Maryam Al-Asturlabi, Perintis Awal GPS


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Global Positioning System (GPS) merupakan instrumen penting dalam kehidupan masyarakat di era kini. Namun, pernahkah terbayangkan bahwa perintis awalnya adalah seorang muslimah di era Kekhilafahan Islam?

Maryam Al-Ijliya Al-Asturlabi. Hidup pada abad ke-10 di Aleppo, Suriah. Kepiawaian dan kegeniusannya diakui dalam hal ilmu pengetahuan khususnya astronomi.

Salah satu karya besarnya yang menginspirasi hingga saat ini adalah astrolabe, atau dikenal sebagai ponsel pintar kuno. Astrolabe merupakan piranti global positioning yang membantu menentukan kedudukan matahari dan planet-planet. Instrumen tersebut digunakan untuk keilmuan astronomi, astrologi, dan horoskop.

 Astrolabe juga difungsikan untuk mengetahui waktu dan sebagai navigasi dengan cara mencari lokasi berdasarkan lintang dan bujur. Bagi kaum muslimin, astrolabe digunakan pula untuk menentukan kiblat, waktu salat, awal Ramadan, serta Idulfitri. Di era ini, astrolabe versi modern dikenal dengan Global Positioning System (GPS).

Kemahiran Maryam berawal dari ketekunannya membantu sang ayah, Kushiar Al-Jili Al-Asturlabi, pembuat astrolabe terkenal di Baghdad. Ia pun mengajarkan kepada Maryam teknik pembuatannya.

Ilmu astronomi yang dikuasai ayahnya ini diwariskan kepada anaknya. Secara turun temurun, keluarga Ijliya menjadi pembuat alat yang berkaitan dengan astronomi.

Baca juga:  Sutayta al-Mahamali, Muslimah Pengembang Aljabar dari Baghdad

Mereka juga belajar ilmu astronomi dari seorang ahli bernama Bitolus yang juga berasal dari Baghdad. Namun, dalam perkembangannya, Maryam mampu menciptakan desain astrolabe yang lebih detail, rumit, dan inovatif. Kemampuannya ini menjadikan Maryam digelari insinyur mesin di masanya.

Berbekal keahlian tersebut, Maryam dan ayahnya bekerja di istana penguasa kota Aleppo kala itu, Sayf al-Dawla yang memerintah pada 944—967 M.

Walaupun tidak banyak dipublikasikan, prestasi kehidupan Maryam sangat tersohor di Eropa. Di lapisan masyarakat ilmuwan Eropa, Maryam mendapat julukan al-Astrolobe.

Keahlian dan kepintarannya menyebabkan banyak ilmuwan Eropa yang mengarahkan pandang kepadanya, menyerap keilmuannya sehingga ilmu astronomi dapat berkembang pesat hingga saat ini.

Rudaina A. Al-Mirbati dari Departemen MIPA, Gulf University for Science and Technology (2013) menyebutkan pendapat Prof. Saleem Al-Husaini yang mengatakan Maryam adalah muslimah pertama pembuat cikal bakal alat transportasi dan komunikasi untuk dunia modern.

Pekerjaan yang dilakukannya rumit dan berkaitan dengan persamaan matematis, tapi ia mampu membuktikan kemampuannya dalam bidang ini.

Hanya saja, Al-Mirbati menyayangkan saat nama Maryam terlewat ketika pembahasan peran penemu dan ilmuwan muslim Arab dalam ilmu pengetahuan. Padahal, ia satu-satunya muslimah pembuat alat penunjuk arah.

Baca juga:  Sutayta al-Mahamali, Muslimah Pengembang Aljabar dari Baghdad

Al-Mirbati berpendapat, Maryam pantas terkenal dan dianggap terhormat seperti halnya Ibn Haytham, Ibn Sina, dan sederet nama ilmuwan pria Arab dan muslim lainnya.

Prestasi yang diukir Maryam Al-Asturlabi membuktikan Islam dalam naungan Khilafah tidak pernah mendiskreditkan perempuan. Justru difasilitasi dengan tujuan kemaslahatan umat dengan standar syariat.

Kegemilangan performa di berbagai bidang tersebut menjadikan Islam berada dalam masa keemasannya jika diterapkan secara sempurna.

Islam adalah sistem khas yang saling bertaut, tidak dapat diambil sebagiannya saja. Penerapan Islam secara sempurna dalam payung Khilafah telah membuktikan kaum muslimin sebagai umat terbaik, menjadi rahmat bagi semesta, menuai keberkahan dari langit dan bumi, bahkan mercusuar untuk dunia. [MNews/Gz]

(Diolah dari berbagai sumber)