[Nafsiyah] Kebersamaan yang Membahagiakan

“Tidak sulit bagi Islam untuk mengatur fakta pluralitas (keberagaman). Sebab, berjenis manusia dengan ragam bangsa, bahasa, warna kulit, dan keyakinannya, Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan.”


Penulis: Ratu Erma Rachmayanti
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews, NAFSIYAH — Allah Swt. Zat Yang Mahatahu dan Mahaadil, menurunkan aturan bagaimana cara mereka hidup dan bergaul. Sebab itu, dalam masyarakat Islam, baik awal mula umat ini membangun kebersamaan hidup di masa kepemimpinan baginda Rasulullah saw. maupun setelahnya, kita menemukan banyak fakta kehidupan produktif dan membahagiakan di dalamnya.

Semua itu terjadi karena adanya jaminan negara terhadap kebutuhan dasar seluruh warga negara Khilafah, baik muslim maupun kafir dzimmi (kafir yang tunduk pada pemerintahan Islam).

Jaminan itu ditunjukkan sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang menyakiti dzimmi, maka aku berperkara dengan dia. Siapa saja yang berperkara dengan aku, maka aku akan memperkarakan dia pada Hari Kiamat.(Hadis Hasan)

Karena itulah, kita menyaksikan bagaimana hak-hak individu mereka dalam keyakinan, ibadah, ataupun harta, mendapat jaminan yang sama. Fakta sejarah yang tidak terbantahkan bahwa orang kafir dzimmi lebih memilih hidup diatur syariat Islam ketimbang diatur pemimpin bangsanya.

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam menuliskan,

Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.

Kaum Kalvinis Hongaria dan Transylvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik.

Kaum Protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam.

Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Secara global, prinsip dasar pengaturan itu adalah bahwa pemeluk agama lain dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. yang sama-sama menerima taklif risalah Islam.

Namun, pada pelaksanaannya, mereka tidak akan dipaksa salat, haji, zakat, jihad, dan hukum syariat lain yang mensyaratkan adanya iman dan Islam. Sebaliknya, mereka dibiarkan melakukan ibadahnya, makan, minum, berpakaian, menikah dan bercerai menggunakan agama mereka.

Dalam kaitannya sebagai warga negara, dalam aturan kehidupan umum yang tidak diatur agama mereka, maka mereka terikat dengan hukum-hukum pengaturan umum dalam Islam. Semisal hukum-hukum muamalat (hubungan transaksional ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain), hukum sanksi, dan hukum politik.

Kebersamaan yang Membahayakan

Kehidupan produktif dan membahagiakan dalam keberagaman di tengah dominasi ideologi kapitalisme sekuler adalah fatamorgana. Penyakit akut islamofobia yang diidap Barat mustahil mewujudkan hal itu. Sebab, segala yang menunjukkan identitas Islam akan diperanginya.

Lihatlah, bagaimana di Denmark, pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, membakar salinan Al-Qur’an (Jumat, 22/3/2019 silam, ed.) sebagai bentuk protesnya atas sejumlah muslim yang menunaikan salat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut.

Juga pelarangan pemakaian burka di Prancis, diskriminasi terhadap pelaksanaan ibadah dan pendirian tempat ibadah umat muslim, pemeriksaan ekstra ketat imigrasi transportasi darat, laut, dan udara terhadap mereka yang beragama Islam atau mereka yang berasal dari negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Pun pembunuhan hampir 50 orang muslim di Christchurch, Selandia Baru, jelas-jelas menunjukkan penyakit parah itu.

Karenanya, bagaimana mungkin hidup bersama diwujudkan di tengah kebencian mereka terhadap Islam dan umatnya?

Adnin Armas (pendiri INSIST) mengatakan, di Indonesia, gejala penyakit ini juga telah menjangkit, diindikasikan dengan orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama ini bisa dituduh konservatif, fundamentalis, radikal, antikemajuan, anti-Barat, anti-NKRI, dan fitnah-fitnah serupa.

Propaganda hidup damai, persatuan dalam keberagamaan yang dipandu ideologi Barat, sesungguhnya mengancam kehidupan umat manusia. Sebab, makna damai yang diintroduksi Barat kepada dunia adalah tidak boleh ada yang mengganggu kepentingannya; satu-satunya lawan hakiki adalah Islam.

Mereka tahu ideologi Islam dan syariatnya akan menggeser hegemoninya, menghilangkan segala kesukaan liarnya, merenggut kemerdekaannya. Karenanya, tanpa dasar, mereka telah lebih dulu membuat prejudice bahwa Islam itu intoleran, radikal, eksklusif, tirani mayoritas, dan sebagainya.

Dominasi mereka atas dunia memaksa para pemimpin mengikuti kehendak mereka. Tidak heran jika pemimpin muslim justru menyuarakan agenda mereka dan membebek pada arahannya, mengamini kesepakatan forum-forum dialog interfaith, menderaskan moderasi Islam atau program deradikalisasi.

Juga memfasilitasi partai yang menolak perda syariah, poligami, wisata halal dengan alasan menjaga keanekaragaman Bali, serta an menolak “arabisasi”. Bahkan, dengan lancangnya menyatakan sumber potensial pecahnya bangsa adalah isu agama!

Sesungguhnya, kebersamaan yang dibangun berbagai kesepakatan seperti di atas dalam rangka mencari titik temu antaragama, adalah tipu daya belaka. Justru membahayakan kehidupan kemanusiaan, mendiskreditkan Allah, Rasulullah saw., syariat Islam, dan umat Islam.

Mereka begitu melecehkan syariat Allah Swt. yang terbukti dalam sejarah telah mendamaikan dan menyejahterakan dunia, termasuk di dalamnya hamba-hamba-Nya yang telah memilih untuk tidak mengimaninya (Islam), syariat yang telah menjamin hak-hak dasar mereka.

Mereka membunuhi kaum muslimin di berbagai negara, mengintimidasi muslimah, serta menghinakan para pengemban risalah Allah Swt..

Khilafah Penjaga Hakiki Peradaban Manusia

Mengembalikan kehidupan manusia yang beradab, sejahtera, dan damai, sesungguhnya adalah mengembalikan berlakunya syariat Allah Swt. dalam naungan Khilafah.

Ini bukan soal pemaksaan kehendak satu agama, melainkan tanggung jawab sebuah ideologi sahih dalam menata peradaban manusia.

Mengingat fakta hari ini, peradaban yang sekian lama dibentuk ideologi kapitalisme sekuler justru telah menyebabkan konflik, kesempitan hidup, dan berbagai kesengsaraan.

Syariat Islam yang akan ditegakkan Khilafah adalah penjamin kehormatan seluruh manusia, muslim maupun kafir dzimmi. Penjaga hak-hak dasar hidup mereka, penjaga kerukunan, dan penjamin kesejahteraan.

Dengan hukum politiknya, Khilafah mencegah tindakan abuse of power pemimpin, menjamin pemenuhan kepentingan bangsa.

Dengan hukum ekonominya, Khilafah menjamin pemerataan kebutuhan primer dan terdukungnya kebutuhan sekunder dan tersier.

Dengan hukum sosialnya, Khilafah akan mencegah rusaknya moral generasi juga menghalangi tersebarnya penyakit menjijikkan akibat penyimpangan seksualitas. Serta hukum lain yang menjamin kesetaraan manusia, kerukunan dalam keberagamannya. [MNews]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah


 

Tinggalkan Balasan