Karakter Pemimpin Ideal Dambaan Umat


Penulis: Chusnatul Jannah
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, OPINI — Bicara kepemimpinan pasti berkaitan dengan sosok pemimpin dan sistem kepemimpinannya. Umar bin Khaththab ra. pernah mengatakan, “Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka bertanya, “Bagaimana suatu negeri bisa hancur padahal dia makmur?” Ia menjawab, “Jika pengkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai orang-orang fasik.”

Apa yang diungkapkan Khalifah Umar telah dan sedang terjadi saat ini. Berganti pemimpin tak mengubah kondisi dunia Islam menjadi lebih baik. Sebab, yang berganti hanya kepalanya, sistemnya masih sama, yakni demokrasi kapitalis sekuler. Sistem yang dijajakan kaum kafir untuk meredam potensi persatuan dan kebangkitan umat.

Sistem ini membuat umat merasa cukup puas memiliki pemimpin di balik kertas suara tiap lima tahunan. Sistem yang menjadikan umat lupa dengan jati diri mereka sebagai umat terbaik. Sistem yang melalaikan potensi Islam untuk tampil sebagai negara adidaya.

Sistem ini juga meracuni dan mengisi setiap relung jiwa dan pemikiran umat. Sampai umat tidak pernah dan tidak boleh membayangkan memiliki “rumah besar” yang pernah berjaya selama 13 abad, yaitu Khilafah.

Ya, demokrasi sekuler kapitalistik telah berhasil mengelabui dan mengaburkan umat bagaimana karakter pemimpin dambaan dan dengan apa sistem kepemimpinan itu berjalan.

Seabad tanpa Khilafah, pemimpin dambaan umat kian langka. Yang tersedia hanyalah pemimpin pilihan demokrasi yang semu. Sosok dan kepemimpinannya jauh dari aturan Allah Swt.. Meski ia saleh, sistem yang dijalankan tetaplah demokrasi. Meski ia baik sebagai individu, belum menjamin bersikap amanah sebagai pemimpin negara.

Ada tidaknya pemimpin muslim hari ini sama saja. Kehadiran mereka tak berfungsi saat umat muslim dunia dilanda kelaparan, penjajahan, peperangan, penganiayaan, permusuhan, diskriminasi, penindasan, dan lainnya.

Lantas, bagaimanakah karakter pemimpin ideal dambaan umat yang sebenarnya? Tempat umat berlindung padanya dan kehadirannya benar-benar menjadi penjaga bagi kaum muslimin.

Seperti sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Karakter Pemimpin Ideal Dambaan Umat

Dalam Islam, perkara kepemimpinan menjadi urusan penting. Sebab, dari sinilah bala dan berkah itu terjadi. Syaikhul Islam menjelaskan dalam karyanya As Siyasah Asy Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik.

Baca juga:  Ragam Upaya Menghadang Penegakan Khilafah

Beliau menjelaskan, “Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal itu memiliki dua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.”

Mengemban amanah kepemimpinan itu tak semudah mengucap, tak pula sekadar tebar pesona ke rakyat. Pemimpin kuat adalah mereka yang tidak tersandera kepentingan partai, golongan, apalagi menghamba kepada penjajah dan kaum kafir.

Kepemimpinan kuat adalah sikap berani melawan kezaliman dan menerapkan syariat Islam yang datang dari Allah ’azza wa jalla.

Perlu kiranya bagi umat memahami apa saja karakter pemimpin ideal untuk membangun sebuah negara besar yang berdaulat dan mandiri. Di antaranya:

Pertama, orang yang paling takut kepada Allah.

Pemimpin haruslah mereka yang paling merasa takut dosa dan paling merasa diawasi Allah Swt.. Ketika pemimpin memiliki sifat ini, ia akan memimpin berdasarkan ketetapan Allah Swt.. Dengan begitu, kepemimpinannya tidak akan keluar dari batas syariat Islam.

Kedua, shiddiq, yang berarti jujur.

Sifat teladan ini telah dicontohkan Rasulullah Saw. sebagai sifat dasar beliau baik sebagai individu ataupun kepala negara. Lawan jujur adalah dusta. Bila pemimpin jujur ia akan dipercaya rakyatnya.

Rasulullah saw. mendapat gelar Al-Amin dari kaum Quraisy karena sifat jujurnya. Sifat ini sudah diketahui kaum Quraisy sejak beliau belum diutus menjadi Nabi dan Rasul. Khalifah Abu Bakar juga dijuluki Ash-Shiddiq. Kejujuran Khalifah Umar bin Khaththab juga mengantarkan beliau mendapat gelar Al-Faruq.

Imam Ibnu Katsir berkata,

“Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar sahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan, baik pada masa jahiliah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Rasulullah saw. bahkan memberi peringatan keras bagi pemimpin yang tidak jujur atau dusta serta mereka yang membenarkan kedustaannya,

“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR al-Tirmidzi, al-Nasai, dan al-Hakim).

Baca juga:  Toleransi dan Intoleransi dalam Perspektif Islam

Ketiga, amanah.

Lawan dari sifat ini ialah khianat. Amanah merupakan sifat wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan sifat ini, pemimpin akan menjaga kepercayaan rakyat atas tanggung jawab kepemimpinannya.

Beratnya amanah tergambar jelas dalam firman Allah Swt. yang terdapat dalam surah Al Ahzab: 72,

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Betapa berat amanah hingga langit pun tak sanggup memikulnya. Pantaslah bila teguran keras Allah dan Rasul-Nya bila amanah itu dirusak dengan perilaku khianat.

Dari Ma’qil bin Yasâr radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya.” (Muttafaq alaih)

Keempat, tabligh atau komunikatif.

Kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu karakter ideal pemimpin dambaan umat. Sebab, pemimpin akan selalu berkomunikasi dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik antara pemimpin dan rakyatnya akan menciptakan hubungan yang baik pula.

Pemimpin harus terbuka dengan rakyatnya, mendengar keluhan mereka, dan menerima masukan serta nasihat mereka. Hal itu telah dicontohkan Nabi saw. dan para khalifah sepeninggal beliau.

Rasulullah saw. pernah didatangi seorang perempuan hamil yang mengaku telah berbuat zina. Si perempuan menyampaikan penyesalannya kepada Rasul dan berharap diberikan sanksi berupa hukum rajam.

Keterbukaan itu terjadi karena sifat tabligh Rasulullah. Umar menerima dengan lapang kritik seorang perempuan mengenai mahar. Pemimpin tidak boleh antikritik.

Kelima, fathanah (cerdas).

Kecerdasan seorang pemimpin akan memudahkannya memecahkan persoalan yang terjadi di masyarakat. Pemimpin cerdas ditopang keilmuan yang mumpuni. Makin berilmu, ia makin memahami dan menyelesaikan persoalan dan solusi tepat bagi rakyatnya.

Keenam, adil.

Lawan dari adil adalah zalim. Pemimpin haruslah adil. Di tangannya, hukum ditegakkan. Pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap pemimpin adil termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunah.

Baca juga:  Shahabiyat, Teladan dalam Penegakan Syariat

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu Pemimpin) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl: 90)

Sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan yang paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR at-Tirmidzi).

Adapun pemimpin zalim, tegurannya pun sangat keras.

“Barang siapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Khatimah

Itulah beberapa karakter yang wajib dimiliki pemimpin ideal dambaan umat. Karakter ini nyaris tidak ada di sistem pemerintahan demokrasi sekuler. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan karakter pemimpin dambaan dibutuhkan sistem baik yang mampu melahirkan sosok tersebut. Tanpa sistem Islam, mustahil kita temukan pemimpin ideal harapan umat.

Karakter pemimpin dan sistem kepemimpinan Islamlah yang mampu mewujudkannya. Dengan sistem Islam, manusia-manusia beriman, bertakwa, adil, dan amanah akan tercipta. Sebab, kepribadian mereka terdidik secara sistemis.

Sistem pendidikan berbasis akidah Islam, sistem ekonomi berkah tanpa riba, sistem politik berbasis riayah suunil ummat, dan sistem sanksi yang memberi efek jera bagi pelanggar syariat Islam.

Tidak rindukah kita menghadirkan kembali sosok-sosok fenomenal yang selembut Abu Bakar, setegas Umar, sebijak Utsman, secerdas Ali, sesederhana Umar bin Abdul Aziz, segemilang Harun Al Rasyid, setangguh Sulaiman Al Qanuni, seperkasa Muhammad Al Fatih, dan seteguh Sultan Abdul Hamid II, serta para khalifah lainnya?

Mereka lahir dari sistem Khilafah yang mendunia. Peradabannya menjadi mercusuar yang melegenda. Sudah cukup seabad tanpa khilafah. Sudah cukup pula kita dipimpin sistem culas dan pemimpin khianat. Semoga Allah turunkan pertolongan-Nya agar Khilafah segera hadir di tengah kita. [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah