[News] Ustaz Hafidz: Islam Konsisten Melarang Miras

MuslimahNews.com, NASIONAL — Kebutuhan perlu alat pemuas berupa barang dan jasa. Dalam pandangan kapitalis, pemuasan itu dibangun dengan asas sekularisme, yakni memisahkan agama dengan kehidupan. Sehingga, dalam memandang persoalan, agama tidak menjadi standar.

Demikian dijelaskan ulama nasional K.H. Hafidz Abdurrahman dalam Focus Group Discussion “Selesaikah Masalah Miras Setelah Pencabutan Lampiran Perpres?” di kanal Rayah TV (3/3/2021).

Beliau menerangkan, dalam kapitalisme, produksi, konsumsi, dan distribusi barang atau jasa akan terus dilakukan selagi ada nilai guna (utility value). Suatu barang dianggap memiliki nilai guna selama masih ada orang yang menginginkannya tanpa menimbang mudaratnya.

“Akibatnya, miras, narkoba, dan prostitusi tidak bisa ditutup, karena masih ada nilai guna yaitu ada yang menginginkan. Inilah pandangan yang rusak,” kecamnya.

Hal ini berbeda dengan Islam, yang mana semua materi—benda dan perbuatan—diintegrasikan dengan ruh, kesadaran bahwa semua ada hubungan dengan Allah.

“Dari sini akan menghasilkan cara pandang dan asas yang berbeda 180 derajat dalam memenuhi kebutuhan,” imbuhnya.

K.H. Hafidz pun menegaskan, berdasar cara pandang Islam, saat akan menghasilkan barang dan jasa harus memenuhi syarat tertentu, di antaranya harus halal.

“Barang haram walau ada yang menginginkan, tetap tidak boleh diproduksi, dikonsumsi, dan didistribusikan,” tegasnya.

Baca juga:  Kawal Terus Perpres Miras

Beliau juga menguraikan dampak miras yang merugikan menunjukkan paradoksnya sistem kapitalisme. Manusia menginginkan kehidupan bahagia dunia-akhirat, tetapi kenyataannya tidak bisa bahagia dengan miras.

“Ibaratnya, di satu sisi ada yang mengobarkan api, di sisi lain sibuk memadamkannya. Akan terus berulang seperti itu,” cetusnya.

Selain itu, tambahnya, ini adalah salah satu strategi negara-negara penjajah untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin.

“Caranya dengan merusak syaraf otak penduduknya melalui minuman keras dan narkoba,” lanjutnya.

Beliau pun menyitir firman Allah Swt.,

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.'” (QS al-Baqarah: 219).

Pada ayat ini jelas Allah sudah melarang meski ada manfaat penerimaan negara di dalamnya.

Selanjutnya Allah Swt. juga berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan(QS al-Maidah: 90).

K.H. Hafidz menyatakan, tidak ada ceritanya di tengah kehidupan judi dan minum khamr, masyarakatnya merasakan kebahagiaan. Sebab, setan akan menciptakan kebencian dan permusuhan.

Baca juga:  Perbedaan Pendapat, bagaimana Tuntunan Syariat Tentangnya?

Begitu pula soal investasi dan industri miras, terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah dan Rasulullah saw. melaknat hal tersebut.

Rasulullah bersabda, “Allah melaknat khamr, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta diantarkan.” (HR Ahmad)

Kemudian dari Anas bin Malik, ia berkata,

“Rasulullah saw. melaknat sepuluh golongan dengan sebab khamr: orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, orang yang meminumnya, orang yang membawanya, orang yang minta diantarkan, orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang makan hasil penjualannya, orang yang membelinya, dan orang yang minta dibelikan.” (HR Tirmidzi).

Jadi, menurutnya, jika mengatakan investasi ini menguntungkan, sebenarnya tidak ada dalam Islam. Islam konsisten saat mengatakan khamr adalah induk kejahatan.

“Maka semua peluang ketersediaan khamr akan ditutup. Ketika berinvestasi pada barang haram, investasinya pun menjadi haram,” tukasnya.

Menanggapi adanya salah satu elemen masyarakat menggunakan kaidah “maa laa yatimmul wajib illa bihii fa huwa wajib” dan mengatakan perlu pengaturan miras karena akan menimbulkan masalah sedangkan mewujudkan maslahat adalah wajib, beliau menyatakan mewujudkan maslahat itu wajib tetapi tidak boleh dengan menghancurkan kemaslahatan itu sendiri.

Baca juga:  Narkoba Menghancurkan Generasi, Islam Menyelamatkan Masa Depan Generasi

“Pengaturan yang wajib untuk mewujudkan kemaslahatan itu adalah menolak dan menutup semua mafsadat. Aturannya justru melegalkan mafsadat dan kontradiktif dengan mewujudkan kemaslahatan tadi. Kaidahnya benar, tetapi memakai kaidahnya tidak benar,” pungkasnya. [MNews/Ruh]