[News] Moderasi Beragama Kebutuhan Dunia Global?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Moderasi beragama akan dikenalkan ke dunia global oleh Kementerian Agama (Kemenag) yang bersinergi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Rencana ini terungkap setelah terjadi perbincangan antara Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag Nizar dengan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (Dirjen IDP) Kemenlu Teuku Faizasyah, di kantor Kementerian Agama, Jakarta, 22/2/2021.

“Moderasi beragama saat ini bukan hanya menjadi kebutuhan di dalam negeri saja, tetapi juga dunia global,” tukas Sekjen Kemenag Nizar, dilansir dari kemenag.go.id.

Kebutuhan memasyarakatkan moderasi beragama ini, jelas Nizar, tak lepas dari peran diplomatik yang selama ini dilakukan Kemenlu.

“Kemenag memang leading sector moderasi beragama. Namun, mengenalkan moderasi beragama ke dunia global adalah peran diplomatik, dan Kemenlu yang menjadi leading sector,” ucapnya.

Ia pun berharap kerja sama ini juga dapat menjangkau pengembangan pendidikan moderasi beragama di Indonesia. Salah satunya melalui Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang menargetkan 25 persen mahasiswanya dari luar negeri.

“Mungkin Kemenlu bisa membantu untuk rekrutmen mahasiswa ini,” harapnya.

Dirjen IDP Kemenlu Teuku Faizasyah, berpandangan sama. Teukut yang juga jubir Kemenlu RI ini berharap Kemenag dapat menyertai Kemenlu dalam menyiapkan konten promosi moderasi beragama di tingkat global, seperti pembuatan film, video, atau publikasi lain yang kekinian.

Baca juga:  [Tanya Jawab] Moderasi Islam Masif, Dakwah Islam Jangan Pasif (Bagian 1/2)

“Dapat kita promosikan juga ke luar negeri,” tutur Teuku yang juga juru bicara Kemenlu RI ini.

Selama ini, ungkapnya, Kemenlu dan Kemenag telah banyak bekerja sama terkait penguatan kerukunan umat beragama. Dua kementerian ini sudah bekerja sama dalam program dialog lintas agama. Hingga saat ini, keduanya telah melibatkan kerja sama 33 negara.

Menurut Teuku, pembaruan format dialog lintas agama juga perlu dipertimbangkan sesuai kebutuhan umat beragama di Indonesia dan internasional. Kemenlu siap memfasilitasi untuk menghadirkan tokoh-tokoh agama dunia dalam dialog-dialog lintas agama yang berlangsung di Indonesia.

“Terdekat, kami juga siap untuk mendukung “Pekan Moderasi Beragama” yang akan digelar Kemenag. Kami akan membantu untuk berkomunikasi dengan duta-duta besar yang diharapkan dapat berperan serta dalam Pekan Moderasi Beragama tersebut,” katanya.

Moderasi Beragama, akan Menghancurkan Semesta

Hal ini mendapat kritik dari mubaligah nasional, Ustazah Wiwing Noeraini, S.Si. yang menegaskan moderasi Islam justru akan menghancurkan alam semesta.

Moderasi Islam atau disebut wasathiyatul Islam, sekalipun sebenarnya berbeda maknanya dengan Islam moderat (Islam wasathiyah), tetapi telanjur dimaknai sama, yakni Islam moderat.

“(Maksudnya adalah) Islam yang mengambil sikap kompromistis dan jalan tengah, Islam yang berkompromi dengan selain Islam, syariat Islam dikompromikan dengan syariat selain Islam,” kritiknya.

Baca juga:  "Dakwah Ramah" Islam Moderat?

Ustazah Wiwing menjelaskan, pada akhirnya yang dihasilkan jelas bukan Islam sebenarnya, melainkan Islam setengah-setengah. Islam yang dipilih untuk mewujudkan sikap toleransi antarbudaya dan/atau antaragama di daerah multikultural.

“Inilah wajah asli Islam moderat, yaitu Islam yang mengakomodasi pemikiran di luar Islam (asing), sehingga semua pemikiran tersebut bisa diterima dan dijalankan bersamaan dengan menjalankan ajaran Islam,” cetusnya.

Lebih jauh, lanjutnya, Islam moderat juga berupaya mengompromikan Islam dengan produk pemikiran Barat yang kufur, seperti sistem demokrasi yang kemudian diistilahkan menjadi Demokrasi Islam.

“Padahal, jelas keduanya bertentangan secara diametral. Demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat hukum, sementara Islam menjadikan Allah sebagai Pembuat hukum,” tegasnya.

Istilah Islam moderat ini, jelasnya, tidak pernah dikenal dalam khazanah pemikiran Islam ketika Khilafah Islam masih tegak dan syariat Islam masih diterapkan secara kafah. Islam seperti ini (moderat, ed.) ia sebut justru telah merusak akidah umat dan menghancurkan Islam dan syariatnya.

“Sesungguhnya, dunia Baratlah yang awalnya memproduksi pemikiran moderasi atau konsep jalan tengah ini, yang kemudian memaksakan kaum muslimin agar ikut mengadopsinya,” jelasnya.

Sampai-sampai, dicari istilah-istilah dalam Al-Qur’an hingga “ditemukan” di surah al-Baqarah ayat 143 mengenai “ummatan wasatha” (umat pertengahan)–yang dianggap pas dengan konsep moderasi–. Padahal, ujarnya, tafsir dari ayat ini tidak menunjukkan Islam kompromistis atau Islam jalan tengah.

Baca juga:  Bunuh Diri Politik di Balik Pengarusan Istilah Berbau Moderasi Islam

“Mayoritas para mufasir menafsirkan kata “wasath” di ayat tersebut dengan “al ‘adl” (adil) atau “al khiyar” (terbaik dan pilihan),” ia meluruskan.

Sehingga, sikap wasath tidak lain adalah sikap adil, yaitu menempatkan segala sesuatu sesuai posisi dan ketentuannya menurut syariat. Sikap wasath juga mencakup sikap memilih yang benar dan sikap melaksanakan serta terikat dengan syariat Islam.

“Bukan sikap moderat, kompromistis, dan selalu mengedepankan jalan tengah,” tutupnya. [MNews/Ruh-Gz]