Liberalisme Agama dengan Pendekatan Tafsir


Penulis: Arini Retnaningsih


MuslimahNews.com, FOKUS — Liberalisme agama, setelah dikeluarkannya fatwa MUI no. 7/Munas VII/MUI/11/2005 tanggal 29 Juli 2005, mulai tidak laku lagi dijajakan.

Tidak kehabisan akal, para pengusungnya segera mengganti kemasan dan menjajakan ide ini di balik kemasan-kemasan yang dirasakan lebih lunak dan lebih dekat dengan umat. Maka, ide liberalisasi agama ini menyusup dalam Islam melalui banyak jalan, bentuk, dan wajah.

Salah satu yang menjadi jalan masuk liberalisasi agama adalah tafsir. Tafsir, dalam pandangan liberalis, tidak boleh dibatasi ruang pemikiran tertentu, bahkan boleh dimasuki berbagai pandangan.

Sehingga, perbedaan dalam tafsir tidak perlu dipersoalkan. Yang penting untuk dipersoalkan adalah ketika tafsir itu dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.[1]

Berangkat dari pemikiran ini, para liberalis muslim menjadikan Quraish Shihab dan Jalaludin Rahmat sebagai tokoh mufasir yang layak diikuti, dianggap memiliki pemikiran terbuka tentang kebenaran.

Keduanya melihat, tafsir bisa dilakukan semua orang, termasuk nonmuslim sekalipun. Mereka sering mengutip pandangan orang di luar Sunni semisal pandangan orang Syiah, Mu’tazilah, bahkan uraian dalam kitab orang Kristen yang disebut dengan Bibel. 

Keduanya memandang kebenaran itu sangat luas, sehingga tidak menutup kemungkinan kebenaran itu juga bisa dihadirkan siapa pun.[2]

Pemahaman tafsir seperti ini adalah pemahaman liberal yang memandang kebenaran agama adalah bersifat relatif. [3] Dengan demikian, kebenaran bisa datang dari mana pun.

Tafsir liberal ini diklaim merupakan antitesis dari tafsir kelompok “radikal” yang memandang kebenaran hanya dari satu sudut pandang dan menyalahkan tafsir di luar kelompoknya.

Makna dan Pentingnya Tafsir bagi Umat

Tafsir adalah menjelaskan sesuatu yang dimaksudkan oleh lafaz.[4]  Lebih detail, Muhammad Ali al Hasan menjelaskan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang makna-makna Al-Qur’an, nasikh-mansukh, umum dan khusus, mujmal dan mubayyan; jadi tafsir membahas tentang zhahir lafazh.[5]

Tafsir adalah ilmu yang diperlukan setiap muslim. Sebab, Al-Qur’an sebagai petunjuk yang diturunkan Allah kepada manusia, diturunkan dalam ayat-ayat berbahasa Arab yang tidak semua bisa dipahami secara langsung dengan sekadar membacanya.

Terdapat ayat-ayat yang muhkam—yang jelas ditangkap maksudnya—, namun ada juga ayat-ayat mutasyaabihat yang memerlukan penjelasan.

Dengan demikian, tafsir diperlukan agar makna ayat-ayat Al-Qur’an bisa ditangkap seluruhnya dan diamalkan kaum muslimin dalam kehidupannya.

Jangan sampai kaum muslimin berpaling dari Al-Qur’an hanya karena tidak memahaminya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤] قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا [٢٠:١٢٥] قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ [٢٠:١٢٦]

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang amat sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Berkatalah ia“Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat?”.

Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini, kamu pun dilupakan.” (QS Thaha: 123—126)

Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya mengatakan tentang ayat ini,

“Aku memperhatikan firman Allah ini dan aku menemukan suatu hakikat; bahwa siapa pun yang mengikuti Al-Qur’an dan sunah dan mengamalkan keduanya; sungguh ia telah selamat dari kesesatan tanpa diragukan sedikit pun, dan celaka yang tadinya akan menimpanya akan terangkat tanpa keraguan juga.”[6]

Metode Penafsiran

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Asy-Syakhshiyyah Islamiyyah Jilid 1, menguraikan secara panjang lebar bagaimana seharusnya tafsir disusun.

Ada dua metode yang digunakan para Sahabat dalam menafsirkan suatu ayat, yaitu metode periwayatan dan metode ijtihad.

Metode periwayatan adalah apa yang mereka dengar langsung dari Rasulullah saw. saat menafsirkan suatu ayat, atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat. Sedangkan metode ijtihad mereka lakukan dengan memahami kalimat-kalimat Al-Qur’an melalui pemahaman terhadap madlul-nya (apa yang ditunjukkan dalil).

Dengan demikian, mereka sama sekali tidak lepas dari dalil, yakni Al-Qur’an, Sunah, serta apa yang menjadi ijmak di antara para Sahabat.

An-Nabhani menegaskan, para Sahabat ini mengatakan tentang Al-Qur’an (menafsirkan, pen), berdasarkan pendapat berdasar ijtihadnya. Mereka mencegah seseorang untuk berkata tentang suatu lafaz atau kalimat dari Al-Qur’an dengan hanya pendapatnya saja tanpa ilmu.[7]

Apa yang dilakukan para Sahabat, kemudian diikuti juga oleh para mufasir di generasi setelahnya.  Mereka sangat menjaga diri dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, bahkan memilih diam jika tidak memiliki pemahaman tentang suatu ayat.

Imam Nawawi menyatakan hal yang sama, haram menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu atau membicarakan tentang makna-makna Al-Qur’an bagi yang bukan ahlinya.[8]

Rasulullah saw. telah melarang menafsirkan Al-Qur’an semata-mata dengan pendapat sendiri. Beliau saw. bersabda,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barang siapa berkata tentang Al-Qur’an dengan pendapat akalnya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.(HR Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa penafsiran suatu ayat pertama kali dilakukan dengan ayat. Bila tidak ada, maka dengan hadis, selanjutnya menggunakan pendapat para Sahabat tentang ayat tersebut, para tabi’in dan ulama salaf sesudah mereka.[9]

Metode tafsir seperti ini terus terjaga sampai munculnya orang-orang yang lebih mendahulukan akal daripada ilmu dalam menafsirkan.

Siapa yang Berhak Menafsirkan Al-Qur’an?

Tidak hanya membahas metode penafsiran, para ulama juga sangat berhati-hati dalam menetapkan siapakah orang yang dianggap layak untuk melakukan penafsiran Al-Qur’an.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan, karena pada faktanya, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka orang yang akan menafsirkannya harus menguasai semua aspek dari bahasa Arab tersebut, baik kosa katanya, susunan kalimatnya, perubahan-perubahan kata dan susunan kata, tata cara menyeru dan berbicara, serta aspek-aspek kebahasaan seperti penentuan makna dan penunjukannya.

Selain itu, untuk memahami Al-Qur’an, diperlukan pengkajian terhadap apa yang dijelaskan Rasulullah saw. berupa makna-makna kata dan perubahannya, pengkhususan, pembatasan, pemerincian, dan sebagainya. Karena itu, mufasir harus menguasai Sunah.

Dengan syarat-syarat seperti ini, tidak sembarangan orang bisa melakukan penafsiran Al-Qur’an. Apalagi menjadikan akal sebagai landasan penafsiran, lantas tafsir digunakan untuk dalil pembenaran atas pendapat akalnya. Mufasir seperti ini, seharusnya ditolak penafsirannya.

Maka, ketika orang yang melakukan penafsiran adalah orang yang sudah dikenal menyimpang dari Islam atau menyimpang dari sunah Rasulullah saw., penafsiran tersebut tidak dapat diterima.

Apalagi bila penafsir tersebut adalah nonmuslim. Bagaimana mereka bisa memahami kebenaran tafsir Al-Qur’an sementara mereka menolak akidah Islam?

Maka, pandangan semua orang bisa menafsirkan Al-Qur’an, bahkan nonmuslim sekalipun, adalah pandangan yang absurd. Pandangan ini hanya lahir dari orang-orang berpemikiran liberal yang memuja kebebasan berpikir dan berpendapat.

Perbedaan dalam Tafsir

Karena sebagian tafsir merupakan ijtihad, sebagaimana hasil ijtihad dalam syariat yang bisa melahirkan perpedaan pendapat, dimungkinkan juga untuk terjadinya perbedaan dalam tafsir. Hal ini bukanlah persoalan besar dalam khazanah pemikiran Islam.

Para Sahabat dahulu pun memiliki tafsir yang sering kali berbeda satu dengan yang lain. Sebagaimana perbedaan yang muncul ketika menafsirkan kata ath-thuur dalam QS Albaqarah: 63

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu.”

Ibnu Abbas menafsirkannya dengan nama gunung itu sendiri, sedangkan Mujahid menafsirkannya al jabal (gunung), sedang yang lain mengatakan apa yang terserak dari gunung-gunung.

Dengan demikian, tafsir boleh berbeda dan perbedaan tersebut tidak mengeluarkan seseorang dari keislamannya selama tidak menyalahi akidah yang qath’i (pasti) kebenarannya.

Namun, yang perlu digarisbawahi, perbedaan yang diterima dalam tafsir adalah perbedaan dalam hasil kesimpulan setelah ditempuhnya metode tafsir yang benar.

Tafsir yang dilakukan serampangan tanpa memahami bahasa dan maknanya, atau tanpa memahami apa yang menjadi asbabun nuzul misalnya, tidak bisa diterima hasilnya.

Tafsir ala liberalis terhadap ayat Al-Baqarah ayat 62 misalnya, bahwa orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiin bisa masuk surga semuanya, layak untuk ditolak karena tidak berlandaskan pada kaidah penafsiran yang benar.

Inilah penjelasan tentang tafsir Al-Qur’an dalam Islam. Tidak menafikan perbedaan, namun menolak kebebasan penafsiran. [MNews/Gz]


[1]Khalilullah, 2021. Quraish Shihab dan Kang Jalal Mengkritik Tafsir Kelompok Radikalis yang Anti-Perbedaan | Harakatuna.com.

[2] idem

[3]Djamaluddin, M.A. 2010. Islam Liberal Menggugat Keaslian Alquran. LPPI. Jakarta.

[4] An Nabhani, T.  2003.  Kepribadian Islam jil.1. Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.

[5] Ali al Hasan, M. 2007. Pengantar Ilmu-ilmu Alquran.  Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.

[6] https://tafsirweb.com/5365-quran-surat-thaha-ayat-123.html

[7] An Nabhani, T.  2003.  Kepribadian Islam jil.1. Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.

[8] An Nawawi. 2018. At Tibyan Adab Membaca dan Menghafal Alquran. PSQ, Kartasura.

[9] Ibnu Katsir. 2000. Tafsir Ibnu Katsir Jil.1. Sinar Baru Algesindo, Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *