[Tapak Tilas] Kota Khaibar, Benteng Terakhir Pertahanan Yahudi

Di masa Rasulullah, Khaibar dikenal sebagai kawasan hunian Yahudi yang sangat subur. Terdapat banyak oase serta kebun kurma dan buah-buahan. Sekelilingnya dilindungi oleh benteng berlapis yang sangat kokoh dan sulit ditembus musuh.


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Konon, pasukan adidaya Romawi pun tak mampu menaklukkan benteng Khaibar ini. Yahudi di jazirah Arab pun menjadikan daerah ini sebagai benteng utama pertahanan mereka.

 

Khaibar, Tempat Pelarian Yahudi

Khaibar adalah kawasan yang dihuni Yahudi sejak sangat lama. Mereka adalah bagian dari kaum Yahudi yang berdiaspora ke seluruh dunia akibat kebijakan zalim Titus Romawi di tahun 70 Masehi.

Di tahun ke-2 Hijriah, daerah ini diketahui menjadi kawasan pelarian bagi Bani Qainuqa. Mereka diusir oleh Rasulullah karena terus membuat kekacauan di dalam kota Madinah.

Salah satunya melakukan pelecehan terhadap muslimah yang berujung pembunuhan seorang muslim yang membelanya.

Lalu pascaperang Uhud di tahun ke-4 H, daerah Khaibar pun menjadi tempat pelarian bagi Yahudi Bani Nadhir. Mereka diusir oleh Rasulullah dari kota Madinah lantaran diketahui mengkhianati perjanjian dengan Negara Islam.

Mereka bahkan bersekongkol dengan kaum Munafiqin untuk membunuh Rasulullah hingga terjadilah perang yang berujung kemenangan umat Islam.

Karenanya kekuatan politik Yahudi seolah terkumpul di Khaibar. Mereka sama-sama menyimpan dendam pada negara Islam. Dan menularkannya pada bani Yahudi lain yang memang sudah lama tinggal di sana.

Dendam mereka pun makin bertambah saat di tahun ke-6 Hijriah, Rasulullah Saw. mengambil tindakan politik yang keras kepada kalangan Bani Quraizah di Madinah. Kaum laki-laki mereka dibunuh seluruhnya sebagai hukuman pengkhianatan mereka yang besar di perang Ahzab.

Saat itu, alih-alih membantu pasukan muslim mempertahankan kota yang diserang. Mereka malah terprovokasi Yahudi yang ada di Khaibar untuk membantu pasukan musuh dengan membuka pertahanan kota dari arah belakang.

Baca juga:  Praktik Toleransi dalam Sejarah Islam

Khaibar Sebagai Pusat Makar Yahudi

Atas semua itulah, mereka bersepakat membalas dendam. Pasca perang Ahzab, mereka mencoba menghasut kaum kafir Quraisy dan bangsa-bangsa Arab lainnya untuk bersama-sama menyerang kembali negara Islam.

Namun akhirnya rencana makar ini diketahui Rasulullah Saw. Maka beliau pun segera merancang sebuah manuver politik untuk mengisolir Yahudi Bani Khaibar dari kaum Quraisy dan bangsa-bangsa Arab lainnya.

Target ini dicapai dengan terjadinya Perjanjian Hudaibiyah yang begitu fenomenal dan sempat memicu kontroversi di kalangan umat Islam.

Betapa tidak? Di balik diktum-diktum perjanjian yang tampak merugikan umat Islam, ternyata target menelikung kekuatan politik Quraisy dan sekutunya dan mengisolir penduduk Khaibar, berhasil dengan cemerlang.

Bahkan pasca perjanjian ini, kondisi negara Madinah begitu kondusif untuk menata diri. Tak hanya di dalam negeri. Tapi dalam hubungannya dengan luar negeri. Karena bangsa Quraisy dan sekutunya benar-benar terikat oleh janjinya sendiri.

Di kota Makkah misalnya. Keberadaan para mualaf yang tertahan di dalamnya tersebab perjanjian, justru membuat cahaya Islam kian bersinar di pusat kemusyrikan.

Sementara di saat sama, Negara Madinah justru berkesempatan melakukan penyebarluasan dakwah ke berbagai wilayah tanpa ada gangguan yang berarti.

Puluhan surat resmi kenegaraan pun dikirimkan bersama para utusan ke negara-negara tetangga. Hingga wibawa dan posisi tawar negara Islam makin terbangun kuat.

Sementara kelompok Yahudi yang berkumpul di Khaibar, makin terpojok di benteng-benteng pertahanan yang mereka bangga-banggakan.

Di saat inilah, Rasulullah Saw. mengambil keputusan besar. Muharram tahun ke-7 hijriah, tepatnya 15 hari sejak kepulangan ke Madinah dari Perjanjian Hudaibiyah, beliau memobilisasi 1.600 kaum muslim bersama 100 penunggang kuda untuk berangkat menyerang Khaibar. Seluruh pasukan yang ikut hanyalah mereka yang menyaksikan peristiwa perjanjian Hudaibiyah.

Baca juga:  Sebelumnya Sembunyi-sembunyi, Akhirnya Penguasa Rezim Al-Saud Umumkan Normalisasinya dengan Entitas Yahudi

Penaklukan Kota Khaibar

Perjalanan menuju Khaibar tentu bukan perjalanan yang mudah. Pasukan Rasulullah Saw. harus menempuh perjalanan berat selama tiga hari untuk sampai di perbatasan wilayah Khaibar yang berjarak 150 km ke arah utara kota Madinah.

Namun Rasulullah begitu yakin bahwa kemenangan akan beliau dapatkan. Karena di tahun sebelumnya, saat pulang menuju Madinah pasca perjanjian Hudaibiyah, turun wahyu yang mengabarkan kemenangan besar.

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Fath: 20)

Mahabenar Allah dengan segala Firman-Nya. Kemenangan yang dijanjikan itu memang nyata adanya.

Dalam Kitab Daulah Islamiyah karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani disebutkan, bahwa saat penyerangan itu terjadi penduduk Khaibar hampir-hampir tidak merasakan kehadiran kaum muslimin. Bahkan pasukan kaum muslim bisa bermalam di depan benteng mereka tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.

 

Maka, tatkala waktu subuh tiba, para pekerja Khaibar pun seperti biasa keluar menuju ladang-ladang pertanian mereka dengan membawa alat seperlunya. Tentu alangkah terkejutnya mereka, saat melihat pasukan kaum muslim tiba-tiba ada di hadapan. Hingga mereka pun berlarian sambil berteriak-teriak ketakutan.

Di saat-saat genting itulah, Rasul saw. memerintahkan pasukan muslim menghancurkan Khaibar. Hingga orang-orang Yahudi pun berusaha meminta tolong kepada Bani Ghathfan.

Baca juga:  Anak-Anak Palestina Jadi Sasaran Teror Israel

Sayang semuanya sia-sia. Pasukan muslim dengan penuh semangat terus merangsek ke dalam benteng kota. Hingga membuat kaum Yahudi kian terpojok putus asa.

Akhirnya, mereka benar-benar menyerah kalah. Bahkan, mereka memohon perdamaian dari Rasul saw. agar beliau tidak membunuh mereka. Permohonan itu pun dikabulkan.

Rasul saw. juga membolehkan mereka tetap tinggal di negerinya seraya memberi syarat agar mereka bekerja mengelola harta rampasan perang, berupa tanah dan kekayaan alam.

Lalu beliau menetapkan, hasil dari pengelolaan harta itu dibagi separuh untuk mereka dan separuh untuk beliau.

Demikianlah, urusan Yahudi Bani Khaibar selesai sudah. Bahkan akhirnya mereka tunduk pada kekuasaan kaum muslimin dan menjadi bagian warga negara Islam (ahludz dzimmah).

Dengan demikian, jika sebelumnya Rasulullah Saw. telah berhasil mengamankan wilayah Selatan Jazirah setelah perjanjian Hudaibiyah, maka dengan penaklukan Khaibar ini, beliau berhasil mengamankan wilayah Utara Jazirah hingga ke wilayah Syam.

Sejak saat itulah jalan dakwah di kawasan jazirah Arab telah terbuka lebar. Begitu pula jalan dakwah di luar Jazirah.

Penampakan Khaibar Hari Ini

Kota Khaibar kini masih menjadi lokasi pertanian kurma yang sangat subur. Bahkan, Khaibar menjadi salah satu daerah pemasok kurma yang terpenting ke kota Madinah.

Khaibar kini juga menjadi kota industri dengan berbagai tempat usaha yang tersebar di sepanjang jalan. Kota ini menjadi persinggahan para musafir dalam perjalanan menuju Yordania, Suriah, atau Lebanon.

Di kota ini para pengunjung juga masih bisa melihat situs sejarah berusia belasan abad. Yakni berupa perkampungan dengan benteng-bentengnya yang kokoh dari zaman Rasulullah Saw. [MNews/Juan]