[Editorial] Sungguh, Perubahan Itu Tak Bisa Ditunda!

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Kebutuhan akan adanya sistem Islam tak bisa diragukan lagi. Sistem sekuler yang diterapkan hari ini sudah terlalu banyak memunculkan kemudaratan bagi umat manusia, terkhusus bagi kaum muslimin.

Konsekuensi yang paling berat adalah dosa yang harus ditanggung seluruh umat Islam secara berkepanjangan. Betapa tidak, 100 tahun mereka hidup tanpa Khilafah. Padahal ketiadaan Khilafah membuat mereka tak bisa melaksanakan syariat Islam secara kafah. Dan itu dosa!


APALAGI tak bisa dimungkiri, kemudaratan yang harus ditanggung umat Islam tak hanya di satu dua aspek kehidupan saja. Krisis multidimensi terus mewarnai potret umat Islam dari masa ke masa sejak mereka kehilangan Khilafah sebagai benteng penjaganya.

Di bidang politik, umat Islam terpecah belah dalam skenario “negara bangsa” buatan bangsa penjajah. Paham sekularisme yang mereka adopsi juga melahirkan sistem kepemimpinan yang mengabdi pada kekuatan modal. Alih-alih berperan sebagai pengurus dan penjaga, kepemimpinan sekuler justru menyengsarakan umat.

Konflik kepentingan pun begitu kental, hingga panggung politik nyaris selalu dilingkupi kegaduhan. Para penguasa tak sungkan-sungkan menjadi calo penjajahan hanya demi memperoleh dukungan kekuasaan.

Di bidang ekonomi, sekularisme nyata-nyata telah melahirkan ketidakadilan dan gap sosial yang begitu lebar. Prinsip struggle of the fittest begitu kental sehingga para pemilik modal dan pemilik kekuasaan bisa dengan mudah menguasai sebagian besar kekayaan, tanpa batasan halal-haram.

Adapun mayoritas masyarakat harus kalah dalam persaingan dan hidup dalam jerat kemiskinan. Bahkan sebagian mereka terjerumus dalam aktivitas haram yang dilegalkan. Seperti transaksi riba, akad-akad tak syar’i, bisnis-bisnis maksiat yang merusak, dan lain-lain. Banyak yang bilang, mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal.

Dalam konteks global, penerapan sistem sekuler kapitalisme bahkan telah membuka jalan penjajahan ekonomi atas nama liberalisasi atau globalisasi. Perampokan kekayaan negara lemah pun berlangsung masif dengan dalih kerja sama dan investasi.


ADAPUN di bidang sosial budaya, dampak penerapan sekularisme pun begitu luar biasa. Life style yang terbangun sudah sangat jauh dari nilai-nilai agama. Moralitas tak lagi menjadi perhatian bagi negara. Bahkan negara, menempatkan urusan moral sebagai urusan privat warganya.

Profil masyarakat Islam pun berubah menjadi kian permisif dan liberal. Budaya amar makruf nahi mungkar tak lagi menjadi karakter mereka. Aktivitas mulia ini justru dipandang sebagai keburukan, bahkan ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Tak heran jika kerusakan akhlak begitu merajalela. Pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba dan miras, tawuran, pornografi, pornoaksi, korupsi, begitu pun tindak kriminal lainnya seolah menjadi hal biasa.

Pola relasi dalam keluarga pun sudah jauh dari nilai-nilai kebaikan, hingga kisah Malin Kundang kerap hadir di dunia nyata. Tapi tak hanya anak saja yang durhaka, kerap terjadi bapak yang “memakan” anak gadisnya, anak yang membunuh orang tuanya atau orang tua yang membunuh anaknya, dan sebagainya.

Begitu pun dalam sistem hukum dan hankam, sekularisme nyata-nyata telah gagal dalam menciptakan keamanan dan kedamaian. Ketidakadilan hukum bahkan kerap dipertontonkan. Hukum menjadi milik penguasa Bahkan tak jarang hukum yang ada digunakan sebagai alat bungkam bagi pihak yang berseberangan dengan kekuasaan.

Yang lebih mendasar lagi, penerapan paham sekularisme telah mengancam akidah umat Islam. Mereka tanpa sadar dipaksa menerima pola hidup yang jauh dari aturan Allah tanpa melihatnya sebagai sebuah kedurhakaan. Bahkan mereka tanpa sadar menerima akidah pluralisme dan Islam jalan tengah (moderat) sebagai sebuah kebenaran.

Tak heran jika dalam sistem ini agama kerap dipinggirkan, bahkan dilecehkan. Agama dijadikan bahan olok-olokan dan dicitrakan sebagai musuh kemajuan. Mereka yang berusaha taat dan memperjuangkan penegakannya diopinikan sebagai kelompok yang membahayakan.


KESALAHAN paling mendasar dalam sistem sekuler yang tegak hari ini adalah disingkirkannya peran agama dalam kehidupan. Tuhan tak diberi tempat dalam pembuatan aturan. Sementara, akal manusia yang lemah dan terbatas menjadi penentu baik buruk dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Lahirnya sistem aturan yang rusak dan merusak serta sarat kepentingan merupakan keniscayaan. Kebijakan atau aturan bukan diorientasikan untuk kemaslahatan umat, tapi sebagai legitimasi kecurangan.

Alih-alih disejahterakan, hak-hak umat terus dikebiri dengan berbagai kebijakan yang kian liberal. Termasuk hak kaum muslimin untuk menjalankan ketakwaan, hidup dengan asas halal haram.

Kondisi ini tentu sangat bertentangan secara diametral dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam, akidah individu, masyarakat, dan negaranya sama-sama Islam. Yakni akidah yang menyatukan aspek materi (kehidupan) dengan kesadaran akan hubungannya dengan Allah Sang Pencipta dan Pengatur Kehidupan (majzul maadah bi ar ruuh).

Maka, dalam masyarakat Islam, pemahaman-pemahaman, standar-standar, serta kebencian dan rida, semuanya sewarna, yakni warna Islam. Hal ini termanifestasi dalam pengaturan berbagai aspek kehidupan yang berlandaskan halal-haram alias syariat Islam.

Penerapan syariat Islam kafah inilah yang menjamin terwujudnya rahmat. Sebab, semua problem kehidupan di berbagai aspeknya diberi solusi dengan pemecahan yang benar. Yakni dengan syariat Islam yang berasal dari Allah Swt., Zat yang Mahabenar, yang Maha Menciptakan kehidupan.

Sistem inilah yang semestinya kembali diperjuangkan. Caranya dengan meneladani perubahan yang Rasulullah saw. contohkan, yakni melakukan aktivitas dakwah membangun kesadaran dengan akidah dan pemahaman tentang hukum-hukum Islam di semua level umat, termasuk para pemilik kekuasaan dan pemilik kekuatan.

Dakwah semacam ini tentu bukan perkara yang mudah terutama di tengah-tengah segala makar yang dilakukan kafir Barat dan sokongan para watchdog-nya, baik berupa serangan politik, pemikiran maupun budaya yang masif mereka lakukan dengan dukungan dana dan kelembagaan. Termasuk melalui perjanjian-perjanjian internasional.


PROYEK besar ini tentu tak bisa dilakukan dengan amal biasa-biasa. Tapi butuh perjuangan yang keras, terorganisasi, dan konsisten. Serta butuh kerja jemaah yang anggota-anggotanya beramal semata demi Islam, dan senantiasa menjaga visi misi pergerakan sehingga tak tersusupi oleh hal selain Islam.

Jemaah seperti ini akan menyadari sepenuhnya bahwa mereka adalah pelanjut risalah Islam. Sementara amal dakwah mereka memiliki kesepadanan dengan amal dakwah jemaah Rasulullah Saw. pada 14 abad silam.

Inilah yang menjadikan mereka tak henti bergerak. Seakan jalan dakwah adalah setengah nyawanya. Sementara jiwa-jiwa mereka begitu yakin bahwa ujung perjuangannya adalah keberhasilan. Setidaknya, akan menjadi jalan diperolehnya keridaan dari Allah Ta’ala.

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ

وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah, “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah dengan keterangan yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108). [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan