Khilafah Menjaga Keluarga, Masyarakat, dan Negara


Penulis: Noor Afeefa
#100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, FOKUS — Kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari keberadaan keluarga, masyarakat dan negara. Betapa banyak kebutuhan manusia bergantung pada berjalannya fungsi ketiganya.

Terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan dan lainnya, tentu membutuhkan peran keluarga, masyarakat, apalagi negara. Ancaman terhadap ketiganya saat ini pun telah membawa manusia pada kesengsaraan hingga hilangnya hak-hak hidup manusia.

Di tengah berbagai persoalan yang mengusik peran keluarga, masyarakat dan negara, tentu sangat dibutuhkan upaya untuk menjaga ketiganya agar berjalan sebagaimana mestinya.  Islam sebagai aturan hidup paripurna yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu saja memiliki konsep cemerlang tentang hal itu.  Bahkan, bukan hanya konsep atau pemikiran.  Pelaksanaannya pun pernah terwujud secara baik di masa Kekhilafahan Islam. Bagaimana bentuk penjagaan Islam (Khilafah) terhadap keluarga, masyarakat dan negara tersebut?

Urgensi Keluarga, Masyarakat dan Negara

Tak disangsikan lagi keluarga memiliki peran sangat besar bagi kehidupan manusia. Peranan penting keluarga tampak dari 8 (delapan) fungsinya.  Yakni, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi sosialisasi, fungsi proteksi, fungsi rekreasi, fungsi afeksi (memberikan kasih sayang), fungsi edukasi, dan fungsi religius. Karenanya, bisa terbayang, jika keluarga tidak dijaga, banyak fungsi yang hilang.  Kehidupan manusia pun akan guncang.

Sebagai bagian terkecil dari masyarakat, keluarga berperan memberi warna pada masyarakat dan peradaban bangsa.  Artinya, berjalannya fungsi keluarga akan berimbas juga kepada masyarakat dan negara.  Inilah mengapa penjagaan keluarga menjadi hal sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Adapun masyarakat, pun memiliki peran besar agar kehidupan berjalan dengan harmonis.  Betapa pengawasan masyarakat (kontrol sosial) terhadap berbagai persoalan individu dan keluarga dapat memudahkan penyelesaian masalah tersebut. Bahkan dapat mencegah berlarut-larutnya masalah.  Dalam sebuah hadis panjang, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam mengumpamakan masyarakat seperti penumpang perahu (HR. Bukhari no. 2493). Amar makruf nahi munkar sangat efektif ditegakkan jika masyarakat menjalankan fungsinya dengan baik.

Sebaliknya, masyarakat yang kacau karena beragamnya standar berpikir dan aturan (mafahim, maqayiz dan qanaat), akan sulit mencari solusi. Ini pula yang terjadi pada sebagian besar masyarakat muslim di dunia saat ini.  Mereka tak memiliki standar sahih dalam menilai baik buruk, terpuji-tercela.  Walhasil, beragam problem individu dan keluarga lolos dari pengawasan masyarakat. Terlebih pada saat negara juga abai terhadap urusan rakyat.

Adapun negara, sudah pasti menjadi benteng terakhir berbagai urusan individu, keluarga dan masyarakat.  Negara yang kokoh dapat memenuhi semua hajat atau kebutuhan warganya.  Demikian pula dapat menjaga warganya dari berbagai serangan musuh. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mengungkapkan peran negara pada seorang pemimpin (al imam).

Baca juga:  Karakter Pemimpin Ideal Dambaan Umat

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)”.  (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Begitu besarnya peran negara di hadapan rakyatnya.  Dengan politik pemerintahan dan ekonominya, negara sangat menentukan apakah warganya akan mendapatkan kemaslahatan ataukah kesengsaraan.

Demikianlah, begitu pentingnya bangunan keluarga, masyarakat dan negara.  Kini, kapitalisme sekuler telah merusak bangunan tersebut. Memorakporandakannya, baik melalui serangan budaya, serangan politik-militer juga serangan ekonomi. Pilihannya kini hanya pada ideologi Islam yang terwujud dalam sistem kenegaraan Khilafah Islam.

Khilafah Mengukuhkan Bangunan

Sebagai ideologi yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Islam memiliki aturan lengkap untuk mengatur kehidupan manusia dan semua masalah yang ditimbulkan manusia, baik dalam keluarga, masyarakat dan negara.

Islam memiliki pandangan khusus lagi sahih tentang bagaimana seharusnya keluarga, masyarakat dan negara terbentuk.  Jika pembentukannya sahih, maka ia akan berfungsi dengan baik.  Sebaliknya, jika pembentukannya keliru, maka ia tidak akan kuat menanggung fungsi dan tanggung jawabnya yang berat.

Di samping mengatur tentang proses pembentukannya, Islam juga memiliki aturan tentang cara menjaga agar semua bangunan (institusi) tersebut berjalan sesuai fungsinya. Pemeliharaan ini penting, karena adanya dinamika pada manusia.  Berbagai masalah dan bentuk pelanggaran mungkin terjadi dalam keluarga, masyarakat bahkan negara.  Karenanya, harus ada solusi sahih agar masalah yang terjadi dapat dituntaskan tanpa menimbulkan masalah berikutnya atau mengancam bangunan itu sendiri.

Hal yang paling membedakan dan mendasar dalam pembentukan bangunan keluarga, masyarakat maupun negara antara Islam dengan sistem kapitalis sekuler adalah landasan.  Jika dalam kapitalisme sekular, pembentukan bangunan keluarga, masyarakat maupun negara dilandasi oleh kepentingan (manfaat) yang bersifat materi, maka tidak begitu dengan Islam.

Dalam Islam (Khilafah), baik keluarga, masyarakat maupun negara harus dibangun dan ditegakkan dengan landasan akidah Islam. Yakni, semua dibentuk untuk mewujudkan misi penciptaan manusia di dunia ini sebagai hamba Allah (QS. Adz Dzariyat [60]: 56). Adapun kepentingan manusia haruslah ditundukkan mengikuti maksud atau kehendak Sang Pencipta.  Ketundukan hawa nafsu manusia di hadapan Allah menjadi dasar pengaturan semua hal terkait keluarga, masyarakat dan negara.

Karena itulah, Syariat Islam harus menjadi aturan dan sumber penyelesaian semua masalah baik dalam keluarga, masyarakat maupun negara. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Putuskan hukum di antara mereka berdasarkan apa (wahyu) yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (TQS al-Maidah [5]: 48).

Baca juga:  Bukan KG Juga Kapitalisme, Kaum Perempuan Hanya Butuh Khilafah

Syariat Islam inilah yang akan menjaga dan mengukuhkan bangunan keluarga, masyarakat dan negara dari semua ancaman yang bisa memalingkan fungsinya.  Perwujudannya tampak dalam beberapa aspek berikut.

Pertama, penjagaan atas akidah.  Akidah menjadi hal paling mendasar yang harus dilindungi, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun negara.  Maka, Khilafah bukan hanya akan menggencarkan dakwah agar akidah umat makin kuat.  Namun juga akan menerapkan hukum bagi mereka yang melakukan pelanggaran mengancam akidah Islam.  Seperti terhadap murtadun (orang-orang yang keluar dari Islam). Juga kepada pelaku penyebaran pemikiran dan ideologi kufur.

Kedua, penjagaan atas keturunan.  Masalah ini bukan hanya untuk menyelamatkan keluarga, namun juga institusi masyarakat dan negara.  Untuk ini, negara betul-betul menjaga hukum pernikahan sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan keturunan sah.  Maka semua bentuk hubungan khusus di antara manusia, seperti homoseksual, lesbian, zina diharamkan.  Bahkan pelakunya juga dikenai hukuman hudud, seperti rajam, atau cambuk hingga dibunuh.

Ketiga, penjagaan atas kemuliaan (karamah). Syariat Islam menjadikan kemuliaan sebagai perkara sangat penting yang bisa mempengaruhi ketenangan hidup masyarakat. Karenanya, Islam melarang perbuatan qadzaf, yakni menuduh wanita baik-baik sebagai pezina. Pelakunya bisa dikenai sanksi berupa cambuk 80 kali jika tidak bisa membuktikannya di pengadilan (QS. An-Nuur [24]:4)  Hal ini karena Islam memandang perempuan sebagai kemuliaan yang harus dijaga.

Keempat, penjagaan atas akal. Betapa banyak problem sosial muncul ketika akal tidak dijaga.  Maka Syariat Islam menjaganya dengan melarang hal-hal yang bisa merusak akal, seperti mengonsumsi narkoba dan minuman khamr. Peminum khamr bisa dikenai sanksi cambuk 40 kali.  Bahkan larangannya juga ditegaskan kepada 10 pihak yang terlibat dalam khamr ini. (Hadits sahih dari Ibnu Umar dalam Sunan Ibnu Majah no. 2725).

Kelima, penjagaan atas jiwa.  Tak ada sistem buatan manusia di dunia ini yang mampu menyelesaikan banyaknya kasus pembunuhan (hilangnya nyawa) dengan tuntas melainkan sistem Islam.  Pembunuhan jiwa menjadi bencana dunia yang makin sadis semenjak hilangnya (tidak diterapkannya) hukum Islam bagi pembunuh.  Syariat Islam menjaga manusia dengan menegakkan hukum qishash bagi mereka yang membunuh manusia tanpa alasan benar (haq). Pelakunya mendapatkan hukum bunuh atau membayar diyat (denda). (QS Al-Baqarah [2]:178).

Baca juga:  [Kaffah] Nestapa Dunia Tanpa Khilafah

Keenam, penjagaan atas harta. Kebutuhan atas harta sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia harus ditegakkan dengan aturan sahih. Karenanya, Syariat Islam menetapkan aturan terkait kepemilihan, seperti sebab-sebab kepemilikan, cara mengembangkan harta dan lainnya.  Negara juga akan menerapkan hukuman bagi pelaku pelanggaran aturan.  Seperti menghukum pencuri dengan potong tangan jika sudah memenuhi syarat dan kadar pencuriannya.  Juga kepada pelaku kecurangan lain, seperti pelaku risywah (suap), korupsi dan lainnya dengan hukuman ta’zir dari penguasa.

Ketujuh, penjagaan atas keamanan. Syariat Islam melindungi seluruh warga negara dari pihak pengganggu keamanan dan yang meresahkan masyarakat, seperti pembegal di jalan dan pengganggu atau perusuh lainnya.  Terdapat sanksi khusus bagi qotha’ at thariq (pembegal jalanan) ini seperti dibunuh, disalib dan diasingkan (tergantung kadar kejahatannya).  Aparat kepolisian negara disiagakan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di dalam negeri.

Kedelapan, penjagaan atas negara. Keutuhan dan stabilitas negara menjadi hal penting agar negara mampu menjalankan kebijakan politik dan ekonominya dengan baik.  Maka syariat Islam melarang warga negara melakukan perlawanan bersenjata terhadap negara yang sah (tindakan bughat).  Pelakunya bisa diperangi dengan tujuan mendidik. Namun demikian, Syariat Islam menjamin warga negara untuk melakukan koreksi kepada penguasa agar kekuasaan negara tetap berjalan sesuai Syariat.

Itulah 8 (delapan) bentuk penjagaan Islam (Khilafah) terhadap hal-hal yang bisa mengganggu berjalannya fungsi keluarga, masyarakat dan negara.  Semua itu sejatinya pernah diterapkan di masa berlakunya seluruh syariat Islam, yakni sejak masa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam hingga berakhirnya sistem Kekhilafahan.

Penerapan syariat Islam tersebut telah menghantarkan kegemilangan peradaban Islam di muka bumi dan bahkan tercatat dalam sejarah kemanusiaan.  Dalam bentangan sejarah dunia, Islam terbukti berhasil mewujudkan keluarga pencetak fondasi perjuangan. Juga membangkitkan masyarakat, dari yang sebelumnya hidup dalam kebodohan dengan sebuah keluhuran yang luar biasa dan tidak pernah tertandingi oleh peradaban masyarakat mana pun. Pun telah menghantarkan menjadi sebuah negara adidaya karena kebesaran kekuasaannya, kemajuan ekonomi dan peradabannya.

Kini, penjagaan terhadap keluarga, masyarakat dan negara telah hilang seiring dengan dicampakkannya syariah Islam kafah. Seiring pula dengan hilangnya institusi penegak syariat tersebut, yakni Khilafah.

Maka, menjadi tanggung jawab seluruh umat, tak terkecuali muslimah untuk melibatkan diri dalam perjuangan menegakkan kembali Khilafah. Dengan Khilafah, tegaklah hukum syariat Islam yang akan menjaga keluarga, masyarakat dan negara dan mengantarkan manusia kepada rida Allah Subhanahu wa Ta’ala. [MNews/Gz]