Kabar Gembira Pergantian Kekuasaan (Istikhlaf) bagi Orang-Orang Beriman


Penulis: Rohmah Rodliyah
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, FOKUS — Pada saat dakwah di Madinah sudah berhasil, suku Aus dan Khajraj yang telah masuk Islam ingin segera menyambut seruan dakwah, yaitu berislam secara kafah, tidak hanya dalam beribadah dan bermuamalat, tapi dalam uqubat (sanksi), baik pelaku pelanggaran pidana maupun perdata, serta penerapan hukum Islam dalam mengatur negara.

Oleh karena itu, mereka menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah agar urusan kehidupan mereka diurus dengan peraturan Islam.

Mereka sebagai perwakilan kaum muslimin, terdiri dari 75 orang, 73 laki-laki dan dua perempuan. Orang-orang yang beriman dari suku Aus dan Khajraj ini berkumpul di bukit Aqabah untuk membaiat Rasulullah sebagai kepala negara, agar menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.

Yakni sebuah pemerintahan yang menjalankan politik dalam negeri dengan menerapkan seluruh hukum Islam dan politik luar negeri, yaitu penyebaran Islam dengan dakwah dan jihad.

Setelah Baiat Aqabah selesai, kaum muslimin bersuka cita karena segera akan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya dengan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Rida Allah merupakan puncak yang ingin diraih setiap muslim.

Selanjutnya, kaum muslimin di Makkah bersiap-siap hijrah ke Madinah. Sedangkan orang Madinah bersiap untuk menerima kedatangan kaum Muhajirin.

Daulah Islam di Madinah yang dibangun Rasulullah ini menjadi Daulah yang berdaulat, kuat, maju, dan mengantarkan masyarakat Islam mencapai puncak peradaban. (Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Sirah Nabawiyah (Sisi Politis Perjuangan Rasulullah).

Masa Rasulullah berakhir dan dilanjutkan Khulafaur Rasyidin, Islam pun berkembang pesat dan kuat. Dilanjutkan masa Kekhilafahan yang luar biasa.

Sehingga, kita temui ulama-ulama sekaliber Imam Ali Asyaukani, Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ghazali, dan lainnya.

Dari sini peradaban Islam menjadi rujukan tidak hanya bagi dunia Islam, akan tetapi seluruh umat manusia bergantung padanya, merujuk dan ikut merasakan nikmatnya kecemerlangan peradaban Islam yang mulia.

Baca juga:  Tafsir Moderat/Maqashidi Menjauhkan Kaum Muslimin dari Islam Kaffah

Setelah berkembang begitu pesat, umat Islam diuji dengan terjadinya kemunduran demi kemunduran akibat ada serangan Barat. Di samping itu, kaum muslimin juga tergoda dengan peradaban Barat. Berbagai pemikiran dan undang-undang kufur diadopsi kaum muslimin dan harus dibayar mahal, yaitu mengakibatkan negaranya melemah dan sakit.

Selanjutnya dengan skenario yang licik, negara yang lemah-sakit ini diajak terlibat Perang Dunia I. Dengan perang inilah Daulah kaum muslimin yang menerapkan aturan-aturan Islam dihancurkan dan dihilangkan musuh-musuh Islam dari peta dunia. (Syekh Abdul Qadim Zallum, Malapetaka Runtuhnya Khilafah).

Hancurnya Khilafah ini membuat kaum muslimin berjuang menegakkan kembali untuk meraih janji Allah bahwa Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah yang kedua akan segera tegak kembali.

Kabar gembira pergantian kekuasaan yang dirasakan kaum Muhajirin dan Anshar akan terulang kembali, sebagaimana janji Allah dalam QS An-Nur ayat 51 bahwa Allah memberi kekuasaan (Khilafah) kepada kaum muslimin dengan tatanan pemerintahan Islam berdasarkan kenabian yang kedua.

Allah berfirman dalam QS An-Nur: 55,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ

  1. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.

Kata “ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ” kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh. Firman Allah ini tidak dibatasi waktu hanya pada masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin.

Dengan demikian, masih tetap berlaku bagi kaum muslimin setelahnya, yaitu janji Allah meliputi pemberian kekuasaan kepada kaum muslimin untuk tegaknya Khilafah yang kedua, Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah.

Secara ringkas, dalam kitab Mukhtashar ibn Katsir disebutkan bahwa kekuasaan kekhilafahan adalah janji Allah Swt. kepada Rasulullah saw. dan Allah akan menjadikan umat Muhammad sebagai Khalifah—para pemimpin yang berkuasa—.

Baca juga:  Penghancuran Keluarga Muslim secara Sistematis

Para Khalifah ini akan membawa kebaikan, kesejahteraan, dan keamanan bagi negeri. Rasulullah sebagai pemimpin kaum muslimin diberi kekuasaan oleh Allah setelah fathul Makkah sampai Yaman dan Jazirah Arab secara keseluruhan.

Setelah wafat, beliau digantikan Abu Bakar dan Khulafaur Rasyidin lainnya. Selanjutnya, kekuasaan semakin meluas menguasai Konstantinopel pada kekuasaan Khilafah Utsmaniyah.

Ternyata, tidak berhenti sampai di situ, melainkan kekuasaan kekhilafahan semakin meluas meliputi hampir seluruh dunia. Hal ini telah ditetapkan dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa kekuasaan kaum muslimin nanti akan mencapai hampir seluruh dunia. (Imam Ali Ash Shabuni, Mukhtashar Ibn Katsir, Tafsir QS An-Nur: 55).

Kalau kita perhatikan, secara historis, Khilafah sudah tegak selama 13 abad dan memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu Khilafah Utsmaniyah memiliki wilayah lebih dari 2/3 dunia.

Masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah berlangsung selama 10 tahun (622—632 M). Dilanjutkan masa Khulafaur Rasyidin 29 tahun (632—661 M), masa Khilafah Bani Umayyah sekitar 89 tahun, dan asa Khilafah Bani Abbasiyah (549 tahun).[1]

Selanjutnya Khilafah Utsmaniyah sampai 1924 M yang mana wilayahnya mencapai 2/3 dunia, meliputi sebagian Asia, Afrika, dan Eropa.[2] Hingga Barat menghancurkannya pada 1924 M dan memecah belah negeri muslim menjadi 50 negara lebih.

Dengan demikian, Khilafah Utsmaniyah yaitu Khilafah terakhir, berhasil menguasai 2/3 dunia. Artinya, apa yang tercantum dalam hadis sahih Muslim tersebut bahwa akan ada kekhilafahan yang kekuasaannya meliputi hampir seluruh dunia, dari ujung barat sampai timur, merupakan janji Allah yang belum terealisasi.

Baca juga:  Seabad Tanpa Khilafah dan Kembalinya Generasi Umat Terbaik

Inilah yang akan terealisasi pada kekhilafahan yang kedua, yaitu Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah tsaniyah. Karenanya, sebagai kaum muslimin kita wajib percaya janji Allah Swt. benar dan Allah tidak menyalahi janji-Nya.

Sebagaimana diriwayatkan Tsauban bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْه

“Sesungguhnya Allah telah  menghimpunkan untukku bumi, maka aku melihat (ujung) timur dan baratnya, dan akan sampai kekuasaan umatku apa yang telah dihimpunkan untuk darinya.” (Hadis Sahih, HR Muslim No. 2889, Ibn Hibban No. 6714,7238, Turmudzi No. 2176, Abu Dawud No. 4252).

Hadis yang senada antara lain: Dari Tamim ad-Dari berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Urusan ini pasti akan sampai ke seluruh dunia…'” (Ahmad bin Hanbal, Musnad Juz IV, hlm. 103).

Hadis yang berkaitan dengan bisyarah ‘kabar gembira’ bahwa akan hadir kembali Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah tsaniyah, jumlahnya banyak dan sampai pada derajat mutawatir, sehingga termasuk hadis mutawatir ma’nawi. (Hafidz Abdurrahman, M.A., Khilafah Islam dalam Hadis Mutawatir bi al-Ma’na, Al Azhar).

Orang-orang beriman tentu sangat gembira mendengar kabar ini, karena hanya dengan Khilafah seluruh hukum Islam bisa diterapkan, serta Izzul Islam wal muslimin bisa diraih.

Inilah yang mampu mengantarkan umat Islam menjadi khairu ummah. Semata karena inilah kaum muslimin mampu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat. [MNews/Gz]


Catatan kaki:

[1] Imam As Suyuthi, Tarikh Khulafa’ (Sejarah Khulafaurrosyidin, Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyah), Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2005).

[2] 5Dr. Ali Muhammad ash Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2004.