Kesetaraan Gender” di kanal Kemdikbud (8/3/2021).

Menurutnya, ketiga dosa besar di dunia pendidikan tersebut, secara umum memengaruhi tumbuh kembang peserta didik. Selain itu, tindakan ini juga mempengaruhi mereka dalam menentukan keputusan yang mereka ambil untuk menggapai cita-citanya.

Ketiga hal ini tercantum pula di dalam draf peta jalan pendidikan Indonesia 2020—2035 sebagai perilaku negatif yang menjadi poin survei karakter di tingkat siswa. Pada draf peta jalan tersebut, disebutkan intoleransi dan atau radikalisme menjadi salah satu hal yang menentukan mutu pendidikan.

Radikalisme Ditujukan kepada Islam dan Kaum Muslimin

Mengomentari radikalisme di dunia pendidikan, aktivis muslimah dan pengamat kebijakan publik Retno Sukmaningrum mempertanyakan definisi radikalisme yang masih debatable. Sebab dalam praktiknya, isu radikalisme menyasar kepada Islam dan kaum muslimin.

Salah satu buktinya bisa dibaca dari  hasil penelitian beberapa LSM dan lembaga riset yang didanai Australia-Indonesia Centre terhadap sekolah yang dianggap berisiko menumbuhkan ajaran radikal.

Baca juga:  [News] Islamofobia Muncul Saat Mewacanakan Islam dalam Sistem Kenegaraan

Pertama, sekolah tertutup (closed schools). Yakni sekolah yang mengajarkan tsaqafah Islam dan membenturkan peradaban Barat dan Islam.

Kedua, sekolah terpisah (separated schools), yakni sekolah yang selektif dalam perekrutan guru, harus sevisi dan seide.

Ketiga, sekolah yang mengajarkan identitas Islam murni (schools with pure Islamic identity), yakni sekolah yang menjadikan Islam sebagai konstruksi identitas tunggal dan menolak identitas-identitas yang lain.

Menurutnya, dari sini semakin jelas, tudingan radikalisme dialamatkan tidak lain kepada Islam dan kaum muslimin. Bahkan, secara lugas penelitian tersebut menyorot identitas kemusliman yang dianggap berbahaya.

“Seorang muslim yang menunjukkan identitas kemuslimannya, dianggap bermasalah. Dan yang gencar hari ini dilakukan adalah membenturkan identitas kemusliman dengan identitas sebagai warga negara, yakni identitas nasional,” cetusnya.

Ia pun memberikan pernyataan sindiran, yang mana tidak pernah tertayang di media, koruptor, penjual negeri ke kalangan investor asing, adalah orang-orang yang bangga menunjukkan identitas kemuslimannya.

“Justru mereka yang menegaskan identitas kemuslimannya sebenarnya adalah orang-orang yang mencintai negerinya, tidak rela negerinya dikotori tangan-tangan penjajah kuffar, tidak rela negeri subur dan kaya ini diatur sistem kapitalisme yang rusak dan serakah,” tukasnya.

Identitas Muslim Menyuarakan Mulianya Syariat Islam

Ia menekankan seorang muslim yang bangga dengan identitas kemuslimannya justru sangat dibutuhkan negeri ini. Mereka yang menunjukkan sikap cinta dan benci karena Allah bisa diharapkan konsisten mewujudkan langkah-langkah perbaikan dalam skala bangsa. Apalagi bila mereka mengenal dan menjalankan prinsip al wala a wal Bara’.

“Prinsip akidah ini merupakan tanda kesempurnaan iman seorang muslim dan lurus tidaknya tauhid hanya kepada Allah. Prinsip ini wajib dijaga dan istikamah di dalamnya,” tegasnya..

Baca juga:  Bahasa Arab Adalah Bahasa Agama Islam, Bukan Bahasa Radikal

Ia menjelaskan wujud Al Wala adalah mencintai, berkasih sayang, lemah lembut, persaudaraan, dan loyalitas terhadap sesama muslim sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Sedangkan wal Bara’ adalah menunjukkan kebencian kepada yang Allah benci, yaitu membenci musuh-musuh Allah seperti orang kafir dan musyrikin dengan menjauhi dari mereka, memisahkan diri darinya, dan berlepas diri dari segala bentuk kekufuran dan pelakunya.

Identitas muslim inilah yang membebaskan negeri ini dari tangan penjajah kufur. Dengan identitas muslim pula, hari ini terus berjuang menyuarakan rusaknya sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini, serta mulianya syariat dalam sistem Islam.

“Identitas muslim ini pula yang tengah menjemput bisyarah Rasulullah dan janji Allah Swt. akan tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *