Catahu 2021: Kekerasan terhadap Perempuan Meningkat Selama Pandemi

MuslimahNews.com, NASIONAL — Komnas Perempuan telah merilis Catatan Akhir Tahun (Catahu) yang berisi data angka kekerasan terhadap perempuan (KtP) selama 2020 di Indonesia.

Rilis yang dilakukan secara virtual di kanal Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan pada Jumat (5/3/2021) dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati Hari  Perempuan Internasional setiap 8 Maret.

Menurut Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani, hingga saat ini data yang tercatat masih berupa indikasi dari puncak gunung es persoalan kekerasan terhadap perempuan.

“Data yang terhimpun adalah terbatas pada kasus di mana korban melapor dan juga pada jumlah dan daya lembaga yang turut serta di dalam upaya kompilasi ini,” ujarnya.

Ia menyatakan data Catahu 2021 merekam ada 299.911 kasus, berkurang signifikan dari data yang dicatatkan pada tahun 2019, yaitu sebanyak 431.471 kasus.

“Namun, penurunan tajam data kasus yang dapat dicatatkan pada Catahu 2021 ini lebih merefleksikan kapasitas pendokumentasian daripada kondisi nyata kekerasan terhadap perempuan di masa pandemi yang cenderung meningkat,” urainya.

“Sebanyak 34% lembaga yang mengembalikan kuesioner menyatakan bahwa terdapat peningkatan pengaduan kasus di masa pandemi. Data pengaduan ke Komnas Perempuan juga mengalami peningkatan drastis 60% dari 1.413 kasus di tahun 2019 menjadi 2.389 kasus di tahun 2020,” tambahnya.

Baca juga:  Pornoaksi Berdalih Melawan “Body Shaming”

Ia menilai arus deras pengaduan ke Komnas Perempuan menunjukkan masa pandemi menghadirkan berbagai kerentanan baru kekerasan terhadap perempuan. Hanya saja dalam kompilasi keseluruhan, jumlah data yang dilaporkan berkurang. Hal ini karena kuesioner yang dikembalikan menurun hingga hanya 50 persen dari tahun sebelumnya.

“Seandainya kapasitas lembaga dan informasi TIK tersedia, serta perempuan dapat mengakses kanal komunikasi yang disediakan, dapat diprediksi jumlah data yang dapat kita himpun bisa jadi jauh lebih besar daripada tahun sebelumnya,” katanya.

Covid-19 adalah salah satu penyebab ketimpangan-ketimpangan yang sebelumnya telah ada menjadi semakin nyata dan membesar. “Kami menggarisbawahi betapa kekerasan seksual menyebar luas di semua ranah kekerasan terhadap perempuan, baik di ruang offline maupun siber,” ungkapnya.

Pada Catahu ini tercantum kekerasan di ranah pribadi atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mengalami pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Bentuk kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik 2.025 kasus (31%) menempati peringkat pertama disusul kekerasan seksual sebanyak 1.983 kasus (30%), psikis 1.792 (28%), dan ekonomi 680 kasus (10%).

Pada ranah komunitas, angka KtP tahun ini terjadi kenaikan kasus dalam perdagangan orang dibandingkan tahun sebelumnya dari 212 menjadi 255, dan terdapat penurunan pada kasus kekerasan terhadap perempuan pekerja migran dari 398 menjadi 157.

Baca juga:  Ratu Erma: Hari Perempuan Internasional adalah Peringatan Penderitaan Perempuan

Kemudian di ranah negara terdapat perempuan berhadapan dengan hukum 6 kasus, kekerasan terkait penggusuran 2 kasus, kebijakan diskriminatif 2 kasus, kekerasan dalam konteks tahanan dan serupa tahanan 10 kasus, serta 1 kasus dengan pelaku pejabat publik.

Kekerasan Berbasis Gender Siber (KBGS) juga meningkat dari 126 kasus di 2019 menjadi 510 kasus pada tahun 2020. Bentuk kekerasan yang mendominasi KBGS adalah kekerasan psikis 49% (491 kasus) disusul kekerasan seksual 48% (479 kasus) dan kekerasan ekonomi 2% (22 kasus).

Selain itu berdasarkan data Badan Peradilan Agama (Badilag) yang dicatat di Catahu, disebutkan bahwa Badilag telah mengategorisasi penyebab perceraian dengan lebih spesifik termasuk di dalamnya kategori yang memuat kekerasan terhadap perempuan.

Masih sama seperti tahun sebelumnya, data Pengadilan Agama menunjukkan penyebab perceraian terbesar adalah perselisihan berkelanjutan terus menerus sebanyak 176.683 kasus. Kedua terbesar adalah ekonomi sebanyak 71.194 kasus, dan disusul meninggalkan salah satu pihak 34.671 kasus, dan kemudian dengan alasan KDRT 3.271 kasus.

Terdapat pula angka dispensasi nikah dengan peningkatan ekstrem tiga kali lipat yaitu dari 23.126 kasus di tahun 2019, naik tajam sebesar 64.211 kasus pada tahun 2020.

“Hal ini disebabkan di antaranya oleh situasi pandemi, seperti intensitas penggunaan gawai dan persoalan ekonomi keluarga, serta adanya perubahan UU Perkawinan yang menaikkan usia kawin menjadi 19 tahun bagi perempuan,” demikian yang tertulis di Catahu. [MNews/Ruh]

Baca juga:  Mendesakkah Pengesahan RUU P-KS?

Baca juga: muslimahnews.com/2021/03/07/ratu-erma-hari-perempuan-internasional-adalah-peringatan-penderitaan-perempuan/