Serangan terhadap Kemuliaan Islam Makin Masif, Harus Dilawan!

Penulis: Najmah Saiidah | #100TahunTanpaKhilafah

MuslimahNews.com, FOKUS — Islam dengan seluruh aturannya adalah din yang sempurna, agama yang mulia yang mampu menjaga umatnya dari keburukan. Hal ini akan tampak ketika seluruh aturannya diterapkan dan ditegakkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan Khilafah.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, pemersatu seluruh warganya, baik muslim maupun nonmuslim, apa pun warna kulit, agama, ras, dan suku bangsanya.

Penerapan syariat Islam secara kafah dalam Khilafah akan mendatangkan rahmat, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, tanpa diskriminasi.

Rakyat di wilayah mana pun tidak merasa dianggap sebagai anak tiri karena urusannya diurusi negara dengan baik. Mereka merasakan keamanan dan ketenteraman, sehingga loyalitas diberikan penuh kepada negara, sekalipun warga negara nonmuslim.

Dalam urusan luar negeri, tampak jelas bagaimana Khilafah melakukan aktivitas dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia, hingga seluruh dunia melihat bagaimana cahaya Islam hadir di muka bumi.

Ditakuti para Pendengki

Daulah Khilafah muncul sebagai kekuatan yang luar biasa hingga menguasai 2/3 dunia, sebagai bangsa besar dan mulia. Khilafah menerapkan Islam secara kafah, baik untuk urusan dalam negeri maupun luar negeri.

Hal ini yang ditakuti musuh-musuh Islam sekarang. Mereka berusaha menjegal kebangkitan umat Islam di seluruh penjuru dunia dengan berbagai upaya yang sistematis.

Musuh-musuh Islam dan para pendengki Islam, baik negara-negara Barat maupun para antek-anteknya di negeri-negeri muslim, senantiasa melakukan permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka menyerang Islam dari segala sisi dengan berbagai cara, mulai dari cara halus hingga cara yang kasar.

Saat ini, propaganda dan jargon “radikalisme” sengaja mereka gaungkan. Definisinya sengaja dibuat multitafsir sehingga memungkinkan untuk menggebuk siapa saja, baik yang masuk dalam definisi tersebut maupun yang dianggap mengancam negara ala rezim yang berkuasa saat ini.

Setiap kelompok Islam yang kritis dan berseberangan dengan sepak terjang penguasa senantiasa dicap sebagai kelompok radikal. Ironisnya, stigma kelompok radikal itu disematkan hanya pada kelompok Islam saja, tidak berlaku bagi kelompok di luar Islam.

Hal ini sengaja mereka lakukan agar umat Islam membenci jalan Islam yang lurus. Tentu saja, hal ini akan semakin menjauhkan umat Islam.

Fakta berbicara

Merebaknya kebencian terhadap Islam di Prancis adalah buntut dari kasus pemenggalan Samuel Patty yang melakukan penghinaan kepada Rasulullah Saw., kebencian ini meluas hingga ke Eropa.

Baca juga:  Macron Luncurkan Undang-Undang yang Menargetkan Muslim

Dua muslimah ditikam berulang kali di bawah menara Eiffel, bahkan pelaku menyebut dua muslimah itu dengan sebutan “orang Arab kotor”. (republika co.id).

Tidak hanya di Prancis, sebuah masjid di Kota Hüfingen, Jerman menerima surat bernada kebencian terhadap Islam, “Islam bukan milik Jerman atau Eropa, dan kami akan menghapus Islam dan islamisme dari Jerman,” tulis surat tersebut (republika.co.id, 6/10/2020).

Respons bernada sama juga ditampakkan para pemimpin negara, salah satunya kanselir sayap kanan Austria, Sebastian Kurz. Ia menyerukan seluruh Uni Eropa untuk memerangi Islam politik. Ia mengatakan, ideologi Islam politik membahayakan kebebasan dan model kehidupan Eropa.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa,  Josep Borrell mengatakan, “Kita harus memerangi terorisme Islam bersama-sama.” Ia juga menulis, “gelombang terorisme” ini telah menargetkan fondasi masyarakat sekuler dan demokratis yang mayoritas diterapkan negara-negara Eropa.

Sementara, Presiden Prancis menganggap Islam adalah ancaman bagi sekularisme yang menjadi fondasi negara. Ia akan menyusun UU berisi pembatasan pendidikan bagi anak-anak muslim, larangan menghadiri sekolah berasrama yang menawarkan pendidikan Islam, dan melarang sekolah-sekolah negeri menerima atau mempertahankan siswi yang bersikeras untuk berhijab. (republika.co.id).

Di negeri ini pun tidak kalah santernya. Kebencian terhadap Islam yang diidap penguasa saat ini tampak jelas dari berbagai pernyataan, program, maupun kebijakan-kebijakan yang diambilnya.

Begitu dilantik sebagai menteri agama, Fachrul Razi langsung mewacanakan pelarangan hijab dan celana cingkrang, mencurigai aktivis Islam. Ketika pun posisi Menag berganti orang, justru semakin nyata ancaman terhadap ASN, termasuk ASN Kemenag yang akan diberhentikan bila terbukti terpapar “radikalisme”.

Tak ketinggalan persekusi terhadap para ulama dan ustaz yang semakin terang-terangan dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Yang terbaru, Presiden mengeluarkan Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE). Ini semua menunjukkan kebencian terhadap Islam semakin masif.

Upaya Sistematis Menyerang Din Islam yang Mulia

Jika kita mencermati dengan seksama, sesungguhnya musuh-musuh Islam melakukan berbagai macam aktivitas ini bukan tanpa perhitungan, justru dengan perencanaan yang sangat matang.

Mereka menyadari benar, jika umat Islam kembali kepada hukum-hukum Islam dan mampu menegakkan Khilafah di muka bumi ini, hal ini merupakan bencana yang sangat besar bagi mereka. Karenanya, mereka berupaya keras untuk membendungnya. Mereka tidak ingin melihat Islam bangkit kembali.

Mereka mulai menyerang ajaran dan hukum-hukum Islam, meragu-ragukan umat Islam akan kemuliaan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga:  Penaklukan dalam Islam Itu Dakwah Islam Rahmatan Lil 'Alamin, Bukan Penjajahan

Termasuk tentang Khilafah, dengan menyatakan Khilafah tidak cocok diterapkan di negeri yang plural, tidak sesuai kesepakatan, bahkan menilai kelompok yang menyeru Khilafah dan hendak menegakkan syariah kafah adalah kelompok radikal.

Sampai-sampai mereka menyerang dalil-dalil wajibnya Khilafah. Namun, ketika semua upaya ini gagal—karena memang jelas Khilafah adalah ajaran Islam—mereka mengambil cara lain, yaitu menjadikan ide Khilafah sebagai sasaran tembak kebencian terhadap Islam.

Untuk merealisasikan hal itu, Barat tidak bekerja sendirian, mereka meminjam tangan penguasa di negeri-negeri muslim—yang menjadi anteknya—termasuk di Indonesia.

Penguasa di negeri-negeri muslim ini senantiasa mengikuti arahan dari negara-negara Barat dalam menghadang kebangkitan Islam melalui proyek radikalisme tersebut.

Kebangkitan Islam dianggap sebagai ancaman bagi penguasa sekuler, yang senantiasa membuat penghalang untuk menggagalkan kebangkitan umat Islam.

Harus Dilawan!

Tentu saja situasi ini tidak boleh kita biarkan berlama-lama. Sudah saatnya kita sadar bahwa Islam adalah satu-satunya din mulia yang harus kita bela dan perjuangkan untuk kembali tegak di muka bumi ini.

Jangan sampai kita mundur dan takut hanya karena ancaman dari pihak-pihak yang jelas-jelas memusuhi Islam. Siapa lagi yang akan membela Islam kalau bukan kita?

Allah Swt. berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ ١٤

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai penolong-penolong Allah.” (QS ash-Shaf [61]: 14).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS Muhammad [47]: 7).

Imam Ar-Razi menjelaskan, makna “In tanshurulLah (jika kalian menolong Allah)” adalah menolong agama-Nya, memperjuangkan syariat-Nya, dan membantu para pejuang yang memperjuangkannya.

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini dengan ungkapan, “al-Jaza’ jinsu al-‘amal (balasan itu sesuai dengan jenis amal yang diberikan).” Artinya, ketika kita menolong Allah, Dia pasti akan menolong kita. Di sinilah peran kita.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Pertama: Membongkar semua rencana-rencana jahat musuh-musuh Islam, serta makar dan persekongkolannya dengan para penguasa sekuler negeri-negeri Islam, termasuk negeri ini.

Upaya ini ditujukan agar umat Islam mampu melihat dan menghindarkan diri dari kejahatan tersembunyi yang ada di balik makar dan persekongkolan tersebut.

Dengan cara seperti itu pula, hubungan rakyat dengan penguasa sekuler bisa diguncang dan diruntuhkan hingga rakyat tidak lagi memberikan loyalitasnya kepada para penguasa sekuler.

Baca juga:  Akhiri Islamofobia dengan Khilafah

Akhirnya, rakyat akan menyerahkan loyalitasnya kepada kelompok Islam yang benar-benar berjuang untuk menegakkan syariat Islam kafah dan berjuang bersamanya.

Kedua: Meningkatkan kesadaran politik umat Islam melalui pembinaan intensif.

Yang dimaksud dengan kesadaran politik di sini adalah kesadaran yang mendorong umat untuk memandang setiap persoalan dari sudut pandang akidah dan syariat Islam.

Kesadaran inilah yang akan menuntun kaum muslim untuk selalu waspada terhadap setiap upaya yang ditujukan untuk menyerang kemuliaan Islam dan menghancurkan eksistensinya. Kesadaran ini pula yang akan mendorong mereka untuk membela ajaran Islam dari musuh-musuhnya dan para pendengkinya.

Kesadaran politik ini hanya akan tumbuh jika di tengah-tengah umat yang di dalamnya terdapat pembinaan yang terus-menerus hingga umat menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya pandangan hidupnya dan syariat Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengatur seluruh perbuatannya.

Ketiga: Harus ada entitas Islam (ulama, parpol Islam, ormas Islam, gerakan Islam, dan seluruh elemen umat Islam) yang senantiasa menjelaskan kepada umat dan seluruh elemen bangsa ini bahwa ancaman sesungguhnya terhadap bangsa dan negara ini adalah kapitalisme sekuler beserta turunannya, bukan syariat Islam dan pejuang Islam.

Dengan begini, umat Islam akan tahu siapa yang harus dibela dan siapa yang harus dilawan. Selanjutnya, umat Islam akan ikhlas dan rida untuk berjuang bersama-sama.

Saatnya Berjuang Bersama

Telah sangat jelas, musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti untuk menyerang Islam dan berupaya mengelabui umat Islam.

Melalui berbagai propaganda, mereka menakut-nakuti umat serta membendung perjuangan umat Islam yang hendak mewujudkan tegaknya syariat kafah di muka bumi ini. Tujuannya sudah sangat jelas, yaitu menjauhkan umat Islam dari kemuliaan Islam itu sendiri.

Sudah seharusnya kaum muslimin sadar akan bahaya tipu daya mereka yang hendak menjauhkan umat dari Islam dan ajarannya yang mulia.

Menjadi kewajiban para ulama, mubalig, dan para dai selaku pelita umat untuk bersuara keras menentang tipu daya mereka dan menjelaskan berbagai penyesatan yang dilakukan musuh-musuh Islam ini ke tengah-tengah umat, sehingga umat memahaminya.

Kemudian, berjuang bersama-sama dengan umat, bersatu padu dan bergandengan tangan untuk berjuang menyongsong datangnya pertolongan Allah, yaitu dengan tegaknya hukum-hukum Islam dalam naungan Khilafah. [MNews/Gz]

Klik >> #100TahunTanpaKhilafah #ReturnTheKhilafah

Tinggalkan Balasan