Distorsi Materi Sejarah Islam dalam “Kemasan” Moderasi Pengajaran


Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.


MuslimahNews.com, OPINI — Islam yang inklusif (terbuka) dan toleran harus diajarkan seorang guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK. Demikian dikatakan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama, Muhammad Zain kepada puluhan guru madrasah mata pelajaran SKI secara daring dalam Workshop Pengembangan Kompetensi Guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK.

Ia juga menekankan pentingnya menyampaikan fakta sejarah secara komprehensif. Targetnya adalah agar peserta didik memahami sejarah Islam masa lalu secara utuh dan akhirnya terbentuk generasi muda yang moderat.

Menurutnya, para guru SKI memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan moderasi pengajaran sejarah Islam. (kemenag.go.id, 26/2/2021).

Berkumpul dalam workshop tersebut guru Madrasah Aliyah/Madrasah keagamaan yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Lampung, dan Sumatra Selatan.

Kasubdit Bina GTK MA/MAK, M Sidik Sisdiyanto menyatakan, acara tersebut bertujuan meningkatkan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru madrasah, sekaligus menjadi ruang bagi mereka untuk saling bertukar pengalaman terkait moderasi beragama di madrasah masing-masing.

Semakin Masif Dilakukan

Jika kita cermati, kampanye moderasi Islam memang semakin masif dilakukan, termasuk di berbagai sekolah. Salah satunya dikemas sedemikian rupa lewat pengajaran materi sejarah Islam.

Tampak target kampanye ini adalah menyimpangkan orientasi pengajaran materi sejarah. Dalihnya agar generasi memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Padahal, yang dimaksud adalah menjauhkan generasi muda dari pemahaman Islam kafah.

Namun, apakah cara ini akan berhasil menjauhkan generasi dari Islam kafah? Atau justru sebaliknya, semakin masif digencarkan moderasi Islam, semakin menyadarkan umat untuk kembali pada Islam kafah?

Sejarah Kejayaan Islam Karena Penerapan Islam Kafah

Sesungguhnya, merupakan kesalahan besar jika menganggap sejarah kejayaan Islam lahir dari peradaban yang inklusif sebagaimana cara pandang liberal. Faktanya, kejayaan Islam dalam berbagai aspek, baik kemajuan ilmu pengetahuan maupun kesejahteraan masyarakatnya, justru terjadi karena Islam kafah diterapkan dalam segala lini kehidupan.

Baca juga:  Editorial: Apa Dosa Khilafah?

Di bawah institusi politik yang menaunginya—Khilafah—penerapan Islam kafah justru memberi jaminan toleransi hakiki berupa perhatian besar terhadap aspek kemanusiaan tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Terkait hal ini, seorang orientalis dan sejarawan Kristen bernama T.W. Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation of The Muslim Faith, banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan dalam negara Khilafah.

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmaniyah, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Maka, jika bukan karena penerapan Islam kafah, bagaimana mungkin peradaban emas Islam dapat tegak hingga 14 abad lamanya? Sejarah membuktikan secara jelas akan hal ini, meski kafir Barat akhirnya berhasil meruntuhkan institusi Khilafah ini yang pada 3 Maret 1924 M.

Hari ini, upaya mengembalikan sejarah kegemilangan Islam dalam naungan Khilafah sedang bangkit di tengah umat. Oleh sebab itu, negara-negara kafir Barat dan antek-anteknya mencoba untuk menggagalkan lewat moderasi pengajaran sejarah Islam.

Mereka ingin agar generasi muda memiliki pemikiran moderat, hingga tidak anti-Barat (antikapitalisme), tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat.

Sebab, substansi moderasi Islam ialah Islam yang menerima nilai-nilai Barat, seperti demokrasi dan HAM, bahkan berkompromi dengan imperialisme Barat. Diwujudkanlah Islam yang “toleran, terbuka dan ramah”, serta bisa menjadi mitra Barat.

Adapun moderasi pengajaran sejarah Islam hanyalah salah satu cara yang dipandang “elegan” untuk meninabobokan umat agar tetap tidur panjang dalam sistem demokrasi dan rida dengan nilai-nilai Barat tadi.

Baca juga:  “Membaca” Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara (Bagian 1/2)

Jika umat Islam mengetahui dan memahami sejarah kejayaan Islam seutuhnya yaitu lewat penerapan Islam kafah, dakwah, dan jihad, hal ini tentu akan membahayakan Barat.

Akan muncul di kemudian hari generasi Islam yang “ekstrem atau radikal”, yang menolak ideologi kapitalisme sekuler, antidemokrasi, juga tak mau berkompromi dengan Barat.

Distorsi Materi Sejarah Kekuasaan Islam dan Khilafah

Jika memang setiap guru madrasah mata pelajaran SKI diharuskan memahamkan sejarah secara komprehensif, semestinya sejarah diajarkan secara utuh, bukan malah mendistorsi materi sejarah kekuasaan Islam dan Khilafah.

Memutarbalikkan fakta sejarah justru akan semakin menjauhkan generasi muda dari pemahaman yang benar atas sejarah Islam. Sementara, kesalahan memahami sejarah Islam akan mengakibatkan generasi muda tidak lagi bangga dengan identitas keislamannya. Mereka justru akan lebih membanggakan gaya hidup modern ala Barat atau ala Korea, dan lain sebagainya.

Yang lebih parah, generasi muda akan mencukupkan diri hidup dengan kondisi rusak seperti saat ini. Mereka menjadikan Islam sebagai keyakinan dalam beragama, tapi tidak mengharuskan untuk menerapkan Islam kafah dalam institusi Khilafah. Padahal, itulah kunci kemuliaan dan kebangkitan mereka.

Barat memahami betul, cara terbaik melawan Islam ideologis (Islam kafah) ialah dengan cara memunculkan moderasi Islam di tengah-tengah umat Islam.

Cara yang dipandang strategis ialah lewat pengajaran atau kurikulum sekolah, khususnya materi sejarah, karena sekolah adalah tempat yang paling efektif dan efisien guna menyebarkan ide-ide moderasi Islam.

Mereka (Barat) mungkin telah kehabisan cara untuk memadamkan kebangkitan Islam di tengah umat Islam. Inilah yang telah diingatkan Allah Swt. pada kita,

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah [9]: 32)

Baca juga:  Editorial: Ingin Khilafah, bukan Sekadar Romantisme Sejarah

Waspadai Rancangan Sistematis Menjauhkan Umat dari Tegaknya Khilafah

Ustaz Ismail Yusanto pernah menyampaikan, moderasi Islam itu sebenarnya pesanan musuh-musuh Islam untuk memperlemah umat Islam sendiri. Sebab, dalam ajaran Islam, seorang muslim justru dituntun untuk menjadi muslim yang sebenarnya (kafah), bukan muslim yang moderat.

Apalagi kenyataannya yang dimaksud dengan moderasi Islam itu adalah menyingkirkan ajaran Islam yang dianggap radikal, yang dianggap tidak moderat. (mediaumat.news, 3/7/2020)

Jelas, umat harus selalu waspada, jangan mau terjebak dengan rancangan sistematis yang justru menjauhkan umat dari kebangkitan dan kembali tegaknya institusi Islam yaitu Khilafah.

Jangan juga salah memahami maksud dari ummatan washathan yang digambarkan dalam Al-Qur’an (QS Al-Baqarah: 143), karena tafsir dari surah itu ialah umat yang adil bukan umat yang moderat.

Sungguh, Barat dan para penjaga kepentingan Barat dari kalangan Islam itu sendiri yang berupaya menyesatkan umat dari memahami makna Islam yang sebenarnya.

Predikat Islam moderat atau moderasi Islam seolah-olah sesuai dengan sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunah.

Moderasi Islam juga merupakan cara melawan gerakan fundamentalis yang disebut Barat sebagai gerakan yang berupaya menekankan pemberlakuan syariat Islam dalam sistem pemerintahan negara, menentang pemerintahan sekuler ala Barat dan rezim pro Barat, serta—tentu saja—menentang hegemoni Barat dalam kancah politik dan ekonomi international.

Hal inilah yang membuat sejumlah orang khawatir juga ketar-ketir, bila kaum muslim khususnya generasi muda menyadari kembali jati diri dan akar sejarahnya, bahwa umat Islam merupakan umat terbaik.

Sebagaimana firman Allah Swt., “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110) [MNews/Gz]