Dalam Khilafah, Hewan pun Dilindungi

MusimahNews.com, TARIKH KHILAFAH — Khalifah Umar bin Khaththab dikenal berlaku baik terhadap makhluk ciptaan Allah. Tidak hanya dengan manusia, tetapi juga dengan hewan.

Dikisahkan, di suatu siang musim panas, matahari terasa membakar kulit. Saat itu ada delegasi dari Irak datang mengunjungi Umar bin Khaththab.

Di antara tamu-tamu itu adalah Al Ahnaf bin Qais. Waktu itu, Umar melilitkan sorbannya di atas kepala seraya menyejukkan tubuh unta hasil sedekah yang terluka.

Umar berkata, “Tanggalkanlah pakaianmu! Alangkah eloknya bila engkau membantu Amirul Mukminin merawat unta ini. Ketahuilah, ia salah satu unta sedekah. Dalam tubuhnya mengandung hak anak yatim dan para janda.”

Kemudian, seorang laki-laki dari mereka berkata, “Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau tidak menyuruh budak atau hamba sahaya untuk merawat unta sedekah? Ini akan memudahkanmu.”

Umar bin Khaththab berkata, “Budak mana yang lebih hina statusnya dari saya dan Al-Ahnaf? Ketahuilah! Setiap orang yang diberi amanah mengurus kaum muslimin, harus berlaku seperti seorang budak kepada tuannya, memberi nasihat dan menjalankan amanah.”

Dalam kisah lainnya, Imam Syafi’i meriwayatkan dari Nafi bin Abdul Harits bahwa suatu ketika Umar bin Khaththab mengunjungi Kota Makkah lalu dia masuk ke balai pertemuan.

Waktu itu bertepatan dengan hari Jumat. Umar ingin bergegas ke masjid dan memotong jalan melewati balai itu.

Umar melintas sambil mengibaskan sorban ke arah orang yang sedang berdiri di tempat itu. Dan ternyata mengenai burung merpati. Saat merpati itu mencoba terbang, tiba-tiba muncul ular lalu mematuknya hingga tewas.

Ketika salat Jumat telah ditunaikan, Nafi dan Utsman bin Affan menemui Umar. Umar lalu berkata, “Segera kalian adili saya. Hari ini saya sudah melakukan suatu kesalahan besar. Tadi saya lewat di balai pertemuan untuk memotong jalan supaya lebih cepat sampai di masjid. Kemudian saya mengibaskan sorban ke arah yang berdiri. Tiba-tiba ia mengenai seekor burung merpati. Saya takut merpati itu celaka. Lalu saya coba untuk menerbangkannya. Tetapi tidak berhasil, justru ada ular dan mematuknya hingga tewas. Awalnya saya ingin menerbangkan burung itu di tempat yang lebih aman. Ternyata tempat yang saya pilih adalah tempat kematiannya.”

Nafi kemudian berkata kepada Utsman bin Affan, “Menurutku untuk masalah Amirul Mukminin ini, dia dikenakan denda membayar seekor domba putih.”

Utsman berkata, “Ya, saya juga berpendapat demikian.” Setelah itu, Umar bin Khaththab diperintahkan membayar denda itu.

Teladan lainnya, diriwayatkan sebuah kisah tentang Umar bin Khattab dari Hisyam bin Hubaisy. Dia bercerita suatu ketika melihat Umar bin Khaththab dalam perjalanan.

Di tengah perjalanan, Umar dan para sahabatnya ingin beristirahat. Mereka turun dari kendaraan (hewan tunggangan).

Umar pun ikut turun, lalu mengikat kudanya seperti sahabat-sahabat yang lain. Rombongan mereka tidak sendiri. Ternyata, ada kafilah lain dari suatu kaum yang juga sedang beristirahat.

Umar lalu menghampiri mereka. Dia melihat ada yang mengikat hewan tunggangannya begitu dekat dan membuat kuda itu tidak bebas bergerak. Umar terlihat marah dan wajahnya memerah.

Umar lalu bertanya, “Milik siapa hewan ini?”

Seorang laki-laki menjawab, “Milik saya!”

Umar kemudian berkata, “Buruk sekali perangaimu! Engkau sakiti hatinya, engkau pukul punggungnya, dan ketika dia mendapatkan rezeki (makan), engkau kumpulkan kedua tulang dari tulang belulangnya.”

Demikianlah keagungan Khilafah, tidak hanya membawa rahmat bagi manusia, tapi juga bagi makhluk lainnya. [MNews/Rgl]

Sumber: Republika.co.id