Shahabiyat, Teladan dalam Penegakan Syariat


Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, OPINI — Keruntuhan Khilafah pada 1924 di Turki adalah mimpi buruk bagi dunia Islam. Sekularisasi di dunia Islam adalah koridor keji yang diabadikan Barat untuk menyesatkan umat Islam. Tak terkecuali dalam perkara pemberdayaan perempuan dan keluarga, yang mana sekularisasi sungguh tak terhindarkan.

Barat Menjadikan Kaum Perempuan Tersesat

Barat tahu benar, perempuan adalah pihak yang bertanggung jawab mendidik generasi. Mereka juga paham sepenuhnya bahwa muslimah adalah salah satu unsur kekuatan masyarakat Islam.

Mereka sangat gelisah saat melihat fenomena para muslimah yang mampu berkontribusi besar bagi umat ini dengan melahirkan para ulama, mujahid, dan aktivis pembela Islam.

Tak pelak, Barat berusaha sekuat tenaga untuk melumpuhkan peran muslimah serta menggiringnya ke lembah fitnah. Barat bahkan merasa sangat berkepentingan merusak konsep Islam akan peran seorang ibu sehingga membuatnya mengabaikan peran terpenting yang dipilih Allah untuknya, yang tak lain adalah membesarkan dan mendidik anak-anak.

Tidak hanya itu, dalam sisi lain peradaban Barat, kaum hawa hanya menjadi komoditas permainan dan kesenangan ketika masih muda, menarik, dan cantik. Malangnya, ketika kaum perempuan ini sudah lanjut usia, nasibnya berakhir di lingkungan panti jompo.

Namun, ketika Barat telah secara rapi dan simultan melaksanakan berbagai konferensi internasional berdalih pembelaan pada kaum perempuan, nyatanya itu hanya manis di bibir. Karena di balik itu semua, ada upaya sunguh-sungguh untuk menyebarkan ide-ide liberalnya yang rusak dan merusak kaum perempuan, khususnya di dunia Islam.

Masalahnya, persepsi liberal ini selanjutnya mencemari pemikiran para muslimah di negeri-negeri muslim. Para muslimah diprovokasi untuk melepas hijabnya. Mereka juga diseru untuk melepaskan diri dari “belenggu” syariat, sehingga mereka bersikap bebas seolah tanpa batas.

Baca juga:  Sejarah Keruntuhan Khilafah

Padahal, semua itu semata-mata menjadikan kaum muslimah terperosok ke jurang nista. Mereka ibarat amnesia bahwa sepanjang sejarah, kaum perempuan tidak pernah mendapatkan kedudukan terhormat, kecuali dalam Islam.

Teladan Shahabiyat

Muslimah berdaya dalam Islam adalah mereka yang sanggup menidurkan bayi dalam buaian, namun pada saat yang sama mereka mampu mengguncang singgasana pemikiran kufur.

Sungguh urgen mereplikasi profil muslimah seperti ini ketika sekarang kita hidup di tengah tegasnya pertarungan pemikiran antara yang hak dan batil, maraknya kerancuan standar akan kebenaran, bahkan acap kali berpihak pada tradisi-tradisi kufur.

Mencermati hal ini, sudah semestinya para muslimah modern mengenal sosok-sosok teladan generasi muslimah di masa awal Islam. Mereka dihadirkan Allah Swt. di muka bumi bukan sekadar menjadi tokoh historis yang kisahnya bisa usang ditelan zaman.

Keberadaan para shahabiyat ini selayaknya menjadi role model bahwa Islam hadir untuk mengangkat perempuan muslimah dari kerak lembah yang rendah dan hina, dengan cara menempatkan mereka pada kedudukan yang sangat terhormat.

Para shahabiyat adalah sekumpulan muslimah terbaik sepanjang sejarah Islam dan peradaban manusia. Mereka termasuk golongan manusia yang dipilih Allah Swt. untuk menyertai kehidupan Rasul-Nya saw.. Mereka mulia dengan rasa malu, kesucian, serta kesalehannya, hingga disebut layak menyandang mahkota peradaban.

Mereka adalah orang-orang yang ber-akhlakul karimah, berpikiran mendalam, serta pengemban dan pembela sejati bagi Dienullah.

Mereka juga menyandang peran istimewa selaku para ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah saw.), kaum perempuan dari kalangan Sahabat Nabi saw., serta para perempuan generasi tabi’in yang mulia.

Karenanya, sungguh, urusan generasi akhir zaman ini tidak akan baik kecuali dengan meneladani generasi awalnya.

Shahabiyat Penegak Syariat [1]

Khadijah binti Khuwailid ra. adalah perempuan pertama yang masuk Islam dan beriman kepada Allah Swt. Beliau ra. muslimah pertama yang memperoleh jaminan untuk masuk surga. Beliau ra. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saw. saat semua orang kafir kepadanya.

Baca juga:  Agenda Politik Umat

Beliau ra. membenarkan risalah Nabi saw. saat semua orang mendustakannya. Beliau ra. juga mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah Islam saat semua orang memilih enggan.

Mahasuci Allah yang telah menjadikan beliau ra. sebagai sumber perlindungan, ketenangan, dan dukungan bagi Rasulullah saw. Di masa awal pengembanan dakwah Islam.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik wanita di dunia ini adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita di dunia ini adalah Khadijah binti Khuwailid.” (Muttafaqun ‘alaih)

‘Aisyah binti Abu Bakar ra., adalah orang yang paling dicintai Rasulullah saw. setelah ayahnya, Abu Bakar ra.

Beliau ra. adalah wanita yang kesuciannya diumumkan Allah Swt. dari tujuh lapis langit. Beliau adalah wanita yang bertakwa, bersih, ahli wara’, dan ahli zuhud.

Beliau juga memiliki keistimewaan dengan menunjukkan kesabaran yang tinggi saat menemani Rasulullah saw. dan kaum muslimin berada di medan jihad. Beliau turut serta dalam peristiwa Perang Khandaq dan Perang Bani Musthaliq.

Dalam bidang keilmuan, periwayatan hadis, kezuhudan, dan wara’, Aisyah pantas disejajarkan dengan ulama-ulama terkemuka. Hadis yang diriwayatkan Aisyah diakui kualitasnya karena dia menerimanya langsung dari Rasulullah saw..

Ibnu Sa’ad pada kitab Thabaqat menghitung sekitar 700 perawi wanita muslimah yang pernah ada. Yang berada di peringkat pertama, tersebutlah nama Aisyah binti Abu Bakar. Secara keseluruhan, Aisyah telah meriwayatkan sebanyak 2.210 hadis, 174 di antara berderajat muttafaq’alaih.

Keilmuan beliau ini tidak dapat ditandingi wanita mana pun pada masanya, bahkan hingga masa kini. Tak heran jika beliau digelari sebagai ahli fikih rabbani pembawa seperempat ilmu agama.

Baca juga:  Tanggung Jawab Umat Menegakkan Khilafah

Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wanita surga termulia adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam, dan Aisyah.” (HR Ahmad)

Fatimah binti Rasulullah saw., adalah putri Rasulullah saw. Yang menjadi ibu dan putri bagi ayahnya. Beliau ra. adalah putri dari wanita terbaik (Khadijah ra.) dan laki-laki terbaik (Rasulullah saw.).

Fatimah ra. juga dikenal sebagai orang yang sabar, tegar, taat beragama, baik, menjaga kehormatan, qana’ah, dan senantiasa bersyukur kepada Allah Swt..

Banyak peran penting yang diwujudkan Fatimah ra.. Beliau ra. mengikuti sejumlah perjalanan jihad Rasulullah saw., seperti Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, dan juga Futuh Makkah.

Fatimah ra. juga menjadi pemimpin para wanita surga. Rasulullah saw. bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah saw., Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR Muslim)

Khatimah

Merekalah para muslimah didikan Rasulullah saw.. Perilakunya terjaga melalui sistem kehidupan Islam berdasarkan risalah yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada beliau saw..

Para shahabiyat adalah teladan hebat sepanjang hayat. Mereka adalah sosok-sosok yang teruji keimanan dan ketakwaannya. Tapi tentu saja, sosok mereka hanya dapat ditemukan dalam sistem kehidupan yang diatur dengan aturan Allah, Islam kafah. Peran aktifnya dalam mengemban dakwah juga diteladani oleh kaum muslimah sepanjang tegaknya sejarah Khilafah Islamiah.

Kiprah dakwahnya tak diragukan lagi, bahkan tak layak terkubur oleh libasan modernisasi. Kesalehannya tetap relevan hingga akhir zaman. Keberadaannya serupa oase di tengah gersangnya kehidupan jahiliah. [MNews/Gz]


[1] Al-Mishri, M. 2006. 35 Sirah Shahabiyah Jilid 1. Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat.