[Editorial] Islam Moderat, Rekayasa Barat

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Untuk kesekian kalinya, Wapres Ma’ruf Amin menegaskan, Islam arus utama di Indonesia tergolong moderat. Namun kali ini, ia menyebutkan, masih ada sejumlah kecil kelompok yang “harus diluruskan”.

“Kita di Indonesia, mainstream kita yaitu Islam moderat. Jadi ada satu-dua kelompok yang memang harus diluruskan, saya kira itu tidak mengubah dan tidak boleh menjadikan stigma tentang Islam. Islam tetap rahmatan lil alamin,” kata Ma’ruf, Selasa 16/2/2021.

Wapres juga menyatakan bahwa di Indonesia, Islam yang dikembangkan adalah wasathiyah, atau Islam moderat, bukan Islam yang radikal. Kelompok radikal adalah pihak yang keluar dari garis Islam yang wasathiyah.


PERNYATAAN Wapres ini sebetulnya bukan hal baru. Islam moderat atau Islam wasathi sudah lama diaruskan. Targetnya jelas, yaitu membendung gagasan Islam radikal, yang sejatinya merujuk pada gagasan Islam kafah dan khilafah.

Tak dimungkiri, beberapa dekade terakhir ini, wacana penegakan syariat Islam kafah dan khilafah memang terus bergulir di tengah umat. Bahkan nyaris menjadi opini umum yang dilandasi kesadaran umum tentang hakikat ajaran Islam sebagai solusi multi krisis yang bermunculan.

Kondisi inilah yang akhirnya memunculkan friksi. Mengingat gagasan Islam kaffah dan khilafah alias Islam radikal ini akhirnya turut mengoreksi sistem yang ada. Yakni sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal di berbagai aspeknya. Mulai dari sistem ekonomi, politik, sosial termasuk pendidikan dan kesehatan, hukum, hankam, dan lain-lain.

Bahkan tak hanya mengoreksi, menguatnya gagasan ini ternyata diikuti seruan mengganti sistem secara total. Maklum, asas sistem ini memang bertentangan dengan Islam. Peradaban yang dilahirkannya pun begitu sarat dengan keburukan.

Merebaknya kedzaliman dan ketidakadilan, kemiskinan struktural, demoralisasi, dehumanisasi, kerusakan lingkungan, dan bahkan menyebarluasnya wabah saat ini, jelas-jelas tak bisa dilepaskan dari penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal. Karena sistem ini meniscayakan dominasi kepentingan kelompok pemodal yang berkolaborasi dengan kekuasaan.

Baca juga:  Moderasi Islam Masif, Dakwah Islam Jangan Pasif

Tak heran jika negara penganut sistem ini kerap mengeluarkan kebijakan yang anti rakyat dan bahkan anti Islam. Sebagaimana di Indonesia yang diakui sudah lama dikuasai kekuatan korporatokrasi atau didominasi kaum oligarki. Salah satu yang fenomenal adalah disahkannya Undang-undang Ciptaker yang jelas-jelas pro kepentingan pemilik modal.

Sementara terkait pencegahan radikalisme, negara juga telah mengeluarkan berbagai peraturan. Seperti UU No. 25 tahun 2018 tentang pencegahan tindak pidana terorisme, UU ITE, Perpres Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE), maupun aturan lain yang dikeluarkan kementerian untuk mempersempit ruang gerak kelompok yang dicap sebagai radikalis.

Bahkan program-program deradikalisasi dan moderasi Islam pun sudah lama masuk dalam sektor pendidikan di berbagai level. Termasuk dengan merombak kurikulum madrasah dan pesantren hingga steril dari ajaran-ajaran yang dipandang mencerminkan pemikiran radikal. Di antaranya soal jihad dan khilafah.


MASIFNYA pengarusan ide Islam moderat atau wasathiyah di negeri ini sebetulnya tak lepas dari agenda negara-negara adidaya. Mereka memang tengah berupaya mempertahankan hegemoninya atas dunia.

Mereka sangat berkepentingan agar sistem kapitalis neoliberal tetap bercokol di negeri-negeri Islam. Lantaran dengan sistem ini praktik penjajahan dan perampokan sumber-sumber kekayaan alam di berbagai negeri ini bisa berjalan mulus, dan bahkan legal.

Maka tatkala muncul ghirah (spirit) kebangkitan Islam, mereka palingkan umat dari Islam dengan karakternya sebagai sebuah ideologi global. Hingga berbagai rekayasa, bahkan penyesatan pun disusun sedemikian rupa agar wajah Islam ideologi tampak buruk di mata dunia dan pemeluknya.

Sudah bukan rahasia bahwa negara kapitalis Amerika ditengarai merekayasa peristiwa 9/11 tahun 2001. Lalu menjadikannya sebagai momentum untuk menggelar proyek Global War On Terrorism yang memonsterisasi Islam ideologi, terutama ajaran jihad dan khilafiah.

Bersamaan dengan itu, lahir pula proyek-proyek liberalisasi agama yang didanai foundation (lembaga donor) milik para kapitalis mereka. Lalu ketika umat mampu membaca bahayanya, mereka pun bersegera membuat proyek baru yang lebih halus, yang bernama moderasi dan deradikalisasi beragama.

Baca juga:  Sekularisasi Atas Nama Deradikalisasi dan Moderasi

Alhasil proyek baru ini hanyalah sequel (kelanjutan) dari proyek-proyek jahat sebelumnya. Namun proyek ini cukup berhasil memukau sebagian kalangan lantaran Islam dinarasikan dengan istilah Islam ramah dan Islam jalan tengah. Tak condong ke kiri atau liberal, tak pula condong ke kanan atau radikal.

Terlebih narasi ini diperkuat dengan nas-nas syariat yang maknanya diinterpretasi sedemikian rupa. Lalu didakwahkan ulama-ulama su’u (jahat) yang diberi panggung oleh media-media mereka. Hingga tampaklah Islam jalan tengah ini seolah Islam yang sesungguhnya.

Dengan proyek ini, kita dipaksa menilai dan mendefinisikan Islam dengan cara pandang Barat. Yakni Islam yang kompromistis dengan nilai-nilai mereka, tidak menyerang mereka, toleran terhadap sistem hidup mereka, dan siap menanggalkan syariat atas nama modernitas, kesetaraan, dan perdamaian dunia.

Sejatinya, Barat telah menggunakan Islam moderat sebagai alat pembunuh yang mematikan. Menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya serta dari identitas hakikinya sebagai umat terbaik, umat pemimpin.

Bahkan menjauhkan dari makna umatan wasathan yang sesungguhnya, yakni umat yang berpegang teguh pada kebenaran, tak berkompromi dengan kebatilan, dan kelak akan menjadi saksi atas umat-umat lainnya tentang kebenaran itu.

Allah Swt. berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. “ (QS Al-Baqarah : 143)


SUNGGUH, menerima Islam moderat sebagai arus utama dan menyerang Islam ideologi hanya demi menerima pujian musuhnya, jelas-jelas merupakan kejahilan. Apa yang mereka lakukan sama dengan bunuh diri politik yang akan menjauhkan umat ini dari kebangkitan hakiki dan melanggengkan posisinya sebagai objek penjajahan.

Baca juga:  [News] Moderasi Beragama Kebutuhan Dunia Global?

Umat semestinya menyadari peta pertarungan ideologi ini akan kian masif terjadi dengan berbagai cara strategi. Musuh tak sungkan-sungkan menggunakan tangan-tangan umat ini sebagai alat atau senjata untuk menyerang agama dan para pejuangnya yang sangat mereka benci.

Mereka sadar betul bahwa alarm kematian peradaban sekuler kapitalis neolib yang batil sedang terus berbunyi, yakni dengan lahirnya sekelompok umat yang tercerahkan Islam ideologis dan rela mengorbankan diri demi membela kemuliaan agama dan umat yang sudah lama terjajah ini.

Maka, tak pantas jika umat—apalagi penguasanya—menyambut manis berbagai proyek makar musuh, lalu memilih posisi sebagai penghalang tegaknya Islam dan termakan fitnah namimah (adu domba) yang membahayakan ukhuwah Islam.

Sungguh, Allah Ta’ala telah meminta agar umat ini berpegang teguh pada tali-Nya. Hanya pada tali-Nya. Seraya memberi kabar gembira bahwa kemuliaan umat ini akan segera tiba; saat umat berjuang menegakkan hukum-hukum-Nya dalam sebuah institusi negara yang akan memuliakan kedudukan mereka. Kehadirannya justru sangat ditakuti negara-negara adidaya.

Cukuplah ayat Allah ini sebagai pengingat bagi kaum beriman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103). [MNews/SNA]