Khilafah Lahirkan Perempuan Mulia dan Generasi Istimewa


Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, OPINI — Tak habis kata untuk membicarakan perempuan dan tak habis air mata meratapi perempuan akhir zaman. Segudang problem terlahir dari sistem buatan manusia yang tak memuliakan perempuan.

Perempuan seolah sedang “dinobatkan” sebagai sumber bencana, karena di tangannyalah nasib generasi kian memprihatinkan. Inilah peradaban yang tak mengenal fitrah manusia.

Selamat datang di negeri demokrasi. Perempuan dalam demokrasi adalah sosok yang setara dengan laki-laki. Fungsi reproduksi dalam dirinya hanyalah dimaknai sebatas hak yang bisa ia buang kapan sajak.

Peran mengandung, melahirkan, menyusui, hingga mengasuh anaknya hanyalah hak yang boleh saja tidak dilakukannya. Inilah keadilan versi demokrasi, perempuan bebas menentukan apa yang akan ia lakoni.

Feminisme yang tengah digencarkan di negeri-negeri muslim meyakini bahwa persoalan pelik yang menimpa perempuan adalah akibat dari dominasi peran laki-laki di sektor publik.

Kebijakan yang timpang dan cenderung mendiskreditkan perempuan, menjadikan perjuangan perempuan untuk duduk sejajar di kursi pemerintahan menjadi wajib adanya. Dengan harapan kebijakan yang lahir akan berpihak pada perempuan.

Selain kebijakan, pranata sosial di tengah masyarakat patriarki pun telah menghambat perjuangan mereka dalam meraih kesetaraan.

Agama Islam memang didaulat sebagai pihak yang paling dominan dalam mewarnai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Misal, adanya kewajiban meminta izin pada suami, keharusan adanya mahram saat safar lebih dari sehari, dilarangnya poliandri saat dibolehkannya poligami.

Semua itu dianggap menghambat kebebasan yang seolah menjadi pangkal seluruh permasalahan perempuan.

Akhirnya, agama Islam kerap dituding sebagai agama yang menciptakan malapetaka bagi perempuan. Sungguh, hal demikian adalah tudingan keji dan tak mendasar terhadap syariat yang suci.

Padahal, kapitalisme demokrasi yang menjadikan perempuan kehilangan hak-haknya. Juga feminisme yang merenggut fitrah perempuan yang telah Allah Swt. sertakan dalam penciptaannya.

Perempuan Mulia dengan Islam

Islam memuliakan perempuan dengan tugas pokoknya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Peran optimal yang sesuai dengan fitrahnya telah menjadikan perempuan sebagai pihak yang juga turut andil dalam terwujudnya peradaban yang gemilang.

Dari rahim mereka terlahir para tokoh, negarawan, politikus, ulama, cendekiawan, dan tokoh-tokoh lainnya yang keberadaannya bermanfaat untuk umat, tersebab peran perempuan yang sesuai dengan fitrahnya.

Dari sisi kemanusiaan, Islam memandang perempuan dan laki-laki adalah satu. Islam menjamin hak-hak perempuan sebagai manusia, yakni dilindungi kehormatannya, akal, harta, jiwa, agama, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, termasuk hak berpolitiknya.

Semua itu agar peran tersebut bisa optimal dijalankan perempuan tanpa mengabaikan hak-haknya sebagai manusia.

Islam telah mengaturnya dengan terperinci, sebagai berikut:

Pertama, jaminan terhadap kehormatan.

Dalam kitab Nizham Ijtima’i karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dijelaskan hukum pergaulan pria dan wanita yang akan melindungi kehormatannya. Seperti kewajiban perempuan menutup auratnya serta melindunginya dengan jilbab (QS Al-Ahzab: 59) dan kerudung (QS An-Nur: 31).

Syariat pun menyeru agar perempuan menjaga pandangannya (QS An-Nur: 30-31), tidak tabarruj (QS An-Nur: 60), dilarang berkhalwat (HR Al Bukhari, 4832), larangan safar tanpa mahram lebih dari sehari (HR Muslim, 2388), dan masih banyak lagi.

Seluruh aturan di atas adalah wujud penjagaan Islam terhadap perempuan agar mulia dan dapat beraktivitas dengan aman.

Lihatlah bagaimana fenomena kekerasan seksual di tempat kerja dan di tempat umum disebabkan penerapan kapitalisme demokrasi yang memaksa perempuan untuk bekerja dan keluar rumah.

Kedua, jaminan kesejahteraan.

Syariat tidak membebankan perempuan dalam menghidupi dirinya sendiri. Perempuan akan serta-merta optimal dalam melaksanakan fungsi utamanya, yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Ibu yang mengasuh anaknya dengan sepenuh hati tanpa dibebani pencarian nafkah akan melahirkan calon ibu yang siap menciptakan generasi yang gemilang.

Para calon ibu pun akan membekali dirinya lalu menyibukkan diri pada hal-hal yang bermanfaat untuk perannya kelak, sehingga kenakalan remaja seperti seks bebas, narkoba, aborsi, dll. akan hilang.

Hingga ketika perempuan bekerja, semata bukan untuk menafkahi dirinya, apalagi untuk keluarganya. Namun, kiprah perempuan di publik dipersembahkan untuk kemaslahatan umat.

Ketika pun ia bekerja, ia tidak akan mungkin melalaikan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Jika suami atau walinya tidak ada atau tidak sanggup menafkahinya, tanggung jawab nafkah berpindah pada negara.

Inilah jaminan kesejahteraan pada perempuan dalam Islam yang tidak dimiliki sistem kapitalisme demokrasi.

Ketiga, jaminan untuk memperoleh pendidikan.

Pendidikan adalah hak bagi setiap manusia, termasuk perempuan, karena menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap orang (HR Ibnu Majah, 220).

Pendidikan dalam Islam berhubungan dengan kesempurnaan amal ibadah manusia, bukan semata wasilah mencari kerja. Sehingga, walaupun perempuan tidak wajib bekerja, hak berpendidikannya tak terbatas, perempuan boleh mengenyam pendidikan sama tingginya dengan laki-laki.

Apalagi jika kita melihat urgensi pendidikan pada ibu, yang mana ibu adalah madrasatul ulla bagi anak-anak mereka.

Alhasil, akan terlahir dari ibu berpendidikan, generasi cerdas pencetak peradaban. Ditambah pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar setiap warga, menjadikan negara tidak menyerahkannya pada swasta.

Negara Khilafah yang kuat akan mengatur agar sistem pendidikan yang berkualitas dapat dirasakan seluruh warganya (HR Al-Bukhori, 844).

Keempat, jaminan untuk berpolitik.

Islam memerintahkan seluruh umat, baik laki-laki maupun perempuan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa (QS At-Taubah: 71).

Hak politik perempuan seperti memilih Khalifah, memilih atau dipilih menjadi anggota majelis umat, serta menjadi bagian dari partai politik Islam (QS Ali Imran: 104).

Seluruh aktivitas politik perempuan ditujukan untuk kemaslahatan umat bukan untuk memperjuangkan kesetaraan seperti apa yang dilakukan para aktivis kesetaraan gender.

Kelima, jaminan untuk kelangsungan keturunan.

Melalui hukum-hukum tentang nasab dan pernikahan, Islam memuliakan perempuan untuk memperoleh keturunan yang sah. Melalui pernikahan yang syar’i, perempuan akan mendapatkan kehidupan rumah tangga yang menenteramkan.

Fungsi reproduksinya akan ia optimalkan untuk sebaik-baik ibadah seorang hamba pada Penciptanya dan untuk melahirkan generasi istimewa yang penuh maslahat bagi umat manusia.

Keenam, jaminan ketika perempuan berada di ruang publik.

Islam memuliakan perempuan dengan menjamin keamanannya, salah satunya di bidang peradilan. Ada sanksi bagi siapa pun yang melecehkan atau mencemarkan nama baik seorang perempuan tanpa bukti.

Islam pun membolehkan perempuan untuk jihad, bekerja, baik dalam pemerintahan (selain penguasa dan hakim mazhalim) ataupun aktivitas umum lainnya.

Namun demikian, aktivitas perempuan di tempat publik harus mengikuti batasan-batasan yang telah dijelaskan syariat agar perempuan terlindungi dari mara bahaya.

Ketujuh, negara tidak boleh lepas tangan.

Aturan Islam yang begitu terperinci terhadap perempuan tidak mungkin bisa diterapkan dengan optimal tanpa peran negara.

Negara wajib menjaga masyarakatnya dari berbagai macam bahaya termasuk serangan budaya agar perempuan terhindar dari serangan budaya Barat/kufur yang menghilangkan kehormatannya.

Adapun bentuk penjagaan negara terhadap masyarakat dari serangan tersebut adalah dengan memupuk ketakwaan individu masyarakat sebagai benteng awal, kontrol masyarakat (agar segala macam pelanggaran terhadap syariat dapat cepat diselesaikan), kontrol terhadap media (agar media menjadi corong yang menciptakan jawil (suasana) iman bukan jawil kufur); dan keberhasilan negara dalam menegakkan hukum secara menyeluruh akan efektif menangkal serangan tersebut.

Inilah penjagaan Islam terhadap kehormatan perempuan. Sungguh, penderitaan perempuan hari ini dan rusaknya generasi adalah buah dari diterapkannya sistem kufur demokrasi kapitalisme yang berasaskan sekularisme.

Insyaallah, dengan diterapkannya syariat Islam secara kafah akan menghantarkan perempuan pada kemuliaannya dan terciptanya generasi yang istimewa pembangun peradaban mulia. [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah