Rajab, Antara Isra Mikraj dan Keruntuhan Khilafah


Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si. | #100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, OPINI — Rasulullah Saw. sedang dirundung duka. Silih berganti beliau ditimpa kesedihan dan ujian yang begitu dalam. Setelah ditinggalkan istri tercinta Khadijah ra., tak berselang lama paman yang selalu membelanya meninggal dalam kondisi kekufuran.

Maka, Allah Swt. memberikan hadiah untuk menghibur Rasulullah saw. dengan perjalanan indah ke Baitulmaqdis dan Sidratul Muntaha, yang dikenal dengan peristiwa Isra Mikraj.

Setelah peristiwa Isra Mikraj pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, keimanan kaum muslim semakin kokoh. Hal demikian menjadikan perlawanan kaum kafir Quraisy semakin keras dan mematikan.

Propaganda, penganiayaan, hingga pemboikotan terus dialami umat muslim. Namun demikian, hal tersebut tak sedikit pun menggoyahkan keimanan dan menyurutkan semangat dakwah.

Hingga Allah Swt. perkenankan kemenangan itu hadir di tahun ke-13 kenabian. Rasul beserta kaum muslim hijrah ke Madinah Almunawarah.

Selama 13 abad Islam memimpin dunia. Kekuasaannya yang mencakup 2/3 bagian dunia, mampu menciptakan peradaban agung dan gemilang, Allahu Akbar.

Runtuhnya Daulah Khilafah Islamiah di Turki Utsmani

Jauh setelah peristiwa Isra Mikraj, pada 27 Rajab umat Islam diliputi pilu mendalam karena perisainya telah dihancurkan, yaitu Khilafah Islamiah, tepatnya pada 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M

Khilafah yang berpusat di Turki Utsmani dihapuskan Mustafa Kemal Ataturk laknatullah ‘alaih. “Sah”-lah, aturan Allah Swt. tak lagi menjadi landasan dalam mengatur umat manusia.

Hingga kini, kafir dan kaum munafik tak berhenti sampai meruntuhkan Khilafah. Mereka pun berusaha untuk menghilangkan Khilafah dari benak umat muslim, membubarkan kelompok yang mengusungnya, serta mengkriminalisasi ulama dan umat yang mengembannya

Mereka juga menghilangkan ajaran Khilafah dari buku sekolah, menyamakan Khilafah dengan komunis (yang telah jelas biadabnya), dan masih banyak upaya mereka dalam mengubur Khilafah yang merupakan mahkota kewajiban umat muslim.

Maka, pada tahun ini, 1442 Hijriah, genap 100 tahun sudah dunia tanpa Khilafah. Sungguh benar-benar terjadi apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtishad fi al-I’tiqad, bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar.

Agama adalah dasar, kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berdasar (tidak didasarkan pada agama) niscaya akan runtuh. Segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga (tidak ada Khilafah), niscaya akan lenyap atau hilang.

Baca juga:  Hukum Puasa Rajab

Umat Rugi Dunia Akhirat Tanpa Khilafah

Sungguh, umat akan merugi tanpa adanya Khilafah. Alam raya pun akan tercabik akibat ulah sistem busuk buatan manusia.

Setidaknya, ada 15 kerugian besar akibat hilangnya syariat agung ini.

1) Hilangnya rida Allah Swt.

Rida Allah Swt. akan hilang bagi negeri ini kala menolak diterapkannya Khilafah. Khilafah adalah tajul furudh atau mahkota kewajibannya umat, yang jika ditegakkan, syariat Allah Swt. serta-merta akan diterapkan secara kafah.

Sungguh, rida Allah Swt. dapat dicapai dengan mengikuti seluruh hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktikkan Nabi kita Muhammad Saw..

2) Hilangnya Imam atau Khalifah atau Amirul Mukminin.

Khalifah adalah raa’in (pengurus umat) dan junnah (perisai/pelindung umat). Oleh karenanya, banyak yang hilang ketika kaum muslim kehilangan legitimasi kepemimpinan ini. Tak akan ada lagi yang mengurusi seluruh kebutuhan umat dengan sepenuh hati. Juga tak akan ada lagi yang melindungi umat dari serangan kaum kafir dan munafik.

Lihatlah kebutuhan umat yang serba mahal: listrik, air, bahan makanan, pakaian, tempat tinggal, hingga pendidikan, kesehatan dan keamanan. Semua sulit didapat umat akibat penguasa demokrasi menyerahkan seluruh urusan pada swasta.

Begitu pula penderitaan muslim Rohingya di Myanmar, muslim Uighur di Xinjiang, muslim di Palestina, dan muslim di belahan bumi lainnya yang terus dizalimi kaum kafir dan antek-anteknya.

3) Hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan.

Untuk bisa beribadah dengan pun, hari ini kaum muslim dihantui ketakutan. Terjadi persekusi para ulama dan pengembannya. Belum lagi UU ITE atau yang teranyar polisi virtual yang siap menjerat kaum muslim yang sedang berdakwah menentang kemungkaran.

4) Hilangnya ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kepedulian yang lahir dari kepribadian Islam.

Sistem pendidikan yang kapitalistik membuat rakyat miskin tak bisa mengecap pendidikan dengan layak. Akibatnya, banyak yang buta huruf dan buta wawasan.

Sistem pendidikan yang liberalistik juga telah mencetak manusia pintar tetapi minus keimanan. SDM jadi tidak peduli sesama. Ilmunya tak bermanfaat untuk umat.

Baca juga:  Islam Menjaga Perempuan dan Generasi dengan Sepenuh Hati

5) Hilangnya kekuatan dan jihad akibat kelemahan dan kekalahan.

Seperti yang kita lihat, upaya para mujahidin di Palestina hanya berakhir pada kekalahan. Semua itu akibat hilangnya kekuatan umat yaitu Khilafah, hingga negeri Palestina dibiarkan sendiri tanpa senjata menghadapi kafir penjajah Israel.

Namun, jika Khilafah tegak, Khalifah akan menghimpun pasukan dari seluruh negeri muslim dan menghadirkan senjata mutakhir untuk bisa mengalahkan Israel.

6) Hilangnya kekayaan yang disebabkan kemiskinan.

Ekonomi kapitalisme yang membebaskan kepemilikan telah mengesahkan eksploitasi SDA milik umat. Semua itu menyebabkan kesengsaraan pada umat karena tak bisa merasakan manfaat dari SDA yang notabene miliknya sendiri.

Eksploitasi SDA pun menyebabkan bencana dan menjadikan pajak utang sebagai tumpuan membiayai negara. Akhirnya, semua berujung pada kerugian umat.

7) Hilangnya pencerahan dan pedoman yang benar akibat kegelapan dan pedoman yang salah.

Pranata yang tak sesuai Islam hanya akan menyebabkan kehidupan bermasyarakat menjadi rusak. Tata nilai sosial di masyarakat yang individualis membuat kemaksiatan merajalela.

Narkoba, seks bebas, L68T, dan kenakalan remaja lainnya tumbuh subur akibat budaya permisif yang ada di tengah-tengah masyarakat.

8) Hilangnya kehormatan dan martabat yang disebabkan penghinaan.

Maraknya karikatur Nabi dan pelecehan terhadap ajaran agama Islam seperti poligami, cadar, jenggot, kerudung, dll. adalah akibat hilangnya martabat kaum muslim.

9) Hilangnya kedaulatan dan ketergantungan dalam membuat keputusan politik.

Hal ini akibat ketundukan kepada negara-negara penjajah kafir Barat dan Timur. Jebakan utang yang menyebabkan ketergantungan negeri ini pada para penjajah telah menghilangkan kedaulatan dalam membuat suatu keputusan politik, semua disetir korporasi.

Ditambah penguasa boneka yang hanya membebek pada negara adidaya, makin melengkapi kezaliman yang menimpa umat.

10) Hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan.

Lihatlah, hukum di negeri ini dikangkangi politik, menyebabkan hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Hukum hanya berlaku pada rakyat dan kebal pada penguasa. Hukum pun hanya tajam ke depan yaitu lawan politiknya dan tumpul ke belakang yaitu koalisinya.

11) Hilangnya keimanan dan keikhlasan akibat pengkhianatan penempatan orang yang salah pada tempat yang salah.

Baca juga:  Peran Politik Muslimah dalam Mewujudkan Peradaban Cemerlang

Korupsi tak pernah berhenti. Para pemimpin yang diamanahi mengurusi umat nyatanya memang tak membekali dirinya dengan keimanan dan keikhlasan dalam menjabat.

Ditambah dengan lingkungan yang mendukungnya untuk berbuat maksiat, alhasil saling menutupi kesalahan adalah langkah terbaik bagi rezim korup.

12) Hilangnya sikap dan moral yang terpuji menyebabkan kejahatan dan sikap tercela.

Kebebasan tingkah laku yang menjadi salah satu jargon demokrasi menyebabkan hilangnya rasa hormat murid pada guru. Mereka (merasa) bebas melakukan apa pun, tak peduli halal atau tidak. Inilah yang menyebabkan maraknya kemaksiatan yang berujung pada kerugian umat.

13) Hilangnya negeri-negeri Islam dan tempat tinggal.

Tidak hanya Palestina, tetapi juga Andalusia (sekarang yang disebut Portugal dan Spanyol), wilayah yang luas di Asia Tengah dan Timur Jauh, Kosovo, Bosnia, Kashmir, dan yang lainnya.

Menyebabkan jutaan imigran, gelombang pengungsi, dan pendeportasian. Semua ini terjadi akibat uamt Islam tidak memiliki pelindung mereka

14) Hilangnya tempat suci yang menyebabkan kaum muslim dilarang salat di Masjidilaqsa selama 50 tahun sampai saat ini.

Begitu pun pada Masjidilharam dan Masjid Nabawi, tidak dalam kondisi baik-baik saja. Di sana, terjadi pembatasan ceramah pada Masjidilharam, salah satunya tidak boleh membicarakan Khilafah.

15) Hilangnya kesatuan dan integritas akibat berpecahnya negeri kaum muslim menjadi 56 bagian yang tidak sah.

Kini, AS bekerja keras menciptakan bagian ke-57 di Palestina, ke-58 di gurun Afrika barat, dan ke-59 di Timor Timur. Sungguh, disintegrasi akan terus memereteli negeri-negeri muslim hingga kepingan terkecil. Penjajahan makin mulus dan kebangkitan umat makin terhadang.

Demikianlah 15 poin kerugian ketika Khilafah tidak ada. Oleh karenanya, jika kita menginginkan kerugian ini hilang, seyogianya kita memperjuangkan agar Khilafah kembali tegak.

Dengan tegaknya Khilafah, kerugian akan berubah menjadi kemaslahatan. Seperti ketika Allah Swt. memenangkan dakwah Rasul di Madinah Al-Munawarah.

Insyaallah, atas izin-Nya, Allah Swt. akan memberi pertolongannya kembali kepada umat muslim untuk memenangkan pertarungan. Mengembalikan Kekhilafahan yang sesuai dengan minhaj kenabian. [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah