[Editorial] Moderasi Islam Makin Deras di Madrasah

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Moderasi agama terus diaruskan di dunia pendidikan, termasuk di madrasah. Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) misalnya telah menginisiasi berbagai agenda pelatihan dan workshop untuk membekali para guru madrasah dengan pemahaman Islam wasathiyah, khususnya dalam perspektif fikih dan ushul fikih.

Agenda-agenda semacam ini bahkan sedang masif dilakukan di berbagai daerah. Pemerintah -melalui Kemenag- rupa-rupanya sangat serius memastikan, bahwa penguatan moderasi agama di kalangan siswa madrasah harus sukses sebagaimana yang diharapkan. Hal ini seiring sejalan dengan upaya-upaya memoderasi pemahaman Islam di berbagai komunitas lainnya.


SEBAGAIMANA diketahui, pengarusan Islam moderat atau Islam wasathiyah seringkali dilegitimasi oleh pandangan bahwa generasi muda hari ini sudah terpapar oleh paham radikalisme atau ekstremisme beragama. Kasus-kasus kekerasan, intoleransi, dan aksi-aksi teror yang kerap terjadi dan dilakukan anak-anak muda sering dinisbahkan pada cara pandang mereka yang ekstrem dalam beragama.

Maka pengarusan Islam wasathiyah atau Islam moderat dianggap sebagai solusi jitu mengeliminir kasus-kasus ini. Karena menurut konsep mereka, Islam wasathiyah mengajarkan prinsip-prinsip Islam yang lebih ramah. Karenanya, bisa menghindarkan pemeluknya, baik di level masyarakat, maupun level individu, dari sikap berlebihan dalam beragama.

Pengertian wasathiyah seperti ini diklaim telah sesuai dengan tafsir QS Al-Baqarah ayat 143,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Mereka menyebut, bahwa umatan wasathan yang ada dalam ayat ini adalah umat pilihan. Yakni umat yang memiliki karakter at-tawassuth, yang diartikan bersikap sedang dalam semua urusan, tidak berlebihan dalam beragama dan tidak pula kurang. Juga bersikap adil, dimana adil artinya berada di tengah, antara lebih dan kurang.

Karenanya dalam pandangan mereka, segala bentuk ekstremisme atau terorisme tak sejalan dengan sikap moderat (at-tawassuth) dalam bermasyarakat dan bernegara. Bahkan keduanya dianggap sangat merusak citra Islam dan sangat merendahkan kehormatan umat Islam, serta sangat bertentangan dengan tujuan syariat Islam.

Baca juga:  Islam Tidak Jadi Alat Politik? Bentuk Kegagapan Islam Moderat

Lebih jauh, mereka juga terus meyakinkan masyarakat global, bahwa ekstremisme dan terorisme Islam adalah hasil manipulasi politik kelompok-kelompok tertentu yang hendak mengambil keuntungan. Dimana mereka menafsirkan Islam dengan pemahaman-pemahaman yang bisa melegalisasi aksi-aksi menebar kebencian dan permusuhan. Bahkan memprovokasi pertumpahan darah dan peperangan.


KITA tentu tak bisa menafikan, bahwa sikap ekstrem bahkan aksi-aksi teror yang dilakukan para pemuda memang nyata adanya. Namun menjadikan kasus-kasus itu sebagai alasan memoderasi atau menafsir ulang Islam dengan tafsiran yang menjauhkan umat dari hakikat kebenaran Islam justru merupakan bentuk penyesatan.

Kita lihat faktanya. Islam wasathiyah atau Islam moderat yang hari ini sedang diaruskan nyatanya adalah Islam yang dipersepsikan dan dikehendaki oleh kafir Barat. Yakni Islam yang mengakomodasi nilai-nilai Barat dan ramah terhadap kebijakan-kebijakan global yang sedang mereka tancapkan di seluruh dunia.

Selama ini, negara-negara kapitalis Barat melalui lembaga-lembaga internasional terus menyuarakan tentang pentingnya sikap toleran dan penghormatan atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Propaganda ini nyatanya adalah sekuel baru dari agenda perang global melawan terorisme (GWoT) yang dilanjutkan dengan perang melawan radikalisme Islam.

Lalu mereka pun membuat berbagai perjanjian dan proyek-proyek bantuan yang disandingkan dengan target penancapan gagasan-gagasan tersebut, khususnya di negeri-negeri Islam. Termasuk memunculkan gagasan untuk membangun jejaring muslim moderat yang mereka inisasi dalam skala global.

Mereka memobilisasi seluruh komponen umat yang bisa dimanfaatkan. Mereka merekrut lembaga-lembaga pendidikan, para akademisi, kaum intelektual, LSM, media, bahkan kalangan ulama dan jejaringnya, termasuk lembaga pesantren dan madrasah, untuk masuk dalam proyek deradikalisasi tersebut. Tentu dengan effort dana dan energi yang tak ringan.

Sayangnya, sebagian umat Islam khususnya para penguasa justru termakan propaganda Barat ini. Mereka menyambut proyek jahat ini dengan penuh suka cita, semata karena kelemahan wawasan politik internasional mereka dan sikap apologetik (memosisikan diri sebagai pihak tertuduh) di hadapan para penjajah. Bahkan mereka menerimanya semata demi meraih dukungan kekuasaan politik sesaat dari para penguasa dunia.

Baca juga:  Tak Seharusnya Penyuluh Agama Menjadi Penyampai Moderasi

Padahal di balik itu semua, mereka sedang dimanfaatkan untuk mengamankan agenda penjajahan global yang dilakukan negara-negara sponsor GWoT dan proyek deradikalisasi Islam. Karena faktanya, yang mereka tuding sebagai pelaku terorisme dan radikalisme adalah gerakan Islam yang mengancam hegemoni mereka atas dunia.

Maka kita akan melihat, bahwa apa yang dimaksud dengan Islam moderat atau wasathi adalah Islam yang tak anti Barat. Yakni Islam yang menerima ide-ide liberalisme kapitalisme di berbagai bidang  kehidupan, termasuk bidang ekonomi. Sekaligus menerima gagasan pluralisme dan relativisme, yang ujung-ujungnya mendukung sekularisasi dan menolak gagasan atau gerakan penegakan syariat Islam.


SEMESTINYA, umat Islam menyadari konstelasi politik internasional dan memahami posisi mereka dalam konstelasi itu. Sejak hilangnya institusi politik khilafah, umat Islam terus menerus menjadi bulan-bulanan negara-negara imperialis Barat. Bahkan menjadi objek penjajahan.

Negara-negara Barat tentu tak ingin kerja keras mereka yang sangat panjang untuk meruntuhkan musuh ideologis mereka -yakni sistem pemerintahan Islam alias khilafah- berakhir sia-sia. Mereka juga tak mau hegemoni dan penjajahan mereka atas dunia Islam berakhir begitu saja hanya karena lemahnya mereka menghadapi kebangkitan umat yang kembali muncul di abad 21.

Itulah kenapa, tatkala kesadaran umat akan posisi mereka yang terjajah tersebab  dicampakkannya karakter ideologi pada agama mereka ini mulai menguat, kafir Barat merasa berkepentingan untuk segera kembali menjauhkan karakter Islam sebagai ideologi ini dari umat Islam.

Maka, mereka pun serius berupaya melakukan deradikalisasi yang hakikatnya merupakan upaya sekularisasi dan deideologisasi Islam. Makar inilah yang sejatinya ada pada gagasan moderasi Islam yang semestinya diwaspadai oleh umat dan para penguasa mereka.

Terlebih yang mereka sasar adalah para pemuda Islam. Mereka tahu persis bahwa masa depan umat ini terletak pada para pemudanya. Bahkan di tangan pemuda hari inilah gambaran peradaban Islam di masa depan akan ditentukan. Jika para pemuda muslim hari ini memiliki kesadaran ideologis Islam yang kuat, tentulah akan menjadi lonceng kematian bagi peradaban kapitalisme di masa depan.


DALAM konteks pengarusan Islam moderat ini, madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya seperti pesantren, diniyah, dan perguruan tinggi Islam memang telah dipilih sebagai garda yang paling depan. Karena madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya memiliki banyak kelebihan yang tak dimiliki sistem pendidikan lain.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Moderasi Islam di Sekolah, Merusak Karakter Generasi Khairu Ummah

Kelebihan itu antara lain, posisinya yang sangat afirmatif terhadap kalangan rakyat yang rentan secara ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan biaya pendidikannya yang cukup murah, hingga terjangkau oleh masyarakat bawah dan menengah yang merupakan kelompok mayoritas.

Kelebihan berikutnya adalah karena lembaga-lembaga ini jelas-jelas berbasis keagamaan. Sehingga harus ada ikhtiar untuk memastikan bahwa lembaga-lembaga ini justru tak menjadi pabrik pencetak generasi yang siap memperjuangkan penerapan Islam.

Maka, tak berlebihan jika dikatakan bahwa kampanye moderasi Islam adalah proyek pembajakan potensi pemuda sebagai modal utama mengembalikan kemuliaan Islam. Karena melalui proyek ini akan lahir para pemuda yang kehilangan identitas diri sebagai muslim. Mereka hanya ber-KTP Islam, tapi tak paham dan tak yakin dengan kebenaran Islam.

Mereka menganut Islam sebagai kepercayaan, tapi tak yakin bahwa Islam adalah solusi bagi seluruh persoalan kehidupan. Mereka akan kian terjauhkan dari solusi problem umat yang kian hari kian parah, tersebab kehidupan mereka terjauhkan dari Islam dan sistem politiknya. Bahkan mereka sangat alergi dengan sebagian ajaran Islam, yang dipropagandakan sebagai ajaran terbelakang, bahkan bar-bar.

Maka sudah saatnya umat menyadari hakikat persoalan, agar tak selalu jadi korban penipuan. Bahkan umat harus berkeyakinan, bahwa Islam ideologi yang hari ini dimusuhi Barat dan berusaha terus direkayasa, sejatinya adalah kunci kebangkitan.

Islam ideologis inilah yang justru harus didakwahkan dan diperjuangkan, terutama di kalangan generasi muda Islam. Tentu dengan cara-cara dakwah yang mencerdaskan, dan jauh dari cara-cara kekerasan.

Cukuplah ayat Allah Swt. ini sebagai peringatan,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.(QS At-Taubah : 32) [MNews/SNA]