[Sirah Nabawiyah] Tunduknya Penduduk Thaif kepada Negara Islam


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Pada bulan Ramadan, setelah Rasulullah Saw. kembali ke Madinah dari Tabuk, delegasi Tsaqif (Thaif) datang menemui Beliau Saw. Peristiwa ini terjadi setelah beberapa bulan penduduk Thaif berunding memikirkan posisi mereka di hadapan Negara Islam.

Penduduk Thaif menyimpulkan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memerangi Negara Islam, mengingat seluruh Jazirah Arab telah tunduk kepada Negara yang dipimpin Rasulullah Muhammad Saw. Bahkan Negara Islam mulai menghancurkan batas-batas kekuasaan Romawi.

Penduduk Thaif  Mengirim Delegasi

Bani Tsaqif berbicara kepada Abdu Yalil bin Amr bin Umair untuk memintanya pergi kepada Rasulullah Saw. Namun Abdu Yalil menolak melakukannya, sebab ia khawatir nasibnya akan sama seperti Urwah bin Mas’ud.

Urwah bin Mas’ud dipanah oleh orang-orang Thaif hingga syahid, sepulang dari menemui Rasulullah Saw dan masuk Islam. Abdu Yalil berkata, “Aku tidak akan melakukannya sebelum ada beberapa orang yang diutus bersamaku.” Akhirnya mereka sepakat mengutus Abdu Yalil bersama dua orang dari Akhlaf dan tiga orang dari Bani Malik, sehingga jumlah mereka seluruhnya menjadi enam orang.

Setelah mereka dekat dengan Madinah dan berhenti di Qonah, mereka bertemu dengan Mughirah bin Syu’bah yang sedang menggembala kuda-kuda yang digunakan untuk  berjihad.

Mughirah segera pergi untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Rasulullah Saw. Namun di tengah jalan Mughirah bertemu dengan Abu Bakar ash Shiddiq dan menceritakan tentang delegasi penduduk Thaif.

Kemudian mereka bersepakat bahwa Abu Bakar yang akan menemui  dan menyampaikan berita kedatangan delegasi Thaif kepada Rasulullah Saw. sedangkan Mughirah pergi kepada orang-orang Tsaqif.

Tidak Ada Kompromi dalam Urusan Akidah

Setelah tiba di tempat Rasulullah Saw., mereka berkemah di salah satu sisi masjid Beliau Saw. Khalid bin Sa’id bin al Ash menjadi perantara antara mereka dengan Rasulullah Saw.

Delegasi Tsaqif tidak mau memakan makanan yang disuguhkan oleh Rasulullah Saw sebelum Khalid bin Sa’id terlebih dahulu memakannya. Keadaan seperti itu terus berlangsung hingga mereka masuk Islam dan surat perjanjian selesai ditulis.

Di antara permintaan delegasi Tsaqif kepada Rasulullah Saw. adalah hendaknya Beliau Saw. tetap membiarkan berhala Lata dan tidak menghancurkannya selama tiga tahun. Rasulullah menolak permintaan mereka.

Permintaan mereka untuk membiarkan berhala Lata ini berulangkali mereka sampaikan kepada Rasulullah Saw., namun Beliau Saw. tetap menolak memenuhi permintaan mereka.

Mereka berharap bahwa dengan dibiarkannya berhala  Lata, mereka bisa selamat dari amukan orang-orang bodoh, para wanita, dan anak-anak mereka.  Selain itu mereka tidak ingin menakut-nakuti kaumnya dengan penghancuran berhala-berhala tersebut sebelum seluruh kaum mereka masuk Islam. Namun Rasulullah saw tidak bersedia memenuhi keinginan mereka.

Selain meminta agar Lata tetap dipertahankan, delegasi Tsaqif juga meminta kepada Rasulullah Saw. membebaskan mereka dari kewajiban salat. Rasulullah Saw bersabda,

Tentang penghancuran berhala-berhala dengan tangan kalian, maka kalian akan aku bebaskan darinya. Sedangkan permintaan untuk dibebaskan dari kewajiban salat, maka tidak akan aku kabulkan, sebab tidak ada kebaikan pada agama yang di dalamnya tidak ada salat.

Ketika delegasi Tsaqif telah menyatakan masuk Islam dan Rasulullah Saw. telah membuat surat perjanjian untuk mereka, Beliau Saw. mengangkat Utsman bin Abu al Ash sebagai pemimpin mereka. Utsman bin Abu al Ash adalah orang termuda di antara mereka, namun ia orang yang paling bersemangat untuk mendalami ajaran Islam dan mempelajari Al Qur’an.

Kembalinya Delegasi Tsaqif dan Penghancuran Lata

Setelah delegasi Tsaqif menyelesaikan urusan mereka dan hendak kembali ke negeri mereka, Rasulullah Saw. mengirim bersama mereka Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu’bah untuk menghancurkan berhala Lata. Kedua orang tersebut berangkat bersama delegasi Tsaqif.

Abu Sufyan bin Harb sebelumnya adalah seorang pembela dan penjaga berhala. Ketika penduduk Thaif melihat dengan matanya sendiri Abu Sufyan bin Harb menghancurkan berhala, maka akan hancur dan lenyaplah semangat pembelaan penduduk Thaif terhadap berhala-berhala tersebut.

Ketika delegasi bersama Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu’bah  tiba di Thaif, Mughirah bin Syu’bah meminta Abu Sufyan bin Harb agar terlebih dahulu memasuki Thaif. Abu Sufyan bin Harb menolaknya dan berkata, ”Seharusnya engkau sendiri lebih dahulu masuk kepada kaummu.

Mughirah bin Syu’bah masuk kepada kaumnya, ia naik ke atas berhala Lata kemudian memukul dan menghancurkan Lata. Pada saat Mughirah menghancurkan Lata, ia dilindungi oleh kaumnya Bani Mu’attib. Sebab mereka khawatir Mughirah bin Syu’bah akan dipanah dan dibunuh oleh orang-orang Thaif, sebagimana yang terjadi pada Urwah bin Mas’ud ats Tsaqafi.

Setelah selesai menghancurkan berhala Lata, Mughirah mengambil harta benda dan perhiasan yang ada pada Lata, lalu memberikannya kepada Abu Sufyan bin Harb.

Dengan demikian, itulah akhir perlawanan kubu-kubu kemusyrikan yang terdapat di jazirah Arab. Akhirnya seluruh jazirah Arab tunduk kepada Negara Islam. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw. Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press