[News] Membangun Indonesia dengan Perspektif Terbaik

MuslimahNews.com, NASIONAL — Indonesia memiliki potensi sumber daya yang luar biasa dan berpeluang menjadi negara besar, sehingga perlu ditimbang apa arah pembangunan yang harus dilakukan agar potensi itu dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan rakyat.

Hal ini menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion #9: Membangun Indonesia Multi Perspektif yang diselenggarakan Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa secara virtual (7/2/2021).

Pada forum ini disampaikan, alternatif formulasi pembangunan yang selama ini ada adalah mengadopsi negara adidaya dengan demokrasi sekuler liberalnya, atau sosialisme, atau dari peradaban yang pernah ada seperti peradaban Romawi, Yunani, bahkan peradaban Islam yang pernah eksis hingga 13 abad lamanya.

Apalagi dalam perkembangannya, Indonesia terlibat utang yang dalam dan memiliki ketergantungan yang semakin besar dengan Tiongkok. Tidak hanya di bidang ekonomi, tapi juga bidang lain seperti kesehatan, pendidikan, militer, dan lainnya. Bahkan, Indonesia berjalan bukan untuk kepentingan negara, tetapi kepentingan segelintir orang.

Meski Indonesia telah memilih “ideologinya”, tetapi tetap tidak mampu mengatasi belenggu krisis termasuk krisis kedaulatan.

Di dunia pendidikan yang sangat dekat dengan peradaban, tampak juga pemisahannya dengan agama. Padahal, seharusnya pendidikan ini menghasilkan sumber daya manusia yang bertakwa dan mampu mengelola sumber daya alam di negerinya. Bukan sebagai pekerja, tetapi pengelola.

Adanya pemisahan dengan agama ini selaras dengan konsep Revolusi Mental yang pada sejarahnya digagas Karl Marx, bahwa satu-satunya cara suatu negara bisa maju adalah dengan memisahkan rakyatnya dari agama.

Inilah bentuk inkonsistensi bangsa ini terhadap spirit spiritualnya sendiri, dengan motif ekonomi telah rela menjual idealismenya.

Oleh sebab itu, perlu melihat Islam sebagai alternatif terbaik. Islam sebagai ideologi memiliki pancaran aturan di berbagai bidang.

Berbeda dengan ideologi lain, Islam mengakui adanya Tuhan yaitu Allah dan menempatkan-Nya sebagai pusat kebenaran, bahkan Allah memiliki kedaulatan hukum.

Dari kedaulatan ini terpancarlah hukum-hukum yang bersumber dari Al-Qur’an. Sehingga, dalam Islam, manusia diperintahkan untuk taat sekaligus melaksanakan aturan-aturannya.

Sedangkan menurut sekularisme, manusia taat pada Tuhan di ranah individu, sementara dalam pelaksanaan hukum-hukum harus dilakukan konsensus-konsensus oleh manusia yang tidak memerlukan pelibatan hukum Allah di dalamnya. Belum lagi faktanya juga konsensus yang dihasilkan bukan untuk rakyat, tetapi para oligarki.

Jika dalam komunisme, ateis tidak percaya Tuhan dan hukum Tuhan. Manusia dianggap pusat segalanya atau antroposentris. Sifatnya materialisme. Ini pun berbahaya.

Dengan demikian, tampak bahwa jika Islam yang melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara ini, akan lahir generasi bertakwa yang akan mengelola kehidupan bersandarkan hukum terbaik dari Allah, memiliki independensi, dan tidak terbelenggu negara-negara lain. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan