Pemimpin Ideal Lahir dari Sistem yang Keren, Sob!

MuslimahNews.com, REMAJA — Sobat remaja, rasanya kok makin hari negara kita makin amburadul aja, ya? Kalian ngerasain gak?

Cinta tanah air rasanya kian hambar begitu melihat kenyataan bahwa gak sedikit rakyat yang belum punya tempat tinggal, ngandalin hidup dengan berteduh di bawah jembatan yang kebersihannya gak usah ditanya. Pokoknya miris banget.

Belum lagi kebutuhan yang lainnya. Tarif listrik naik, sembako ikut melonjak, iuran BPJS ikut naik, BBM naik terus, susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi… eh, kok malah nyanyi jadinya ya?

Sebagai rakyat jelata, harapan kita pada para pemimpin ya gak muluk-muluk amat, sih. Asal pemimpin bisa melindungi kita, mengayomi rakyatnya, hidup sejahtera aman sentosa, itu udah lebih dari cukup.

Tapi ya gitu, biar kata orangnya merakyat, kalau sistemnya gak kondusif, ya tetep aja kesejahteraan rakyat cuma mimpi di siang bolong. Emang masalahnya bukan sekadar pemimpin yang kapabel, Sob, tapi ini menyangkut juga masalah sistem apa yang dijalankan oleh para pemimpin kita.

Kalau melihat kondisi saat ini, sepertinya kata sejahtera aman sentosa sepertinya hanya dalam khayalan ya? Kok bisa gitu, ya? Padahal negeri kita kaya, SDA melimpah, tanah Indonesia tuh kata orang gemah ripah loh jinawi, lempar batu juga bisa jadi tanaman, kata di sebuah lagu.

Faktanya berbanding terbalik.  Ya seperti sekarang. SDA kita di rampok. Industri yang strategis untuk memenuhi kebutuhan rakyat,diserahkan pengurusannya ke asing (dan aseng), kriminalitas meningkat, kesehatan dan pendidikan malah dijadiin lahan bisnis oleh para pebisnis.

Lho, emang negara ke mana? Pemimpin kita di mana? Ada, ada sayang, ada. Tapi peran mereka dialihkan ke para pemodal. Itulah sebabnya kenapa segalanya serba mahal. Karena para pebisnislah yang memegang kendali atas seluruh kebutuhan manusia saat ini.

Kalau udah seperti ini, bayangan pemimpin ideal yang pernah ada ketika Islam masih berjaya kembali membayang. Pemimpin yang jadi perisai bagi rakyatnya, gak rela jika kehormatan kaum muslim di injak-injak, gak ikhlas tunduk di bawah kaki penjajah kafir, Apalagi sampai menggadaikan kehormatan dengan membiarkan SDA kita dijarah di depan mata.

Pemimpin Ideal dalam Islam

Adalah Sultan Abdul Hamid II salah satunya. Beliau mengemban amanah dengan memimpin sebuah negara adidaya yang luasnya membentang dari timur dan barat, Di tengah situasi negara yang genting dan kritis.

Termasuk upaya kaum Yahudi untuk mendapatkan tempat permanen di tanah Palestina yang masih menjadi bagian dari wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid untuk melakukan risywah (menyogok).

Sogokan Hertzl kepada Sultan tak tanggung-tangggung. 150 juta poundsterling Inggris khusus untuk Sultan, membayar semua utang pemerintah Ustmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling Inggris, Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta Frank,Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga,serta Membangun Universitas Ustmaniyyah di Palestina.

Hmm..Jika negeri kita yang saat ini punya utang tujuh turunan disodorkan tawaran kayak gitu, udah pasti langsung di embat. Jangankan tawaran gratis, utang juga kita beringasan.

Namun, semua itu ditolak Sultan, bahkan Sultan gak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan,

Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”.

Wuihhh TOP! Biar kata negara sedang krisis, pantang bagi sultan untuk menerima bantuan apalagi sampai berutang ke negara kafir.

Beliau bahkan membuktikan kemampuannya memangkas utang negara sedikit demi sedikit, menenangkan kondisi politik dalam negeri meski akhirnya melalui sebuah konspirasi beliau dipecat secara paksa oleh para pemberontak.

Terhadap peristiwa pemecatannya, Sultan Abdul Hamid II mengungkap kegundahan hatinya yang dituangkan dalam surat kepada salah seorang gurunya Syekh Mahmud Abu Shamad yang berbunyi:

“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai tekanan dan ancaman dari para tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga dengan berat hati dan terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan beruntun dan bertubi-tubi yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta pounsterling emas. Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan mengatakan, “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Utshmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian. Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Utshmaniah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu.”

Nah, Sobat remaja, pemimpin seperti Sultan Abdul Hamid II ini lahir dari sistem mumpuni bernama Khilafah. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang tegak sejak Rasulullah saw. hijrah ke Madinah hingga runtuh di masa Kekhilafahan Sultan Abdul Majid II. Kalian wajib tau lho ya sejarah kejayaan Islam.

Pemimpin dambaan hanya akan terwujud jika Islam menjadi nafas dalam menjalankan amanah, Sob. Ketakutan kepada Allah menjadi monitor terdekat tatkala seorang pemimpin menjalankan tugasnya. Jika pemimpin kita paham Islam sebagai sistem hidup, insyaallah keberkahan dunia akhirat bakal kita dapatkan.

Kenapa? Karena hanya Islam yang terbukti mampu mencetak para pemimpin yang kapabel dalam sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah. Yuk, bareng-bareng kita perjuangkan! [MNews/Juan]