[News] Zehra Malik: Perempuan Berperan dalam Perubahan Politik secara Nyata

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Menciptakan perubahan politik yang nyata dan positif di dunia saat ini, sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama antara lelaki dan perempuan, tanpa perbedaan.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah sabda Rasulullah saw.,

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayangi, dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Sahih Muslim No. 4685).

Hal tersebut disampaikan aktivis muslimah asal Turki, Zehra Malik, pada Women & The Global Call for The Khilafah yang diselenggarakan secara virtual.

Menurutnya, ini adalah keunikan identitas luar biasa yang dimiliki kaum muslimin serta tanggung jawab bersama yang mesti dipenuhi.  Sehingga untuk bisa mewujudkan perubahan politik maka perlu disadari bagaimana identitas muslim sebagai seorang individu dan bagian dari umat.

“Selain itu kaum muslimin harus selalu menyadari identitas dan eksistensi ideologi Islam dalam kehidupan individu hingga bernegara,” urainya.

Namun, ia menyayangkan realitas hari ini yang mana kaum muslimin tidak berada dalam kondisi tersebut. Inilah mengapa perlu ada perubahan politik dan mengetahui faktor kunci perubahan itu secara jelas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Baca juga:  [News] Muslimah Palestina: Pengemban Dakwah Tidak Pernah Berhenti

“Saat kaum muslimin menginginkan perubahan, tetapi bukan sekadar “kosmetik” politik atau keinginan segelintir politisi dan aturan yang ada sekarang, maka sejatinya kaum muslimin perlu melakukan perubahan yang sangat mendasar,” tegasnya.

Kemudian ia memperinci faktor-faktor kunci perubahan tersebut:

Pertama, harus belajar dari sirah Rasulullah saw.—yang menjadi bagian akidah kaum muslimin—, serta keyakinan bahwa sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah.

“Harus segera disadari, perlunya segala upaya dan pengorbanan yang dilakukan untuk meruntuhkan sistem kufur,” tukasnya.

Kedua, metode politik, yaitu bertindak sebagai politisi sejati. Kaum muslimin khususnya perempuan harus pandai menyampaikan bagaimana ideologi Islam yang sesungguhnya, serta menciptakan opini publik yang kuat tentang sistem Islam sebagai pilihan satu-satunya yang menjaga martabat, keadilan, dan kedamaian.

Selain itu, juga harus berperan serta menyelamatkan kehidupan anak, keluarga, dan lainnya; menggambarkan secara jelas perbedaannya (ideologi Islam) dengan sistem demokrasi dan seluruh ide-ide buatan manusia.

Sehingga, umat memiliki pemahaman yang cemerlang tentang Islam sebagai solusi atas seluruh persoalan manusia.

“Jadi tugas seorang politisi muslim khususnya bagi perempuan adalah menawarkan sistem Islam dengan gambaran yang tepat, dan menunjukkan perbedaannya dengan sistem kufur,” tegasnya.

Ia menyampaikan, حزب التحرير‎ (partai dakwah internasional yang berjuang mengembalikan kehidupan Islam) telah menyiapkan konsep detail mengenai konstitusi Khilafah yang didasarkan Al-Qur’an dan Sunah.

Baca juga:  [News] Dr. Nazreen: Khilafah Kebutuhan Muslim dan Nonmuslim, Saat Ini dan Selamanya

“Di dalamnya memuat pula sistem ekonomi yang lengkap dan praktis, sistem sosial, tata cara bernegara, dan hal-hal lainnya yang dapat menjadi amunisi saat menyampaikan opini publik di mana pun,” ucapnya.

Ketiga, adanya kesadaran politik. Sebagai politisi muslim, mesti membangun kesadaran politik yang kokoh agar tidak terjatuh dalam jebakan politik Barat.

Kaum muslimah, jelasnya, harus menjadi politisi sejati yang memberi pencerahan kepada umat tentang keadaan sebenarnya dan menyingkap apa yang ada di baliknya, serta membongkar kekuatan dan agenda di balik kebijakan yang ada di negeri kita.

“Juga membongkar politik dua wajah dari para politisi, terutama politisi perempuan yang seolah merepresentasikan para perempuan hari ini, baik di dunia Barat, di balik media, parlemen maupun yang lainnya,” cetusnya.

Sehingga, simpulnya, tugas kita sebagai kaum muslimah adalah meraih kesadaran dan mengingatkan umat tentang Islam dan yang bukan dari Islam.

Keempat, dan ini yang terpenting, adalah nushrah dari tokoh-tokoh berpengaruh dan militer di tiap negeri.

Zehra menjelaskan, ini merupakan metode Rasulullah saw. yaitu ketika memperoleh nushrah dari para tokoh Aus dan Khazraj melalui Baiat Aqabah II.

Saat itu, ketika Rasulullah saw. memasuki Madinah, bukanlah sebagai pengungsi atau orang yang butuh dukungan masyarakat Madinah, melainkan sebagai kepala negara dengan kekuatan super power kabilah di belakangnya. Bahkan, Rasulullah menolak berbagai kompromi yang ditawarkan kepadanya.

Baca juga:  [News] Dr. Nazreen: Khilafah Kebutuhan Muslim dan Nonmuslim, Saat Ini dan Selamanya

Kelima, mesti terjun secara total mewujudkan janji Allah dan Rasul-Nya hingga Islam dan kaum muslim mendominasi dunia kembali.

“Pada saat itu Allah pun akan membangunkan kekuasaan dan keamanan bagi umat. Yang perlu kita lakukan adalah menaati-Nya dan tidak menyekutukan-Nya,” tuturnya.

Allah menyatakan, kaum muslim adalah umat terbaik di antara manusia. Kaum muslimin senang berbuat baik dan satu-satunya yang beriman kepada Allah, sehingga kaum muslim layak mendapat dukungan dari Allah.

Ia menegaskan, ini adalah politik yang nyata, dengan tujuan dan metode yang nyata. Kedudukan, karakter, dan identitas yang nyata pula dari kaum muslimin untuk mendapatkan yang terbaik bagi umat dan seluruh manusia,” katanya.

“Meski banyak tantangan dan persekusi terhadap pengemban dakwah, termasuk yang perempuan, yang menyerukan tegaknya lagi Khilafah,” pungkasnya. [MNews/Ruh-Gz]