Bisyarah Kembalinya Khilafah dan Prasyarat Kemenangan (Fiqih Tamkin)

“Islam adalah agama penyelamat yang kehadirannya ditujukan untuk memperbaiki sistem dan membawa manusia kepada kemenangan yang hakiki dengan bersandar pada nilai-nilai Ilahi.”


Penulis: Ummu Naira Asfa
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, OPINI — Allah Swt. dengan tegas menjanjikan kemenangan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.” (QS An Nashr: 1-3).

Dalam ayat yang lain, Allah Swt. berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai.” (QS An-Nuur: 55)

Kemenangan dan kejayaan bagi orang-orang yang beriman memiliki berbagai macam bentuk dan wujud yang berbeda. Namun, sejatinya puncak dari kemenangan tersebut adalah tegaknya kembali Khilafah, sebuah institusi islami yang akan menjamin setiap individu mampu menunaikan peran dengan maksimal dalam hubungannya dengan Allah Swt. (hablum minallah), dengan dirinya sendiri (hablum minafsih), dan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Baca juga:  Karakter Pemimpin Ideal Dambaan Umat

Syarat Kemenangan Dakwah

Kemenangan mensyaratkan adanya aktivitas dakwah yang murni bertujuan untuk Islam, membawa materi murni Islam tidak tercampur dengan ide lain dan menapaki metode dakwah Rasulullah Saw secara sempurna. Metode dakwah yang dimaksud meliputi tasqif (pembinaan individu/ jamaah), tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dengan umat), dan istilamul hukmi (penerapan hukum-hukum Islam).

Di dalam kitab Fiqh Nashr Wa Tamkin, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalaby menyatakan bahwa syarat kemenangan dakwah itu memperhatikan tiga aspek, yaitu aspek organisasi, yang memiliki fokus pada pengukuhan organisasi; aspek minhaj, di mana dapat dilakukan inovasi dan eksplorasi dalam pengembangan minhaj; ketiga, aspek pelaku, terkait dengan pemahaman individu-individu di dalam gerakan dakwah itu sendiri.

Definisi Teks Tamkin

Pengertian tamkin yang berasal dari kata makan yang memiliki makna kuat dan kokoh. Dalam pengertian lain kita bisa menjabarkan makna tamkin sebagai Shultan wal Malik yaitu kekuasaan sebagai penguasa, raja ataupun pemimpin politik.

Kemenangan yang dimaksud di sini adalah kemenangan yang futuh, di mana semua manusia di muka bumi ini bersyahadat kepada Allah Ta’ala. Tidak ada lagi fitnah di atas muka bumi yang dimaknai dengan tidak adanya lagi kemusyrikan di atas muka bumi.

Baca juga:  Kalau Bukan Khilafah, Siapa yang Melindungi Umat?

Definisi lain mengenai tamkin adalah telah sampainya suatu kondisi kemenangan yang mana telah memiliki kekuatan yang cukup serta memegang tampuk kekuatan militer dan kekuasaan politik juga memperoleh dukungan publik, simpatisan, dan pengikut. Ini merupakan bentuk pengukuhan eksistensi di atas muka bumi dan kemuliaan di dalam semua urusan.

Niscayanya Kemenangan dan Dukungan Publik

Kemenangan bagi kaum muslimin adalah keniscayaan dan janji Allah Swt.. Namun demikian, boleh jadi musuh-musuh Islam memandang kemenangan dan kejayaan umat Islam adalah mustahil dan omong kosong belaka.

Oleh karena itu, kaum muslimin harus tetap yakin dengan janji Allah Swt. bahwa bumi ini akan diberikan pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Ini bukanlah mimpi atau ilusi. Sebaliknya, ia manifestasi  keimanan sempurna kepada Allah Swt. dan kebenaran semua janji-Nya.

Kekuasaan dalam sistem Islam kafah berfungsi untuk menjamin perlindungan hak-hak kaum muslimin, sekaligus nonmuslim, fungsi kekuasaan ditopang jihad (asykariah/militer).

Fungsi jihad dalam kekuasaan politik Islam bermakna kepada tiga fungsi, yaitu:

  1. Mengawal dakwah, kekuatan militer digunakan untuk menjaga dan mengamankan kepentingan-kepentingan dari gerakan dakwah itu sendiri;
  2. Menjaga syariat Islam, penerapan dari hukum itu sendiri membutuhkan perlindungan otoritatif dari kekuasaan politik dan kekuatan militer;
  3. Membela mustad’afhin, jihad digunakan sebagai alat perlindungan fisik kepada kaum mustad’afhin atas berbagai tindakan zalim yang mungkin terjadi dalam kehidupan sosial manusia.
Baca juga:  Kenapa Harus Khilafah? (Memperingati 100 tahun Keruntuhan Khilafah 1342–1442 H)

Terwujudnya kabar gembira (bisyarah) tentang kemenangan Islam kafah ini membutuhkan peran semua bagian umat berbagai latar belakang dan kelompok. Selain itu, harus ditata sesuai panduan metode dakwah Rasulullah saw.. [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah


Referensi:

Ali Muhammad Ash Shalaby, Fiqh Nashr Wa Tamkin, Pustaka Al-Kautsar.

Ibnu Taimiyah, Siyasah Syariyyah.

Tinggalkan Balasan