Toleransi dan Intoleransi dalam Perspektif Islam

“Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, baik manusia maupun jin, muslim maupun nonmuslim; apa pun warna kulit, agama, ras, dan segala latar belakang mereka.”


Penulis: Dr. Rahma Qomariyah Firdausi
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews, FOKUS — Dalam Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin menafsirkan surah Al-Anbiya’ ayat 107,

وَمَآ أرسلناك } يا محمد { إِلاَّ رَحْمَةً } أي للرحمة { للعالمين } الإِنس والجنّ بك .

Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (bagi jin dan manusia denganmu-risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad.” (QS Al-Anbiya [21]: 107).

Dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyah Juz III, Syekh Taqiyuddin menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut:

فكون الرسول رحمة وكون القراءن شفاء ورحمة كل ذالك يدل على ان الشريعة جاءت رحمة للعباد الا كون الشريعة جاءت رحمة هو النتيجة التى تترتب على الشريعة.

Maka, adanya Rasul adalah rahmat, adanya Alquran adalah obat dan rahmat. Semuanya itu menunjukkan bahwa sesungguhnya syariat mendatangkan rahmat (maslahah), yaitu hasil yang diperoleh atas pelaksanaan syariat.”

Dari pemaparan di atas, jelas sekali bahwa dengan menerapkan seluruh hukum Islam, seluruh alam, baik jin maupun manusia, muslim maupun kafir, pada saat di dunia akan mendapat rahmat.

Dalam pemerintahan Islam, warga negara nonmuslim pun tidak dipaksa masuk Islam. Firman Allah Swt.:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (QS al-Baqarah [2]: 256)

Baca juga:  [News] Muslimah Palestina: Pengemban Dakwah Tidak Pernah Berhenti

Semua warga negara dalam pemerintahan Islam/Khilafah yang nonmuslim disebut sebagai zhimmi. Sebagaimana warga negara muslim, warga negara nonmuslim juga mempunyai hak memperoleh perlakuan sama. Tidak boleh ada diskriminasi. Negara Khilafah harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, dan harta bendanya.

Rasulullah saw. bersabda,

Barang siapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun.(HR Ahmad).

Syekh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nizham Islam menyebutkan tentang peraturan yang berkaitan dengan warga negara nonmuslim, di antaranya:

  • a) Khilafah akan menerapkan seluruh hukum Islam;
  • b) Semua warga negara, baik muslim maupun nonmuslim, mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan syariat Islam;
  • c) Negara tidak boleh melakukan diskriminasi kepada warga negaranya, baik muslim maupun nonmuslim, dalam masalah hukum, peradilan, dan urusan rakyat yang lain;
  • d) Negara menerapkan syariat Islam atas seluruh warga negara, baik muslim maupun nonmuslim.

Penjelasan penerapan syariat Islam atas seluruh warga adalah sebagai berikut:

  1. Memberlakukan seluruh hukum Islam kepada warga negara muslim tanpa kecuali;
  2. Nonmuslim dibolehkan tetap memeluk agama mereka dan beribadah berdasarkan keyakinannya;
  3. Aturan urusan makanan dan pakaian bagi nonmuslim diberlakukan negara sesuai agama mereka (nonmuslim), namun tetap dalam koridor hukum syariat Islam.
  4. Urusan pernikahan dan perceraian di kalangan nonmuslim diperlakukan menurut aturan agama mereka;
  5. Dalam bidang publik seperti muamalat, uqubat (sanksi), sistem pemerintahan, sistem perekonomian, dan sebagainya, negara menerapkan syariat Islam kepada seluruh warga negara, baik muslim maupun nonmuslim.
Baca juga:  Peran Perempuan dalam Penegakan Khilafah

Khilafah akan memberlakukan politik ekonomi dengan menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan rakyatnya.

Pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas dan gratis; layanan kesehatan berkualitas dan gratis; keamanan gratis; birokrasi, jalan, pasar, dan beberapa fasilitas umum yang lain berkualitas dan gratis.

Sedangkan sandang, pangan, dan papan (perumahan) murah. Pelaksanaan politik ekonomi ini akan menyejahterakan semua rakyatnya tanpa diskriminasi, muslim maupun nonmuslim.

Baitulmal Khilafah akan mengumpulkan zakat dari warga negara yang muslim. Negara tidak memungut pajak kecuali keadaan kas negara dalam keadaan kritis, dan pajak hanya dipungut dari kaum muslimin yang kaya saja.

Adapun untuk warga negara nonmuslim, hanya dipungut jizyah bagi laki-laki yang sudah balig dan mampu membayar jizyah. Sedangkan bagi warga negara nonmuslim yang miskin, tidak wajib membayar jizyah, bahkan justru disantuni. (Sistem Keuangan dalam Negara Khilafah, Abdul Qadim Zallum, hlm 65).

Selanjutnya dalam bidang hukum, bandingkan dengan keadaan sekarang, pelaksanaan hukum pada umumnya tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Hukum diperjualbelikan, siapa yang bisa membayar mahal, dialah yang menang.

Berbeda saat hukum Islam diterapkan, pemerintahan Islam memperlakukan semua rakyat dengan adil, baik muslim maupun nonmuslim, rakyat jelata maupun pejabat negara. Tidak pernah didengar kisah penerapan hukum yang lebih adil daripada hukum Islam.

Baca juga:  [Nafais Tsamarat] Tanpa Khilafah...

Tersebutlah kisah Ali bin Abi Thalib—saat itu sebagai Khalifah/kepala negara—yang bersengketa dengan seorang Yahudi. Si Yahudi mengadukan Khalifah Ali kepada Qadhi/Hakim bahwa sang Khalifah telah mencuri baju besinya. Si Yahudi mendatangkan bukti asli tapi palsu, sementara Khalifah Ali tidak bisa mendatangkan bukti.

Karenanya, hakim memenangkan orang Yahudi tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada Khalifah Ali. Mendengar vonis hakim tersebut, orang Yahudi itu pun masuk Islam. Akal dan hatinya tersentuh, tidak kuasa menyaksikan keagungan hukum Islam.

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam menyebutkan tentang perlakuan yang baik/toleran yang diterima nonmuslim yang hidup di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.”

Arnold juga menuliskan, “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman–selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani– telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.[MNews]