Kekuatan Pengaruh Politik Negara Madinah Pascaperang Tabuk


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Keputusan Rasulullah saw. untuk berangkat berperang melawan Negara Romawi adalah sebuah keputusan spektakuler. Negara Madinah berani membuka front peperangan dengan Romawi yang merupakan negara adidaya kala itu.

Terlebih Perang Tabuk ini terjadi di masa sulit, cuaca yang sangat panas, tanah gersang, dan perjalanan yang sangat jauh. Negara Romawi pun menyiapkan pasukan yang tidak sedikit, yaitu empat puluh ribu tentara untuk digerakkan menuju Jazirah Arab. Itu merupakan jumlah yang sangat besar demi mengakhiri legenda ketangguhan Negara Islam Madinah.

Kemenangan Kaum Muslimin

Ketangguhan Negara Islam dan pasukan muslim yang dipimpin Rasulullah saw. memang tidak mampu dikalahkan pasukan Romawi. Ketika mengetahui bahwa pasukan muslim telah datang, pasukan Romawi menjauhi medan perang dan menghindari pertempuran. Mereka kalah sebelum bertanding.

Negara Romawi belum bisa melupakan perang Mu’tah sebelumnya. Perang di mana tiga ribu tentara muslim berhadapan dengan dua ratus ribu serdadu Romawi. Ternyata kaum muslimin keluar dari medan perang sebagai pemenang, sebab kerugian di pihak musuh melebihi kerugian di pihak kaum muslimin.

Di Perang Tabuk, tentara kaum muslimin datang dengan penuh keberanian dan semangat jihad fī sabīlillāh. Mereka datang sambil membakar batas-batas wilayah kekuasaan Romawi. Sehingga ketika Rasulullah saw. sampai di Tabuk, beliau tidak mendapatkan seorang pun di antara tentara Romawi.

Para Penguasa Tunduk kepada Negara Islam

Meskipun Rasulullah saw. tidak bertemu dengan tentara Romawi, namun kesempatan ini Beliau saw.  gunakan untuk memperkuat cengkeraman kekuasaan Negara Islam di Wilayah Utara.

Wilayah utara dikategorikan sebagai wilayah yang paling berbahaya. Sebab wilayah utara tersebut mendapat perlindungan dari Negara Romawi. Bahkan wilayah utara dijadikan sebagai perisai pelindung bagi bangsa Romawi dalam menghadapi serangan bangsa Arab.

Namun Perang Tabuk telah membukakan mata para pemimpin di wilayah utara akan keberanian kaum muslimin dan kekuatan pengaruh politik Negara Madinah. Sehingga para pemimpin wilayah utara yakin bahwa Negara Islam Madinah yang sekarang telah mampu menghancurkan batas-batas wilayah kekuasaan Romawi. Kapan pun Negara Islam mau, pasti Negara Islam mampu menghadapi dan membersihkan institusi yang menghadang langkahnya.

Ketika Rasulullah saw. berada di Tabuk, beliau didatangi oleh Yuhannah bin Ru’bah, penguasa Ailah. Kemudian ia berdamai dengan Rasulullah saw. dan bersedia membayar jizyah.  Rasulullah saw. juga didatangi penduduk Jarba’ dan Adzruh, kemudian mereka juga bersedia membayar jizyah. Kesediaan membayar  jizyah adalah bukti ketundukan mereka kepada kekuasaan Negara Islam Madinah.

Rasulullah saw. membuat surat perjanjian untuk mereka. Isi surat perjanjian tersebut adalah,

Bismillahirrahmannirrahim. Ini jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi sekaligus Rasulullah, untuk Yuhannah bin Ru’bah dan penduduk Ailah, termasuk kapal-kapal dan kafilah dagang mereka, baik yang di darat maupun yang di laut. Mereka yang juga berhak atas jaminan Allah dan jaminan Nabi Muhammad adalah penduduk Syam, Yaman, dan al Bahr yang menjadi sekutunya. Siapa saja di antara mereka yang mengerjakan dosa, maka hartanya tidak terlindungi namun tidak dengan dirinya. Oleh karena itu, hartanya menjadi halal bagi siapa saja yang mengambilnya. Sehingga siapa pun tidak boleh melarang atau mencegah seseorang mendatangi atau memanfaatkan mata air yang berasal dari darat maupun dari laut.”

Kemudian Rasulullah saw. memanggil Khalid bin Walid. Beliau saw. mengirimnya kepada Ukaidir Dumah yaitu Ukaidir bin Abdul Malik, seorang laki-laki asal Kindah yang telah memeluk agama Nasrani dan menjadi penguasa di Dumat al Jandal.

Dumat al Jandal, wilayah yang terletak dari Tabuk ke arah Barat Daya. Mereka mendeklarasikan perang terhadap Rasulullah saw. dan telah menjadi pusat berkumpulnya kelompok yang memusuhi Negara Islam.

Khalid bin Walid kemudian berhasil membawa Ukaidir kepada Rasulullah saw. Lalu beliau menjamin darahnya, dan mengikatnya dengan perjanjian damai dengan kewajiban membayar jizyah. Akhirnya beliau memberikan jalan kepadanya untuk kembali ke tempat asalnya.

Demikianlah para penguasa Arab di wilayah tersebut lebih memilih untuk menanggalkan status ketundukan mereka kepada Romawi dan mengumumkan loyalitasnya kepada Negara Islam Madinah.

Kenyataan ini membuat Romawi bertekad tidak akan membiarkan Islam tersebar di wilayah Syam yang telah mereka kuasai. Lepasnya sebagian wilayah mereka yang sebelumnya tunduk telah membuat marah Romawi, sehingga mereka harus menggunakan kekerasan untuk menghadapinya dan menghadang penyebaran Islam.

Menjelang wafatnya, Rasulullah saw. memerintahkan Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan yang akan berangkat ke wilayah Palestina untuk memerangi musuh-musuh kaum muslimin yaitu Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang menjadi wilayah taklukan mereka. [MNews/Rgl]


Disarikan dari :

  1. Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress
  2. Penjelasan Kitab Daulah Islam, Abu Fuad, Pustaka Thariqul Izzah