Serangan Konvensi Perempuan Internasional, Tumbal Mahal 100 Tahun Tanpa Khilafah


Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. | #100TahunTanpaKhilafah


MuslimahNews.com, OPINI — Perempuan dan keluarga masih selalu menjadi senjata paten Barat untuk menyerang dunia Islam. Tidak heran, berbagai konvensi internasional pun menjadi agenda tetap Barat yang dipropagandakan di negeri-negeri muslim. Tak terkecuali Indonesia, sebagai salah satu negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

CEDAW dan ICPD

Berkelindan dengan hal itu, kita mengenal CEDAW atau ICEDAW (International Convention on Elimination of All Forms of Discrimination Against Women).

Ini adalah sebuah kesepakatan hak asasi internasional yang secara khusus mengatur hak-hak perempuan, keluarga, dan populasi. Konvensi ini mendefinisikan prinsip-prinsip tentang hak-hak manusia, norma-norma, dan standar-standar kelakuan.

Indonesia adalah salah satu negara yang ikut meratifikasi CEDAW sejak 24 Juli 1984 melalui UU No. 7 Tahun 1984. Artinya, Indonesia wajib mengadopsi keseluruhan pasal di dalam dokumen CEDAW untuk diimplementasikan ke dalam hukum nasional.

Tak hanya CEDAW, kita juga mengenal ICPD (International Conference for Population & Development) yang dilaksanakan di Kairo pada 1994. Saat itu, terdapat kurang lebih 179 negara hadir dalam ICPD untuk membahas aksi untuk populasi dan pembangunan.

Dikutip dalam laman jurnalperempuan.org, program aksi yang dicanangkan ICPD adalah kesehatan reproduksi, kesehatan, dan hak reproduksi dan seksual. Aksi ini kemudian mengubah arah paradigma pembangunan yang mempromosikan sexual and reproductive health and rights (SRHR)

SRHR sendiri dianggap sebagai jantung bagi peta jalan pembangunan demografi. Agendanya meliputi kesetaraan gender, hak asasi manusia, perubahan iklim, dinamika populasi, konflik, bencana alam, ketahanan pangan dan gizi, serta akses pada sumber daya alam.

Baca juga:  Seabad Tanpa Khilafah dan Kembalinya Generasi Umat Terbaik

Namun, dalam ICPD+15 monitoring (tahun 2009) diungkapkan Indonesia saat itu termasuk dalam 12 negara Asia yang belum menunjukkan kemajuan dalam perihal indeks SRHR.

Menurut pernyataan di laman tersebut, indeks SRHR di Indonesia menunjukkan rata-rata rendah dari 0,116 pada tahun 2007-2015.

Masalahnya, di antara target final dari isu SRHR ini, tak lain adalah hak aborsi. Padahal, maraknya aborsi dipastikan sebagai ekses adanya pergaulan yang diwarnai seks bebas. Tentu saja buah dari andil besar sekularisasi generasi. Bayangkan jika ini disebarluaskan ke dunia Islam! Na’udzu billaahi min dzalik.

Benarkah Indonesia Negara Sekuler?

Dikutip dari tirto.id (24/02/2021), sekularisme lahir di Prancis sebagai wujud kejengkelan rakyat terhadap institusi gereja. Tersebab itu, sejak momen Revolusi Prancis (1789-1799), para filsuf Prancis tengah memikirkan suatu pandangan mengenai dunia sekuler demi melepaskan diri dari kebijakan gereja.

Sejak saat itu, sekularisme menjadi arus utama dalam berbagai diskursus mengenai kebudayaan modern, baik soal politik, norma, maupun ilmu pengetahuan. Ide mereka pun boleh dikata “abadi” hingga awal abad ke-20, bahkan kian masif di abad 21.

Arus sekularisme ini pun mengalir deras sampai ke negeri-negeri muslim, tepat pada saat bangsa-bangsa Eropa melangsungkan praktik kolonialisme.

Pada konteks ini, contoh paling benderang dalam penerimaan sekularisme tentu saja Turki sejak era Ataturk. Ketika memasuki kondisi pascamasa kolonial, negeri-negeri muslim berhadapan dengan ambivalensi dalam menyikapi sekularisme, yakni menolak atau menerimanya. Tak terkecuali Indonesia, juga menghadapi persoalan ini.

Baca juga:  Hipokrisi AS atas Pemimpin Perempuan

Sekularisasi, Koridor Keji Penyesatan Perempuan dan Keluarga

Keruntuhan Khilafah pada 1924 di Turki adalah mimpi buruk bagi dunia Islam. Ketiadaan Khilafah telah menumbalkan berbagai lini kehidupan kaum muslimin.

Sekularisasi di dunia Islam adalah koridor keji yang diabadikan Barat untuk membuat umat Islam tersesat, sampai-sampai tidak mengenal identitas utama mereka sebagai makhluk yang wajib terikat dengan aturan Allah Swt., Zat Yang Maha Pencipta.

Dalam perkara pemberdayaan perempuan dan keluarga, sekularisasi sungguh tak terhindarkan. Keduanya (perempuan dan keluarga), adalah aspek yang seolah mati-matian dibela sekularisme.

Tapi ironisnya, ini justru tak ubahnya dalam rangka menjauhkan problem besar kaum perempuan dan keluarga dari Islam sebagai solusi sahihnya.

Tak ayal, problem ini pun tak kunjung usai. Kendati Islam—yang telah dicitraburukkan karakternya sehingga dianggap kuno oleh Barat—sudah mereka runtuhkan institusinya sejak seabad lalu.

Bagaimanapun, Barat mengetahui peran penting keluarga muslim dalam membangun anak-anak dan mempersiapkan mereka menjadi generasi pembangun peradaban. Karena itu, Barat merencanakan secara sungguh-sungguh untuk menghancurkan umat ini sejak dari akar Islamnya.

Tak hanya itu, Barat pun fokus pada perempuan (yang notabene pihak yang bertanggung jawab mendidik generasi). Barat juga berusaha merusak konsep Islam akan peran seorang ibu dan membuatnya mengabaikan peran terpenting yang dipilih Allah untuknya, yakni membesarkan dan mendidik anak-anak.

Barat bahkan telah secara rapi dan simultan melaksanakan berbagai konferensi internasional demi menyebarkan ide-ide liberalnya yang rusak dan merusak umat Islam.

Baca juga:  Toleransi dan Intoleransi dalam Perspektif Islam

Allah Swt. berfirman,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah [02]: 120).

Ini harus kita sadari!

Mengutip pernyataan Dr. Nazreen Nawaz dalam kampanye global bertajuk “Keluarga: Tantangan dan Solusi Islami” (2018), struktur keluarga yang kuat dan terpadu merupakan jantung masyarakat yang kuat, stabil, dan sukses.

Hal ini sangat penting dalam menyediakan dukungan fisik, emosional, material, dan kesejahteraan bagi semua anggota keluarga; serta untuk memastikan perawatan yang efektif dan pengasuhan yang benar bagi anak-anak.

Inilah yang harus kita wujudkan!

Khatimah

Demikianlah tumbal mahal 100 tahun umat tanpa naungan Khilafah. Setelah Khilafah Utsmaniyah dihapuskan, dunia Islam terus mengalami kemunduran hingga hari ini.

Benarlah apa yang dinyatakan Imam Ahmad ra. dalam riwayat Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan al-Hamshi, “(Akan terjadi) fitnah (kekacauan) jika tidak ada seorang imam (khalifah) yang mengurusi urusan manusia.” (Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra’, Al-Ahkamus Sulthaniyyah, hlm. 23).

Karena itulah, para ulama menyebut Khilafah sebagai taj al-furudh (mahkota kewajiban). Dengan Khilafah, semua kewajiban di dalam agama Islam akan tertunaikan. Tanpa Khilafah, syariat Islam tidak bisa diterapkan secara kafah. Tanpa Khilafah, terhenti pula penyebaran risalah Islam ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad fi sabilillah. [MNews/Gz]

Klik >> #100TahunTanpaKhilafah