Seabad Tanpa Khilafah dan Kembalinya Generasi Umat Terbaik


Penulis: Luluk Farida
#100TahunTanpaKhilafah


 

MuslimahNews.com, FOKUS — Sesungguhnya generasi muda muslim adalah generasi terbaik karena mereka adalah bagian dari umat terbaik.

Sebagaimana Allah Swt. telah menyifati umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik) dalam firman-Nya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110).

Generasi terbaik yang kehadirannya dirindukan peradaban dunia. Sejarah mencatat bahwa hanya peradaban Islam saja yang mampu melahirkan generasi terbaik ini, yaitu generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, ber-syakshiyah Islamiyah (kepribadian Islam).

Ketika berpikir, mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai standar untuk memutuskan hukum segala sesuatu halal atau haram, standar perilakunya senantiasa menyesuaikan tuntunan syariat, berakhlak mulia.

Mereka juga melakukan amar makruf nahi mungkar, mendakwahkan Islam ke seluruh alam. Mereka adalah pemimpin yang memakmurkan bumi, memuliakan sesama manusia.

Kisah Generasi Terbaik

Beberapa di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Thalhah bin Ubaidullah, Muhammad Al-Fatih, dan Muhammad Al Qasim.

Ali bin Abi Thalib adalah pemuda pertama yang masuk Islam. Dialah orang yang senantiasa mendampingi dan melindungi Rasulullah.

Pembuktian akan kecintaannya kepada Rasulullah saw. terlihat amat nyata ketika Ali menggantikan Rasulullah di tempat tidur beliau sesaat sebelum Hijrah. Selanjutnya Ali mempunyai pengaruh amat besar bagi perkembangan Islam.

Usamah bin Zaid, pemuda yang saat berumur 18 tahun sudah mendapat kepercayaan Rasulullah, yang dilanjutkan Abu Bakar Ash-Shidiq, memimpin pasukan muslim menghadapi salah satu kekuatan terbesar saat itu untuk membebaskan bumi Syam, Romawi.

Usamah membuktikan ia benar-benar orang yang tepat menggenggam amanah itu, bumi Syam dapat dibebaskan dari Romawi.

Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun), orang Arab yang paling mulia. Ia berbaiat untuk mati demi Rasul saw. pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

Kisah Muhammad Al-Fatih juga begitu masyhur. Pada usia 21 tahun, beliau sudah menjadi panglima perang pasukan muslim untuk meruntuhkan salah satu imperium yang telah berdiri kokoh selama 11 abad, Byzantium.

Muhammad Al Qasim (17 tahun), menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Generasi muslim juga banyak yang menjadi ulama, di antaranya imam mahzab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali yang hingga kini menjadi rujukan umat muslim.

Juga banyak yang menjadi ilmuwan muslim dari berbagai disiplin Ilmu. Karya-karya para ilmuwan muslim ini mendapat pengakuan luas dan menjadi rujukan para ilmuwan dunia, termasuk ilmuwan Barat.

Baca juga:  Nestapa Umat Tanpa Khilafah

Di antaranya adalah Ibnu Sina (Avicena) ‘bapak kedokteran dunia’, Jabir Ibnu Hayyan ‘bapak kimia dunia’, dan lain-lain.

Mereka adalah generasi yang mampu menginspirasi dunia. Generasi pejuang penopang kebangkitan Islam sebagaimana generasi awal bersama Rasulullah saw., hingga terwujud peradaban Islam.

Mereka juga generasi penjaga peradaban Islam sehingga peradaban Islam secara gemilang mampu memimpin dunia selama 13 abad.

Kesamaan Profil

Terdapat kesamaan profil pada diri mereka. Pertama, mereka berkepribadian Islam, mempunyai pemahaman yang baik tentang syariat dan menjadikannya menjadi pedoman hidupnya.

Kedua, rasa cinta terhadap Islam dan kemauan untuk menyebarkan dakwah Islam sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan perannya di usia muda terlibat dalam peperangan-peperangan dalam rangka memerangi musuh Allah dan memperluas wilayah dakwah.

Ketiga, setiap karyanya adalah untuk maslahat umat manusia.

Lahirnya generasi umat terbaik seperti inilah yang menjadi harapan umat Islam dan umat dunia saat ini. Di saat maraknya kriminalisasi syariat Islam, dibutuhkan generasi muda yang berdiri tegak menyuarakan kebenaran.

Di tengah kemerosotan moral umat, dibutuhkan generasi yang memiliki cita-cita tinggi menaklukkan dunia dengan dakwah Islam, bukan justru tersibukkan pada aktivitas receh, galau, dan terjebak pergaulan bebas.

Di tengah tangisan umat manusia akan berbagai persoalan, dibutuhkan generasi yang karyanya memberi kemaslahatan, bukan justru dikapitalisasi untuk kemaslahatan dirinya saja dan kaum kapitalis.

Kunci kembalinya Generasi Terbaik

Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan, Rasulullah saw. pernah bersabda,

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنْ الأنْبِيَاءِ. فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الأرْضِ، وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ، وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا، وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الأمَمِ

Aku diberi apa yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.” Kami bertanya, “Apakah itu?” Beliau bersabda, “Aku ditolong dengan rasa takut, aku diberi kunci-kunci bumi, aku diberi nama Ahmad, tanah dijadikan suci untukku, dan umatku dijadikan sebagai umat terbaik.” (HR Ahmad)

Terkait umat terbaik, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul saw. saat beliau sedang di atas mimbar, “Siapakah manusia terbaik?” Rasul (saw.) menjawab,

خَيْرُ النَّاسِ أقْرَؤهُمْ وَأَتْقَاهُمْ للهِ، وآمَرُهُمْ بِالمعروفِ، وأنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ

“Manusia terbaik adalah yang paling banyak membaca dan memahami (Al-Qur’an), yang paling bertakwa kepada Allah, yang paling banyak melakukan amar makruf nahi mungkar dan yang paling sering menyambung silaturahmi.” (HR Ahmad)

Baca juga:  [News] Trending #BangkitDenganIslam, Bukti Umat Rindu Syariat

Maka, ketika kita hari ini menginginkan kegemilangan itu diraih, kuncinya hanya satu, yakni menerapkan Al-Qur’an dengan sempurna. Hanya peradaban Islamlah yang mampu menerapkan Al-Qur’an secara sempurna.

Khilafah Produsen Generasi Emas

Di masa awal kemunculan Islam, sekitar abad ke 7 Masehi, peradaban dunia didominasi dua imperium besar: Persia di Timur dan Romawi di Barat.

Ketika itu, kaum muslimin hanya menjadi penonton dua negara adidaya yang memperebutkan kendali peradaban dunia.

Namun, tidak butuh waktu lama, hanya dalam dua dekade, Rasulullah saw. mampu menjadikan umat Islam menjadi kekuatan baru yang sangat diperhitungkan.

Berikutnya, Islam memimpin peradaban dunia dengan Khilafah Islamiah. Dalam kurun waktu yang tidak sampai satu generasi, Khilafah Islamiah telah menjadi produsen generasi emas yang kemudian berjaya selama 13 abad.

Negara Khilafah Islamiah bertanggung jawab menerapkan kebijakan komprehensif, mulai dari sistem politik, sistem ekonomi, pendidikan, sistem pergaulan, hingga sistem sanksi untuk melahirkan generasi terbaik.

Negara sebagai elemen terkuat pun mengerahkan perhatiannya untuk memastikan institusi keluarga dan masyarakat memainkan perannya secara optimal dan  sinergis dalam membentuk generasi.

Generasi terbaik harus hidup dalam suasana pemikiran, perasaan, peraturan yang satu yakni Islam. Al-Qur’an dan Sunah menjadi pedoman dan menjadi standar dalam perbuatan.

Keruntuhan Khilafah, Malapetaka bagi Generasi

Sayangnya, potret sebagai khairu ummah (umat terbaik) sudah lama tidak tampak pada umat Islam hari ini. Generasi umat Islam di berbagai belahan dunia terpuruk, bahkan menjadi objek dan eksploitasi pihak lain.

Sejak satu abad Hijriah yang lalu, runtuhnya Khilafah Islamiah pada 28 Rajab 1342 H merupakan malapetaka bagi generasi. Umat Islam dahulu bersatu di bawah penerapan syariat Islam secara penuh dengan Al-Qur’an sebagai dasar negara.

Namun, sejak keruntuhan itu, umat Islam hancur dan tercerai-berai menjadi 50 negara dan menjadikan asas sekuler serta sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahan mereka.

Dalam peradaban sekuler demokrasi, generasi Islam terpuruk jauh dari kualitas terbaik, bahkan terancam “lost generation” (generasi yang hilang). UNICEF (United Nations Children’s Fund—Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada Kamis, 19/11/2020, memperingatkan tentang ancaman “lost generation” akibat pandemi virus corona yang terus membahayakan pendidikan, gizi, dan kesehatan anak-anak.

Sebanyak 1.265 juta anak tidak bisa ke sekolah, ada 150 juta anak tergelincir ke dalam kemiskinan multidimensi pada pertengahan 2020, dan diperkirakan 2 juta tambahan kematian anak dan 200.000 tambahan kematian bayi baru lahir yang dapat terjadi selama periode 12 bulan karena adanya gangguan parah pada layanan kesehatan dan meningkatnya malnutrisi. (suara merdeka, 11/20)

Baca juga:  Khilafah Menjaga Keluarga, Masyarakat, dan Negara

Sungguh, kita tidak bisa berharap pada sistem sekuler demokrasi yang telah nyata merusak dan mematikan potensi generasi. Satu-satunya cara untuk mampu mencetak generasi berkualitas adalah dengan mengembalikan peradaban Islam melalui penegakan Khilafah Islamiah.

Kembalikan Generasi Terbaik dengan Dakwah Islam Kafah dan Khilafah

Kondisi umat yang terpuruk dan jauh dari predikat sebagai umat terbaik ini tentu tidak boleh dibiarkan. Kondisi ini harus diubah. Aktivitas perubahan harus gencar dilakukan di tengah umat ini. Sebab, perubahan itu tidak akan datang dengan sendirinya melainkan harus diusahakan.

Allah Swt. berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du [13]: 11).

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menjelaskan,

Allah Swt. memberitahukan dalam ayat ini bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai terjadi perubahan dari mereka, baik dari mereka sendiri, atau dari orang yang mengurus mereka, atau dengan sebab dari sebagian orang di antara mereka.”

Berdasarkan fakta yang ada saat ini dan dengan memahami kisah pemuda Islam di masa lampau, kita akan mengetahui betapa besar potensi yang dimiliki pemuda untuk membuka kembali jalan bagi jayanya agama Islam.

Kemenangan Islam harus kita jemput dengan menempatkan pemuda pada posisi yang tepat, sehingga ia bisa menunjukkan kekuatannya. Tentu saja pemuda tersebut mempunyai akidah kuat yang melandaskan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup, mereka harus memahami sejarah kegemilangan Khilafah Islamiah.

Oleh karenanya, aktivitas pembinaan dan dakwah adalah jalan satu-satunya menuju kebangkitan Islam. Pemuda dan Al-Qur’an harus menjadi satu kesatuan, mereka harus memahami penerapan hukum syariat secara kafah, institusi penerapnya yaitu Khilafah Islamiah, dan metode mewujudkannya yaitu dengan bergabung dalam jemaah dakwah untuk menyerukan dakwah penerapan syariat kafah dalam Khilafah Islamiah.

Demikianlah pola pembentukan yang dilakukan Rasulullah saw. sehingga mewujudkan generasi pejuang, penopang dakwah Rasulullah saw. hingga terwujud kebangkitan Islam.

Imam Malik berkata, “Tidak ada yang dapat memperbaiki generasi akhir umat ini, kecuali apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.” [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah