Memurnikan Perjuangan untuk Perubahan


Penulis: Qisthi Yetty


MuslimahNews.com, FOKUS — Perubahan kepada kebaikan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari umat Islam. Ajaran Islam tentang amar makruf nahi mungkar ialah konsep untuk melakukan perubahan. Kewajiban amar makruf nahi mungkar merupakan kunci keberhasilan umat Islam menjadi umat terbaik.

Sebagaimana firman Allah Swt.,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

Adapun pelaku amar makruf nahi mungkar adalah individu umat Islam (QS At-taubah: 71), jemaah/kelompok/partai politik (QS Ali Imran: 104), negara/penguasa dengan cara menerapkan syariat Islam secara kafah (QS Al-Baqarah: 208), serta dengan jihad untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia menjadi rahmatan lil’ alamiin.

Kewajiban ini telah dijalankan dan diterapkan kaum muslimin sejak masa Rasulullah saw., lalu dilanjutkan para penggantinya (para Khalifah setelahnya) selama kurang lebih 13 abad lamanya.

Dunia merasakan rahmatnya Islam, hingga akhirnya musuh-musuh Islam datang menghancurkannya dan memutarbalikkan pemahaman umat Islam.

Sejak AS mengampanyekan Global War on Terrorism (GWOT)” setelah 11 September 2001, umat Islam menjadi sasaran utamanya. Atas nama melawan terorisme umat Islam diperangi, dibunuh, atau dipenjarakan.

Pada dekade terakhir, narasi melawan terorisme diubah menjadi melawan radikalisme dan ekstremisme. AS melalui lembaga think tank-nya RAND Corporation melancarkan strategi adu domba dengan cara membagi-bagi umat Islam, ada Islam moderat/toleran, Islam radikal/fundamental, dan Islam tradisional.

Sejak saat itu, arus moderasi Islam begitu deras melibas kehidupan umat Islam. Program moderasi Islam telah mengepung semua segmen masyarakat, mulai dari pendidikan anak usia dini, masjid-masjid/ceramah agama/isi khotbah, sekolah-sekolah/pesantren, perguruan tinggi, ASN, pegawai BUMN, dll., semuanya dijadikan alat untuk moderasi Islam.

Senjata Membungkam Kaum Muslimin

Moderasi Islam menjadi senjata ampuh penguasa untuk membungkam suara kritis kaum muslimin dalam melakukan amar makruf nahi mungkar dengan alasan melawan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Bahkan, instrumen hukum telah disiapkan penguasa, di antaranya UU 25/2018 tentang pencegahan tindak pidana terorisme, UU ITE terkait ujaran kebencian, rasisme, dan menyebar berita bohong (hoaks), juga Perpres 7/2021 tentang rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstremisme (RAN-PE).

Dengan senjata ini ulama, aktivis dan umat Islam dalam bayang-bayang ketakutan ketika melakukan amar makruf nahi mungkar. Sedikit banyak kondisi ini memengaruhi arah perjuangan umat Islam yang menginginkan perubahan.

Tidak sedikit para pejuang Islam terbawa arus moderasi Islam ini, disadari maupun tidak. Mulai dari ada yang memang menjadi agen kompradornya AS yang mendapat kompensasi dunia, atau hanya sekadar menjalankan program mencari “rasa aman”.

Namun, banyak juga yang istikamah memegang tali agama Allah Swt. meski harta dan jiwa menjadi taruhannya. Lalu di manakah kita berdiri?

Tentukan Posisi Kita

Ingatlah firman Allah Swt.,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka…” (QS Ali Imran: 103)

Maka, bagi siapa pun yang menginginkan perubahan yang mengikuti minhaj Rasulullah saw. pasti akan menentukan sikap untuk istikamah memegang kebenaran Islam.

Islam yang satu yakni Islam kafah, bukan Islam moderat. Sebab, baginya, kehidupan di dunia ini hanya semata mencari rida Allah Swt., “Inna shalaati wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil’aalamiin. (Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah Swt.).”

Selanjutnya, menyadari betul bahwa berpegang teguh pada tali agama Allah secara alami akan berhadapan dengan musuh-musuh Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Tekanan, intimidasi, bahkan ancaman penjara dan nyawa adalah keniscayaan karena bagian dari risiko keimanan, sebagaimana dialami Rasulullah saw. dan penerus beliau saw.. Sebab, bertemu Allah Swt. dalam kondisi membela agama-Nya merupakan kebahagiaan hakiki yang dicita-citakan mukmin sejati.

Kuncinya, senantiasa mengkaji, memahami, dan menapaki perjuangan sesuai yang Rasulullah saw. lakukan.

Allah Swt. berfirman surah Al-Ahzab: 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Memurnikan Perjuangan

Melangkahlah step by step dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, berjuang mengikuti Rasulullah saw. hingga terwujud kesadaran pada umat Islam hingga kepercayaannya (loyalitas) hanya kepada solusi Islam semata, bukan solusi selainnya.

Umat Islam benar-benar menolak segala macam penyebab kerusakan di dunia saat ini, seperti demokrasi, sistem ekonomi kapitalisme, nasionalisme yang memecah belah umat, pluralisme, sinkretisme, liberalisme sekuler, dan sebagainya.

Hingga muncul keyakinan bahwa syariat Islam harus diterapkan secara kafah (keseluruhan) dalam sistem Khilafah, untuk menyelesaikan segala problem kehidupan. Sebab, sistem Khilafah saja yang bisa menerangi dengan syariat kafahnya.

Yang terpenting, harus memiliki gambaran jelas tentang tata cara/mekanisme pelaksanaan syariat Islam secara kafah dalam sistem Khilafah. Ini semua tidaklah mungkin dilakukan secara individu. Hal ini harus dilakukan secara berjemaah sebagaimana dituntut Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Ali Imran: 104,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (Islam), melakukan amar makruf nahi mungkar, itulah orang-orang yang beruntung.”

Demikianlah, hendaknya kita para pejuang Islam yang menginginkan perubahan menuju kemuliaan Islam dan kaum muslimin, untuk senantiasa memurnikan langkah perjuangannya semata-mata untuk Islam, untuk Allah Swt. dan Rasulullah saw. demi meraih rida Allah Swt..

Hingga pertolongan Allah Swt. benar-benar terwujud di muka bumi ini dengan tegaknya Khilafah ‘ala minhajji nubuwah, karena sebab keimanan dan keikhlasan kita mengikuti minhaj Rasulullah saw.. Aamiin yaa rabbal’aalamiin. [MNews/Gz]

*Artikel ini adalah materi pengantar Diskusi Online WAG Muslimah News ID pada Sabtu, 6/3/2021.