Kenapa Harus Khilafah? (Memperingati 100 tahun Keruntuhan Khilafah 1342–1442 H)


Penulis: Ustaz Azizi Fathoni


MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Mengapa harus Khilafah? Karena Khilafah itu ajaran Islam, bukan tradisi Arab atau ajaran dari luar Islam.

فكان مما سألني عنه الخلافة هل لها أصل في الشرع ووردت بها الأحاديث أو هي أمر عرفي اصطلح عليه الناس؟ فقلت: سبحان الله ومثل هذا يجهل حتى يسئل عنه. الخلافة ركن عظيم من أركان الإسلام أكدها الشرع ووردت بها الأحاديث والأخبار.

“Dan di antara yang ditanyakan kepadaku adalah soal Khilafah, apakah ia memiliki dasar di dalam syariat Islam dan dimuat di hadis-hadis Nabi, ataukah ia sekadar tradisi yang dibuat oleh orang-orang?”

Maka aku jawab, “Subhanallah, hal begini saja tidak tahu sampai ditanyakan!? Khilafah adalah sebuah ajaran pokok yang agung di antara ajaran-ajaran pokok di dalam Islam, yang telah ditegaskan oleh syariat dan dimuat oleh banyak hadis dan khabar.” (As-Suyuthi Asy-Syafi’i, Al-Inâfah fî Ratbatil Khilâfah)

Bahkan, ajaran Islam yang hukumnya wajib, bukan ajaran yang sunah atau sekadar perkara mubah.

{ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻣﺎﻡ ﻳﻨﺼﺐ # وما على الإله شيء يجب }

“Mengangkat seorang Imam/Khalifah itu hukumnya wajib atas kaum muslim, dan Allah itu tidak dibebani suatu kewajiban apa pun.” (Ibn Raslan Asy-Syafi’i, Shafwah Az-Zubad)

Bahkan, wajibnya wajib syar’i, yang jika ditinggalkan akan berdampak dosa di akhirat, bukan sebatas wajib ‘aqli yang hanya berdampak malu di dunia.

Baca juga:  [Maqalah Ulama] Menegakkan Khilafah= Menegakkan Keadilan

ﻭﺃﺟﻤﻌﻮا ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻧﺼﺐ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻭﻭﺟﻮﺑﻪ ﺑﺎﻟﺸﺮﻉ ﻻ ﺑﺎﻟﻌﻘﻞ

“Mereka (umat Islam) juga telah berkonsensus (ijmak) bahwa kaum muslim itu wajib mengangkat seorang khalifah, dan kewajiban tersebut berdasarkan syariat, bukan berdasarkan akal.” (An-Nawawi Asy-Syafi’i, Syarah Shahih Muslim)

Bahkan, wajib syar’i-nya yang bersifat kifa’i (fardu kifayah). Bila ditinggalkan dosanya ditanggung oleh seluruh umat Islam; tidak sebatas wajib ‘ain yang bila ditinggalkan dosanya hanya ditanggung oleh yang meninggalkan saja.

اﻹﻣﺎﻣﺔ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ اﻟﻜﻔﺎﻳﺔ

“Imamah/Khilafah itu hukumnya fardu kifayah.” (Asy-Syirazi Asy-Syafi’i, At-Tanbih fi al-Fiqh asy-Syafi’i)

Bahkan, kewajiban kifa’i yang disepakati oleh seluruh umat Islam (muttafaqalayh), bukan kewajiban yang diperselisihkan (mukhtalaf fiyhi).

أجمعت الأمة قاطبة إلا من لا يعتد بخلافه على وجوب نصب الأمام على الإطلاق

“Umat Islam seluruhnya telah bersepakat (ijmak’) -kecuali mereka yang tidak diperhitungkan pendapatnya- atas wajibnya mengangkat seorang imam/khalifah secara mutlak.” (Al-Qal’i Asy-Syafi’i, Tahdzib Ar-Riyasah wa Tartib As-Siyasah)

Bahkan kewajiban yang disepakati yang dalilnya qath’i. Yaitu berupa ijmak’ sahabat yang sampai secara mutawatir. Bukan kewajiban yang dasarnya sebatas dalil zhanni.

ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ اﻟﺤﻖ اﻟﺪﻟﻴﻞ الحق اﻟﻘﺎﻃﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺏ ﻗﻴﺎﻡ اﻹﻣﺎﻡ واتباعه ﺷﺮﻋﺎ ﻣﺎ ﺛﺒﺖ ﺑﺎﻟﺘﻮاﺗﺮ ﻣﻦ ﺇﺟﻤﺎﻉ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻰ اﻟﺼﺪﺭ اﻷﻭﻝ ﺑﻌﺪ ﻭﻓﺎﺓ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ اﻣﺘﻨﺎﻉ ﺧﻠﻮ اﻟﻮﻗﺖ ﻋﻦ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻭﺇﻣﺎﻡ

Baca juga:  [Kaffah] Nestapa Dunia Tanpa Khilafah

Ahlul haq (Ahlussunnah wal Jama’ah) berpendapat: dalil yang haq serta kebenarannya pasti (qath’i) tentang wajib syar’i-nya mewujudkan serta menaati seorang imam/khalifah adalah riwayat mutawatir tentang terjadinya ijmak (konsensus) kaum muslim di periode awal pascawafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk tidak membiarkan terjadi masa kekosongan dari seorang imam/khalifah.” (Al-Amidi Asy-Syafi’i, Ghayah Al-Maram fi ‘Ilm Al-Kalam)

Bahkan kewajiban yang mendesak dan prioritas, karena terkait banyak kewajiban dan besarnya mudarat akibat ketiadaannya.

ﻓﻜﺎﻥ ﻭﺟﻮﺏ ﻧﺼﺐ اﻹﻣﺎﻡ ﻣﻦ ﺿﺮﻭﺭﻳﺎﺕ اﻟﺸﺮﻉ اﻟﺬﻱ ﻻ ﺳﺒﻴﻞ ﺇﻟﻰ ﺗﺮﻛﻪ

“…., maka kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah ini termasuk perkara syara’ yang sangat penting (dharûriyât asy-syar’) yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali.” (Al-Ghazali Asy-Syafi’i, Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad)

ﺣﺘﻰ ﺟﻌﻠﻮﻩ ﺃﻫﻢ اﻟﻮاﺟﺒﺎﺕ ﻭﻗﺪﻣﻮﻩ ﻋﻠﻰ ﺩﻓﻨﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ.

“Sampai-sampai mereka (para sahabat) menganggapnya sebagai kewajiban yang paling prioritas, dan mendahulukannya daripada memakamkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.” (Syamsuddin Ar-Ramli, Ghâyah Al-Bayân Syarh Zubad Ibn Raslân. Juga Abu Al-Fadhal As-Sinori, Ad-Durr Al-Farîd)

Bahkan kewajiban yang sedang tidak terlaksana, bukan kewajiban kifa’i yang sudah sedang terlaksana.

الواجب ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه

“Wajib adalah Perkara yang apabila dilakukan mendatangkan pahala, dan apabila ditinggalkan mengakibatkan siksa.”

Bahkan tidak terlaksana sejak lama (hingga 100 tahun lamanya), bukan hanya ditinggalkan sesaat dan segera bertobat.

Baca juga:  Ramadan Terakhir Tanpa Junnah

قال يحيى بن معاذ: من أعظم الاغترار عندي -ذكر منها- التمادي في الذنوب على رجاء العفو من غير ندامة،

Yahya bin Mu’adz, “Tertipu yang paling besar menurutku adalah—di antaranya—ketika seseorang terus berlarut-larut dalam dosa dengan mengharap ampunan sedangkan dia tidak menyesal/bertobat.” (Al-Ghazali Asy-Syafi’i, Ihya’ Ulum Ad-Din)

والتمادي على الفسق فسق

“Berlarut-larut dalam kefasikan itu merupakan kefasikan itu sendiri (menambah kefasikan akibat meninggalkan kewajiban yang besar).” (Ibnu Hajar al Haitami, Az Zawajir ‘an Iqtirafil Kaba`ir)

Apalagi Khilafah sudah dijanjikan kedatangannya. Artinya perjuangan menegakkannya memiliki masa depan yang pasti, karena Nabi adalah pribadi yang ash-shadiqul wa’dil amin, dan Allah itu laa yukhliful mi’ad.

ثم تكون خلافة على منهاج النبوة

“Kemudian akan berlangsung kekhilafahan di atas metode kenabian.” (HR Ahmad–Sahih)

Jadi kenapa harus Khilafah?

Yaitu karena Khilafah adalah ajaran Islam yang hukumnya wajib, yang wajibnya wajib syar’i dan bersifat kifa’i (fardu kifayah), yang disepakati oleh seluruh umat Islam (muttafaq ‘alayh) dan dalilnya qath’i yang bersifat mendesak (min dharuriyatisy syar’ie) dan prioritas (ahammul wâjibât), yang sudah dan sedang tidak terlaksana sejak lama (hingga 100 tahun lamanya)! Selain juga dijanjikan akan kemunculannya di akhir masa.

Semoga kita termasuk yang berusaha memperjuangkan dan mengalami keberlangsungannya. Aamiin. [MNews/Juan]