Peran Politik Muslimah dalam Mewujudkan Peradaban Cemerlang


Penulis: Najmah Saiidah | #100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, FOKUS — Sebagai din yang menyeluruh dan purna, Islam memiliki pandangan khas dan berbeda secara diametral dengan pandangan demokrasi dalam melihat dan menyelesaikan persoalan perempuan, termasuk dalam memandang bagaimana hakikat politik dan kiprah politik perempuan di  masyarakat.

Hal ini terkait pandangan mendasar Islam tentang keberadaan laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan masyarakat.

Mengenai peran politik, Islam memandang keberadaan perempuan sebagai bagian dari masyarakat menjadikan mereka juga memiliki kewajiban yang sama untuk mewujudkan kesadaran politik pada diri mereka dan masyarakat secara umum.

Hanya saja harus diluruskan, pengertian politik dalam konsep Islam tidak terbatasi pada masalah kekuasaan dan legislasi saja, melainkan meliputi pemeliharaan seluruh urusan umat di dalam negeri maupun luar negeri, baik menyangkut aspek negara maupun umat.

Dalam hal ini, negara bertindak secara langsung mengatur dan memelihara urusan umat, sedangkan umat bertindak sebagai pengawas dan pengoreksi pelaksanaan pengaturan tadi oleh negara.

Ketika kaum muslimin berupaya memfungsikan segenap potensi insaniah-nya untuk menyelesaikan permasalahan umat, pada dasarnya dia sudah beraktivitas politik.

Berpolitik Adalah Kewajiban

Syekh Abdul Qadim Zallum dalam bukunya Al-Afkâr as-siyasiy mendefinisikan bahwa politik atau as-siyâsah adalah mengatur urusan umat, dengan negara sebagai institusi yang mengatur urusan tersebut secara praktis, sedangkan umat mengoreksi—melakukan muhâsabah terhadap—pemerintah dalam melakukan tugasnya.

Definisi politik sebagai pemeliharaan urusan umat (ri’âyah syu’ûn al-ummah) ini sesungguhnya dapat diambil dari hadis-hadis yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban untuk mengoreksinya, serta pentingnya mengurus kepentingan kaum muslim.

Rasulullah Saw., sebagaimana dituturkan Ma’qil bin Yasar, pernah bersabda,

“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, sementara dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), tidak akan mencium bau surga (HR Bukhari). Siapa saja bangun di pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, ia tidak termasuk golongan mereka.” (HR Hakim dan Khatib).

Dari pengertian politik tersebut, jelaslah bahwa aktivitas politik tidak hanya dibebankan kepada laki-laki, karena perempuan pun merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat secara umum.

Apalagi jika kita memperhatikan nas-nas berikut ini:

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebaikan (Islam); memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104).

Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang tidak memperhatikan kepentingan kaum muslim, berarti ia bukanlah termasuk di antara mereka. Siapa saja yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku pemberi nasihat bagi Allah dan Rasul-Nya, bagi kitab-Nya, bagi pemimpinnya, dan bagi umumnya kaum muslim, berarti ia bukanlah termasuk di antara mereka.” (HR ath-Thabrani).

Baca juga:  Islam Satukan Keberagaman

Nas-nas tersebut menjelaskan bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kaum muslim, baik laki-laki maupun perempuan untuk memperhatikan urusan umatnya, termasuk memperjuangkan agar upaya pemeliharaan urusan umat terlaksana.

Dengan demikian, politik merupakan bagian yang inheren di dalam ajaran Islam. Upaya pemisahannya  merupakan upaya sekularisasi Islam yang tidak saja akan menjauhkan umat dari Islam, tetapi  akan menjatuhkan mereka pada kehinaan.

Di sisi lain, kata “man” dan “ummah” menunjukkan perintah tersebut berlaku umum bagi laki-laki maupun perempuan.

Hanya saja, untuk merealisasikan kewajibannya berkiprah dalam aktivitas politik, ada beberapa aturan yang harus diperhatikan seorang muslimah, di antaranya:

Pertama, harus disadari bahwa terjunnya mereka ke kancah politik semata-mata untuk melaksanakan perintah dari Allah Swt..

Kedua, Allah telah menetapkan bentuk-bentuk aktivitas politik yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan seorang muslimah, di antaranya perempuan tidak diperkenankan untuk secara langsung terjun dalam aktivitas kekuasaan.

Peran Politik Muslimah Dalam Membangun Peradaban Islam

Sungguh, Islam telah memberikan posisi yang luar biasa kepada perempuan, di satu sisi ia sebagai bagian dari keluarga dan di sisi lainnya ia adalah bagian dari masyarakat.

Di dalam keluarga, ia adalah istri dan ibu, tugas ini merupakan amanah utama dan mulia bagi seorang muslimah.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR Bukhari Muslim).

Jika amanah ini terlaksana dengan baik, akan lahir anak-anak saleh salihah, generasi Rabbani penerus peradaban Islam.

Sulit dibayangkan anak akan tumbuh menjadi generasi Rabbani tanpa sentuhan pendidikan Islam yang didapatkannya dalam keluarga, terutama pengasuhan dan pendidikan yang diberikan ibu.

Ibulah yang pertama kali berinteraksi dengan anak, ia yang akan menghantarkannya menjadi insan sempurna, manusia balig yang siap mengemban taklif hukum sebagai hamba Allah sebagaimana kedua orang tuanya.

Dalam konsep membangun peradaban, fase ini merupakan masa yang sangat penting. Baik buruknya masa depan anak ditentukan pendidikan yang diberikan ayah dan ibunya.

Di sinilah peran strategis dan politis seorang muslimah, ia sadar peran ibu merupakan amanah terbesar yang diberikan Allah Swt. yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, mengemban amanah mulia demi keberlangsungan hidup manusia dalam naungan institusi Khilafah yang menerapkan Islam kafah.

Demikian halnya, sebagai bagian dari masyarakat, seorang muslimah pun mempunyai peran strategis.  Ia memiliki andil besar untuk melakukan pencerdasan kepada kaumnya.

Baca juga:  [Kaffah] Nestapa Dunia Tanpa Khilafah

Semangat membangun peradaban Islam yang sudah terhunjam dalam jiwanya tidak akan menjadikan dirinya berpangku tangan membiarkan umat berada pada sistem yang rusak, jauh dari keberkahan.

Sebaliknya, ia akan terdorong untuk bersegera terlibat aktif dalam dakwah, menyeru sesamanya untuk meyakini kebenaran Islam, dan siap menaati seluruh konsekuensi keimanan tersebut berupa ketaatan sempurna pada syariat Islam.

Kesibukan dalam menunaikan kewajiban di ranah domestik sebagai istri dan ibu tidak akan menjadi alasan yang menghalanginya untuk optimal di medan dakwah.

Sebaliknya, dia akan mengerahkan segenap upaya, sehingga mampu menyinergikan semua perannya secara sempurna dengan tidak mengabaikan salah satunya.

Pemahaman akan kewajiban bergabung dalam sebuah jemaah dakwah akan mengarahkannya untuk serius dan sungguh-sungguh mencari kelompok mana yang layak memimpin perjuangannya.

Manakala ilmu telah membimbingnya menemukan kelompok yang dimaksud, dia pun tidak akan menunda untuk menjatuhkan pilihan menjadi salah satu anggota jemaah dakwah tersebut.

Pilihan berjemaah bukan semata karena sulit dan beratnya dakwah sendirian, namun yang utama adalah untuk memenuhi perintah Allah Swt..

Bersama jemaah dakwah inilah, seorang muslimah akan merealisasikan visi membangun peradaban cemerlang, berupa pembinaan yang dilakukan demi lahirnya kader-kader dakwah mumpuni.

Selanjutnya, bersama-sama dengan kader-kader tepercaya ini, ia akan terjun ke tengah masyarakat guna membangun opini umum terkait kewajiban penerapan Islam kafah di tengah kehidupan.

Melalui aktivitas-aktivitas dakwah ini, dengan izin Allah Swt. akan tegak syariat kafah di muka bumi ini dalam naungan Khilafah.

Berkaca pada Shahabiyah

Sejak Rasulullah Saw. diutus menyebarluaskan risalah Islam, para muslimah generasi awal telah terlibat secara aktif dalam pergerakan dakwah bersama kaum muslimin lainnya untuk melakukan transformasi sosial, mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam.

Mereka bahkan secara bersama merasakan pahit getirnya mengemban misi dakwah; melakukan perang pemikiran dan perjuangan politik di tengah-tengah masyarakat, hingga atas pertolongan Allah akhirnya berhasil membangun masyarakat Islam yang agung di Madinah, yakni masyarakat yang tegak di atas landasan akidah dan hukum-hukum Islam.

Demikian halnya di masa Khulafaur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya, peran muslimah dalam kancah kehidupan—termasuk dalam percaturan politik—tercatat demikian besar, baik dalam aktivitas amar makruf nahi mungkar, muhasabah (koreksi) terhadap penguasa, bahkan dalam aktivitas jihad.

Istimewanya, pada saat yang sama, mereka pun mampu melaksanakan peran utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengelola rumah suaminya), mereka  berhasil mencetak generasi terbaik–generasi mujahid dan mujtahid—yang mampu membangun peradaban Islam yang tinggi dan cemerlang, yang mengalahkan peradaban-peradaban lainnya di dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Baca juga:  Khilafah Pasti Kembali Tegak

Generasi demikian lahir dari ibu-ibu yang paham Islam, yang mengajarkan Islam kafah kepada anak-anaknya, mengajarkan Islam sebagai ideologi yang lahir darinya berbagai aturan Islam yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Tak heran jika umat Islam pada rentang tersebut betul-betul bisa tampil sebagai khairu ummah, sebaik-baik umat, sesuai dengan janji Allah Swt.,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110).

Di masa Rasulullah Saw., para shahabiyah melakukan aktivitas politik dan perjuangan politik tanpa meninggalkan peran strategis dan tugas utamanya sebagai ibu dan pengelola rumah suaminya.

Mereka berjuang bersama-sama Rasulullah saw. dan Sahabat lainnya tanpa memisahkan barisan mereka dari barisan Rasul dan para Sahabatnya.

Mereka berada dalam perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini serta mendukung perjuangan beliau bersama suami dan anak-anak mereka.

Dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu.

Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik juga publik sekaligus. Ia adalah penyangga peradaban mulia.

Sejarah mencatat nama-nama besar semisal Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra., Fathimah Az-Zahra ra., Aisyah binti Abubakar ra., Sumayyah ra., Fathimah binti al-Khaththab ra., Ummu Jamil binti al-Khaththab ra., Ummu Syarik ra., dan lain-lain, yang semenjak bersentuhan dengan Islam keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan dan ketinggian peradaban Islam.

Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam, membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan, mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam (yang direfleksikan berupa ketaatan kepada risalah yang dibawanya).

Mereka senantiasa bersabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati yang dijamin masuk surga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agama-Nya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fi sabilillah demi meraih mardhatillah dan jannah-Nya.

Kini, sudah saatnya kaum muslimah menyadari mereka adalah penyangga dan pembangun peradaban Islam yang mulia, memiliki tanggung jawab yang sama dengan laki-laki untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat menuju peradaban mulia, dengan berjuang menegakkan syariat Islam kafah. [MNews/Gz]


Klik >> #100TahunTanpaKhilafah