Agenda Politik Umat

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)


Penulis: Retno Sukmaningrum
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, FOKUS — Umat Terbaik, itulah predikat yang Allah Swt. sematkan bagi kaum muslimin. Namun, saat predikat itu disebutkan, pikiran pasti melayang jauh ke belakang.

Pada masa kehidupan Rasulullah saw., masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, hingga kaum muslimin di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiah, pada masa merekalah gambaran umat terbaik itu nyata terpampang. Bagaimana dengan umat Islam hari ini? Sangat jauh sekali dari kata mulia.

Kehidupan kaum muslimin hari ini terkoyak-koyak. Jangankan kemuliaan, hidup sebagaimana manusia saja sulit mewujud secara sempurna saat berada dalam naungan sistem kehidupan kapitalisme.

Sistem kapitalisme yang berdiri di atas keruntuhan Daulah Khilafah Turki Utsmani, secara praktis menggantikan berbagai tatanan kehidupan di tengah masyarakat.

Kapitalisme dengan asasnya memisahkan agama dari kehidupan, meniscayakan berbagai aturan kehidupan bersumber dari akal manusia yang kerdil. Dengan bertopang pada dua suprasistemnya, yakni ekonomi kapitalisme dan politik demokrasi, peradaban kapitalisme mengantarkan manusia ke dalam jurang kehancuran.

Sistem Ekonomi Kapitalisme yang Rapuh

Ekonomi kapitalisme telah tampak kerapuhannya, jauh sebelum pandemi muncul. Kehebatan teori ekonomi kapitalis sudah mulai dipertanyakan banyak tokoh ekonom.

Sepanjang abad XX telah terjadi lebih dari dua puluh krisis di sektor finansial dan beberapa dekade terakhir kekerapannya semakin tinggi.

Mengapa itu bisa terjadi? Sebab, fondasi sistem ekonomi kapitalisme itu memang dibangun dari struktur ekonomi yang semu, atau istilahnya adalah ekonomi sektor nonriil, bukan ekonomi yang sesungguhnya, yaitu ekonomi sektor riil.

Hari ini—saat pandemi—, semakin tampak kerapuhan sistem ekonomi kapitalis. Wabah virus asal Cina itu memberikan tekanan perekonomian global luar biasa sehingga terjadi kepanikan.

Harga-harga di tingkat internasional, komoditas, hingga harga minyak dunia terkontraksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah. Bahkan, keluarnya aliran modal asing juga serempak dirasakan negara-negara dunia. Sebagian besar investor mereka mencari atau memilih menanamkan modalnya ke negara-negara maju.

Indonesia yang terkategori negara berkembang mengalami dampak kondisi ini. Terlebih melihat struktur industri Indonesia yang sangat tergantung produk impor, khususnya bahan baku yang dibutuhkan industri.

Baca juga:  Melayakkan Dakwah Menjemput Bisyarah Kembalinya Khilafah

Walhasil banyak industri yang mati. PHK pun menjadi fenomena yang tak terelakkan. Ketahanan keluarga terancam, kriminalitas meningkat, dan berbagai dampak persoalan sosial lainnya.

Fatalnya, untuk mengentaskan ekonomi yang semakin terpuruk ini, pemerintah malah menutup mata dari halal-haram. Keran investasi asing dibuka lebar-lebar untuk menjarah harta umat. Yang terakhir, malah membuka keran investasi miras demi dongkrak pariwisata, meski akhirnya lampiran aturan tersebut dicabut akibat tekanan publik.

Inilah wajah negeri yang terkungkung dalam sistem ekonomi kapitalis. Negeri kaya namun tak membawa kesejahteraan dan keberkahan bagi masyarakatnya.

Sistem Politik Oportunis

Dari aspek politik, kondisi umat Islam setali dengan kondisi ekonominya. Umat Islam hanya dilirik saat gelaran pemilu diadakan, baik tingkat daerah maupun nasional.

Masih teringat betul bagaimana polarisasi umat antara kubu Jokowi-Ma’ruf Amin dengan kubu Prabowo-Sandi yang memanas di akar rumput. Para pendukung masing-masing kubu rela berkorban apa saja, baik harta, tenaga, dan pikiran untuk memenangkan jagoan masing-masing.

Namun, bagaimana ujungnya? Ternyata kedua calon saling merapat. Calon yang menang membagi-bagi kekuasaan dengan calon yang kalah. Yang kemarin saling mencemooh di panggung, kini mereka berangkulan. Idealisme mereka tanggalkan.

Lalu rakyat bagaimana? Mereka tetaplah berposisi sebagai tempat mendulang suara. Setelah suara diperoleh, mereka pun dilupakan. Ibarat peribahasa, habis manis sepah dibuang.

Demikianlah politik demokrasi yang tengah berjalan hari ini. Yang ada hanya memperebutkan tulang kekuasaan. Lupa hakikatnya menjadi pemimpin umat yang seharusnya mengurusi dan melayani umat.

Demokrasi meniscayakan lahirnya politikus-politikus pragmatis dan oportunis. Seseorang dengan mudahnya menanggalkan idealismenya ketika melihat kesempatan dan peluang yang lebih besar. Maka, tak heran adanya istilah “kutu loncat” untuk mendefinisikan politikus yang suka berpindah-pindah partai.

Partai politik dalam sistem demokrasi sendiri seolah-olah hanya “ON” saat jelang pilkada. Untuk menarik suara masyarakat, partai pun cenderung memilih jalur pengaderan instan seperti merekrut selebritas, tokoh masyarakat, tokoh agama, maupun tokoh-tokoh lain yang memiliki basis kepercayaan tinggi di masyarakat.

Partai politik tidak membangun kader berkekuatan ideologi yang hanya mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat dan bangsa, melainkan sekadar kekuatan fisik yang menggantungkan pada selebritas kader yang setiap saat bisa berpindah ke partai yang lain.

Baca juga:  Nestapa Umat Tanpa Khilafah

Melihat fenomena tersebut, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang menilai partai politik dewasa ini tidak lebih dari kumpulan oportunis belaka, memanfaatkan kedudukan untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Selanjutnya, demokrasi (kapitalisme)—yang menjadikan kedaulatan di tangan rakyat—, meniscayakan “para wakil rakyat” tersebutlah yang membuat kebijakan. “Atas nama rakyat” mereka membuat kebijakan-kebijakan yang justru menzalimi rakyat. Kebijakan yang ada hanyalah berputar untuk kepentingan individu, kelompok, atau rezim berkuasa.

Yang lebih parah lagi, di negeri yang mayoritas muslim ini, justru ajaran Islam dan simbol-simbol Islam dikriminalisasi. Pelaku teror diidentikkan dengan sosok muslim. Kaum muslimah pun diliberalkan dengan tanggalnya penutup aurat mereka.

Inilah kehidupan dalam sistem politik demokrasi, kebijakannya hanya pro pada kapitalis, bukan pro rakyat. Kebijakannya tidak akan pernah bersekutu dengan aturan Islam, juga tidak akan menjamin kelangsungan kehidupan kaum muslimin.

Apakah masih terus berharap pada sistem demokrasi kapitalis? Sampai kapan?

Sudahi Penderitaan Umat

Sudah cukup penderitaan yang dialami umat. Sudah saatnya umat sadar dan keluar dari kubangan sistem demokrasi sekuler. Sudah cukup mereka mengikuti ingar bingarnya pesta demokrasi kapitalisme yang nyatanya justru memenjarakan mereka dalam kemiskinan dan kehinaan.

Umat harus mempunyai agenda politik. Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Umat harus berubah dan perubahan itu harus dimulai dari diri mereka sendiri, bukan dari pihak luar.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar Ra’du: 11)

Diawali dengan terbangunnya kesadaran politik di tengah umat. Berangkat dari pemahaman akidah mereka bahwa akidah Islam merupakan akidah ruhiyah sekaligus akidah siyasiyah.

Selama ini, umat hanya menjadikan akidah sebagai landasan pemikiran dan hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah-masalah akhirat semisal kiamat, pahala, siksa, juga ibadah; atau berkaitan dengan pemeliharaan persoalan-persoalan tersebut, yaitu masalah akhirat, seperti peringatan, petun­juk, dan ancaman dengan (adanya) azab Allah, serta rangsan­gan untuk mendapatkan sebesar-besarnya pahala Allah.

Sedangkan akidah yang menjadikan landasan aktivitas dunia dan keumatan terabaikan. Akhirnya, hukum-hukum dan kebijakan yang diterapkan untuk mengatur kemaslahatan, jauh dari syariat Islam karena tidak berdasarkan akidah Islam.

Baca juga:  Karakter Pemimpin Ideal Dambaan Umat

Dengan kesadaran politik inilah, umat mampu melihat kehidupan secara utuh dengan sudut pandang khas, yakni Islam. Kalimat “Lâ Ilâha IllaLLâh Muhammadur Rasûlullah”-lah yang akan menjadi dasar/asas pandangannya, sekaligus menjadi sudut pandang dalam melihat berbagai fenomena.

Dengannya dia berpijak, dengannya dia ingin hidup, dan dengannya pula dia ingin kelak dibangkitkan di yaumul mahsyar.

Umat tidak akan alergi dengan kata “politik”. Sudah terlalu lama mereka teracuni pemikiran sekularisme yang memisahkan agama dengan politik.

Agama didudukkan suci, sedangkan politik kotor, sehingga umat merasa ragu membahas kebijakan politik yang diterapkan di tengah mereka.

Maka, dengan kesadaran politik yang terbentuk, umat akan mampu membedakan antara salah dan benar, mana yang membawa manfaat atau mudarat untuk setiap kebijakan yang diterapkan dengan sudut pandang Islam.

Dengan kesadaran politik pula, umat akan tertuntun melihat bangunan rumah baru atau peradaban mulia yang akan mereka tuju. Tidak lain adalah kehidupan Islam yang menerapkan sistem politik Islam dalam naungan Khilafah Islamiah.

Khilafah menjadikan sistem politiknya menganut kedaulatan di tangan syariat dan kekuasaan di tangan rakyat. Khalifah pun dibaiat dalam rangka menerapkan hukum syariat di tengah umat. Demikian juga, ada mekanisme muhasabah dari majelis umat atau individu umat atas kebijakan yang diterapkan Khalifah.

Kesadaran politik di tengah umat tersebut hanya akan terwujud melalui aktivitas dakwah politik yang masif, yang dilakukan partai politik yang seruannya bercirikan menyeru kepada Islam dan amar makruf nahi mungkar, serta berdirinya semata memenuhi seruan Allah dalam QS Ali Imran: 104.

وَلۡتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَعَنِ الۡمُنۡكَرِ‌ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Metode dakwah politik ini dicontohkan Rasulullah saw. saat membangun Daulah Islamiah di Madinah al-Munawaroh. Dengan dakwah politiklah umat akan terbimbing dari kegelapan menuju cahaya.

Memang tempuhan dakwah tidaklah mudah, tak semudah membalik telapak tangan. Jalannya cukup panjang. Namun, meski panjang, dakwah ini insyaallah akan segera sampai di ujungnya, atas izin Allah. [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah